Pengurus PARFI Cianjur saat soft launching di Langan Kreatif Joglo.

    CIANJUR-Pada penghujung tahun 2018, Pengurus DPD Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) Kabupaten Cianjur, akan menggelar Road Show (Safari) dengan menampilkan 60 judul Film Humor Sufie berjudul “Rumah Kita”.

    Rumah Kita, merupakan sebuah film jenaka namun sarat dengan pesan moral, bernilai filosofis, inspiring, tidak menggurui dan tidak ada benturan psykologis. “Ini sebagai karya besar dari para motivator ternama Indonesia beserta para Kyai dari Dewan Pakar PARFI yang dikemas dan diproduseri oleh DPP – PARFI,” ujar Sekertaris DPD PARFI Kabupaten Cianjur Abdul Malik. A.MI.

    Lebih jauh dikatakannya, bahwa film tersebut diharapkan dapat mengedukasi masyarakat Kabupaten Cianjur dengan bentuk kemasan yang menghibur. “Semoga ini dapat menghibur masyarakat Cianjur,” harap Abdul Malik A.MI.

    Pada kesempatan yang sama, Ketua DPD PARFI Kabupaten Cianjur Hendri Ardiansyah mengatakan, misi dari pagelaran film tersebut sesungguhnya sederhana saja. Karena diselenggarakan dengan konsep Layar Film Bioskop Keliling (Tausyiah Visual). Namun melalui pagelaran film tersebut diharapkan dapat memberikan motivasi dan pembelajaran khususnya kepada masyarakat Cianjur, tentang hidup dan berkehidupan secara Islami yang objektif dan sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW.

    “Kami DPD PARFI Kabupaten Cianjur ingin mengucapkan terima kasih kepada DPP-PARFI yang juga disponsori oleh DPP-GERAKAN 212 yang telah memberi kepercayaan untuk mengadakan acara pagelaran tersebut di Cianjur,” ujarnya pada acara soft launching di Taman Kreatif Joglo yang juga dihadiri pengurus DPP - PARFI beserta para artis dari Jakarta.

    Masih kata Hendri, sebagaimana diketahui, bahwa Cianjur dikenal sebagai Kota Santri yang penuh dengan nuansa Islami. Hal itu karena banyaknya pondok pesantren yang dibina oleh para Kiyai dana para Habaib yang cukup dikenal khususnya di Cianjur, yang tentunya akan menyambut baik dengan kehadiran acara pagelaran film tersebut.

    Oleh karena itu diharapkan kepada seluruh masyarakat terutama para remaja santriawan dan santriawati dapat turut serta menyambut kedatangan acara pagelaran film tersebut di desanya masing-masing. “Ini sebagai bentuk penyegaran dan edukasi ditengah nuansa remaja yang sudah pola pikir serba IT dan smart,” ucap Hendri Ardiansyah.

    Sekalipun acara soft launching tersebut terkesan sederhana namun nampak dihadiri oleh warga masyarakat yang antusias terhadap rencana pagelaran tersebut dan tidak ketinggalan para anggauta FORSA (Fans Of Rhoma And Soneta) pun turut hadir. Dan ketika para awak media bertanya tentang kenapa pagelaran tersebut diadakan di tengah tahun politik? Abdul Malik selaku sekertaris kembali mengatakan.

    “Di tahun politik ini apapun yang akan kita lakukan tentu akan dimaknai sebagai bentuk politik, tetapi sesungguhnya justru pagelaran ini diadakan adalah sebagai penyejuk di tengah panasnya tahun politik, lebih-lebih pada 22 Oktober ini merupakan hari santri nasional, sehingga dapat menjadi tontonan alternatif bagi masyarakat khususnya di Kabupaten Cianjur.

