Khawatir Sekolahkan Anak ke SMK Brutal


AKIBAT kerapnya aksi tawuran pelajar, kini masyarakat Cianjur, khususnya para orang tua malas dan khawatir jika menyekolahkan putra dan putrinya masuk ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Mereka akui takut anaknya jadi korban aksi tawuran.

Laporan: Mamat Mulyadi, Cianjur

SUNGGUH prihatin dan miris bila melihat kondisi dunia pendidikan di Kabupaten Cianjur, khususnya menelisik keberadaan perilaku tak wajar dan brutal sekelompok pelajar SMK sudah sudah mencederai dan mengotori dunia pendidikan di Cianjur.
Secara tidak langsung dampaknya begitu luas, tentunya sangat mencoreng nama baik sekolah di mana almamater mereka belajar. Pertanyaanya apa yang diperebutkan para pelajar bengal tersebut? Sebab imbas dari aksi kekerasan antar mereka ternyata malah menelan banyak tumbal. Bila kondisi ini terus dibiarkan, maka imbasnya akan semakin menjadi-jadi dan tambah brutal.
"Jangan sampai Kota Cianjur yang pernah memiliki julukan sebagai Kota Santri, berubah jadi 'Kota Tawuran' akibat ulah segelintir atau sekelompok oknum pelajar tak bertanggungjawab," kata Pengamat Sosial Cianjur Ujang Saefullah.
Bukanlah hal yang mudah dan gampang melerai aksi anarkis yang dilakukan sekelompok pelajar SMK di Cianjur saat ini. Perlu kerjasama berbagai pihak, jangan sampai terus menjamur dan marak. Ya sehingga terus saja satu per satu pelajar tewas.
Bahkan masyarakat Cianjur, kini seakan sudah muak dan geram akibat tingkah laku para pelajar yang tak bertanggungjawab. Jadi ini salah siapa? dan apa yang mereka perebutkan kekuasaan, ketenaran, sensasi atau hanya ingin sekedar eksis saja. "Kami sangat menyayangkan sikap dan perilaku dilakukan oleh oknum pelajar SMK saat ini. Tidak bermoral dan bukan mencerminkan seorang pelajar. Seharusnya tugas seorang pelajar itu membaca dan belajar. Eh ini malahan jadi jagoan," cetus Ujang lagi.
Entah apa yang diperebutkan oleh oknum pelajar, balas dendam atau ada sesuatu yang diinginkan dalam jati diri mereka, tampil eksis jadi jagoan. Belum juga satu bulan dari saat ini, tawuran pelajar yang tewaskan pelajar dari SMK PGRI III (Oto) dan SMK Ar Rahmah (2SK/Stekmal). Kini terulang kembali, tewas satu pelajar lagi.
"Seakan-akan tidak jera dan kapok. Apakah pihak sekolah dan Dinas Pendidikan (Disdik) Cianjur yang lalai. Pasalnya aksi brutal dan anarkis tawuran pelajar selalu saja tak bisa dilerai," ungkapnya.
Aksi tawuran pelajar SMK di Cianjur saat ini sudah meresahkan, mencederai, mengotori, dan mencoreng nama baik dunia pendidikan di Kabupaten Cianjur. Selalu terngiang kabar berita burung, sekelompok oknum pelajar sering tauran misalnya pelajar dari SMK Ar-Rahmah (2SK/Stekmal), SMK PGRI III (Oto), SMK Negeri I (Nazi) Cilaku, dan SMK lainya yang paling santer saat ini.
"Titik daerah rawan tawuran pelajar, Jalan Pramuka, Jalan Lingkar Timur (JLT), Jalan Raya Bandung, dan beberapa titik pertigaan di Cianjur Timur lainnya. Utamanya tempat yang sepi dan jauh dari keramaian warga. Tapi yang terjadi ada juga di lokasi keramaian misal di Jalan Raya Sukabumi seakan mereka tak jera dan takut," ujar Dasep Saparudin (40) alumni STM Stekmal.
Menurut Dasep seorang alumni STM Cianjur mengaku saat sekolah dulu dirinya tidak seperti pelajar SMK saat ini, ada yang korban berjatuhan satu persatu. "Dulu belum pernah ada yang tewas, tidak membawa senjata tajam dan takut sama guru. Ya meskipun senakal apapun juga kita selalu tunduk dan patuh, tapi heran saat ini begitu anarkis, kejam, dan brutal perilaku buruk dilakukan oleh sekelompok pelajar tak bertanggungjawab. Itu mencoreng nama baik sekolah, dan dunia pendidikan di Cianjur," ungkapnya.
Sementara upaya berbagai pihak baik itu masing-masing sekolah, Kepolisian, TNI, Dinas Pendidikan (Disdik) Cianjur, Pemkab Cianjur, dan bahkan DPRD turun tangan berikan komentar atau tanggapan mencari jalan solusi terbaik.
Dinas terkait lainnya telah melakukan pembinaan dan pelatihan perilaku karakter. Namun sayangnya semua tak ada hasil dan sia-sia. Tetap saja korban tawuran antar pelajar SMK di Cianjur terus menelan korban, hingga tewas satu per satu. "Saya juga heran dan tak masuk diakal? harus bagaimana lagi, sehingga malas untuk masukan putra putri bersekolah ke SMK. Jadi khawatir dan takut menjadi korban tawuran atas kekejaman oknum pelajar tak bermoral," ungkap YN (48) orangtua siswa putranya sekolah di STM Oto.(**)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top