    Dan dari ke 60 judul film tersebut akan digelar sebanyak 5 (lima) judul dalam 1 x pagelaran di tiap desa. Namun begitu film tersebut akan diberikan kepada seluruh penonton hadir secara berkala 1 (satu) judul setiap minggu sebagai bentuk cindera mata yang akan dishare lewat hand phonenya masing-masing secara cuma-cuma,” pungkas Abdul Malik.(jun)

    ,

    BERAKSI: Atlet berkuda Cianjur Auria Irene Kansha dengan kudanya si Keling, tengah menaklukan rintangan dalam lomba

    BOGOR - Pengurus Cabang (Pengcab) Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Kabupaten Cianjur kembali raih satu medali pada Pekan Olahraga Daerah (Porda) Jawa Barat ke XIII tahun 2018.

    Setelah sebelumnya berhasil meraih perunggu, kini giliran medali perak yang digondol atas nama Muhammad Akbar Maulana dengan kuda bernama Camelias, Kamis (11/10) di Kabupaten Bogor.

    ”Alhamdulillah kami berhasil mendapatkan satu medali lagi yakni perak untuk kategori dressage junior perorangan,” ujar Ketua Pengurus Cabang (Pengcab) Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Kabupaten Cianjur H Joko Purwanto.

    Ditambahkan Joko, Pordasi Cianjur hanya melakukan persiapan tiga bulan sebelum berkompetisi di Porda Jabar 2018. Selain itu, tidak adanya sarana latihan, memaksa atlet Cianjur harus berlatih di Jakarta. Meski demikian tidak menyurutkan semangat untuk berprestasi.

    ”Ini prestasi yang membanggakan bagi Kabupaten Cianjur. Karena meski kepengurusan baru diresmikan bulan April 2018 lalu, tapi Pordasi Cianjur sudah bisa bersaing di tingkat Provinis Jawa Barat. Dan kami berharap masih bisa meraih medali di kategori lainnya,” ungkap pria yang juga anggota DPR RI Komisi VII F-PPP Dapil Jabar III Kabupaten Cianjur dan kota Bogor ini.

    Ditambahkanya, dalam pertandingan hari kedua Tim Pordasi Kabupaten Cianjur seharusnya memperoleh medali emas hari. Namun diduga adanya keberpihakan dewan juri Tim Pordasi Cianjur harus merasa puas hanya memperoleh perak.

    "Banyak peserta dari Tim kabupaten/kota lainnya sebagai Peserta Porda XIII Jawa Barat, sangat menyesalkan diduga adanya keberpihakan dewan juri dalam memberikan penilainnya, yang dirasakan memberikan perhatian lebih kepada Tim Pordasi Kabupaten Bogor selaku tuan rumah," sesalnya.

    Meski demikian Joko optimis, anak asuhnya masih bisa meraih beberapa medali. Lantaran masih ada beberapa kategori yang belum dipertandingkan.

    ”Pelaksanaan lomba ini sampai tanggal 14 Oktober dan kami targetkan satu medali emas pada kategori jumping,” pungkasnya.(radar cianjur/jun)

    ,

    Ketua Pordasi Cianjur Joko Purwanto mendapat kehormatan untuk memberikan medali kepada juara berkuda.
    CIANJUR-Warga Cianjur patut berbangga diri. Pasalnya salah satu cabang olahraganya berhasil meraih medali pada Pekan Olahraga Daerah (Porda) Jawa Barat ke XIII tahun 2018.
    Kali ini Kabupaten Cianjur berhasil raih medali perunggu pada Cabang Olahraga Berkuda Equestrian, Rabu (10/10) di Kabupaten Bogor.

    Ketua Pengurus Cabang (Pengcab) Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Kabupaten Cianjur H Joko Purwanto mengatakan, dalam Porda Jawa Barat 2018 ini, Kabupaten Cianjur mengirimkan perwakilan untuk lomba berkuda equestrian.

    "Ada tiga kategori lomba yang diikuti. Yaitu tunggang serasi (dressage) dan lompat rintangan (jumping) dan trilomba (eventing). Dan hari pertama ini Cianjaur meraih medali perunggu kategori Dressage Junior," ujarnya.

    Raihan itu atas nama Auria Irene Kansha dengan kuda bernama keling, Mia Andika dengan kuda bernama Achiless, Muhammad Akbar Maulana dengan kuda bernama Camelias dan Muhammad Akbar Kurniawan dengan kuda bernama Malika.

    "Alhamdulillah kami berhasil prestasi ini, meski pun ini yang pertama kalinya Cianjur mengirimkan perwakilan," ujar pria yang juga anggota DPR RI Komisi VII F-PPP Dapil Jabar III Kabupaten Cianjur dan kota Bogor ini.

    Dijelaskannya, meskipun Kepengurusan Pengcab Pordasi Kabupaten Cianjur terbilang masih muda, yakni dilantik pada bulan April 2018, namun sudah mampu berprestasi. Pihaknya optimis kedepan para atlet bisa terus berprestasi, tentunya ini tak lepas dari berbagai latihan yang rajin dilakukan para atlet.

    "Pelaksanaan lomba sendiri sampai tanggal 14 Oktober, dan Alhamdulillah baru hari pertama kami sudah mendapatkan satu perunggu. Kami optimis masih bisa mendapatkan beberapa medali. Tagetnya satu emas," tuturnya.

    Joko Purwanto menambahkan, untuk seluruh kebutuhan loma, dirinya berusaha mandiri agar tidak membebani pemerintah Kabupaten Cianjur. Namun selama ini pihaknya terus bersemangat untuk memajukan dan mengharumkan nama Kabupaten Cianjur.

    "Saat ini ada 12 atlet Cianjur untuk cabor Berkuda Equestrian. Kami harapkan kedepan adanya perhatian khusus Pemkab Cianjur dalam melakukan pembinaan atlet berpotensi dan atlet yang sudah berprestasi dalam kejuaraan," tuturnya.(jun)

    FOTO: DOK
    MAKKAH-Kabar duka kembali datang dari Jamaah Haji Cianjur, Rabu (22/8/2018) malam. Salah seorang jamaah di kloter 27, Kh Saepulloh Hanafiah Abdul Rozak (79) meninggal dunia lantaran sakit ginjal.

    Wakil Bupati Cianjur, Herman Suherman, yang juga satu kloter dengan jamaah tersebut menerangkan, sepuluh hari sebelumnya pimpinan pondok pesantren Al Huda, Bojong Gintung Desa Girimukti Kecamatan Campaka itu sempat menjalani operasi lantaran mengalami gangguan pada ginjal dan hati.

    Setelah itu, jamaah tersebut menjalani perawatan selama lebih kurang sepuluh hari pasca operasi di salah satu Rumah Sakit di Arab Saudi. Bahkan setelah operasi kondisinya terpantau terus membaik.

    “Saya juga sempat menjenguk, kondisinya saat itu membaik. Tapi pada Rabu (22/8) malam, sekitar pukul 22.00 WIB atau pukul 17.00 waktu Arab Saudi, beliau meninggal dunia. Jadi meninggalnya bukan saat kritis, namun setelah kondisinya membaik,” katanya mengabarkan saat dihubungi melalui telepon seluler, Kamis (23/8).

    Ia memaparkan, sebelumnya pun jamaah asal Cianjur ada yang wafat, yaitu Arief Hidayat bin Fadli (62), salah seorang jamaah haji yang berasal dari kloter 27, dilaporkan meninggal dunia di tanah suci, Minggu (5/8). Diduga meningalnya jamaah tersebut akibat penyakit jantung.

    “Total ada dua orang jamaah di kloter 27 ini yang meninggal. Namun dari kloter lain informasinya sehat,” ujarnya.

    Dia menambahkan, dua orang jamaah yang meninggal dunia tersebut langsung disalatkan di Masjidil Haram dan di makamkan di Arab Saudi.

    “Keduanya ini merupakan pendidik dan tokoh agama yang juga memiliki pondok pesantren, kita doakan agar mereka diberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya,” tutur Herman.

    Herman pun mengharapkan para jamaah bisa tetap sehat hingga kembali pulang ke CIanjur. Dia juga sudah mengimbau kepada jamaah untuk mengikuti aturan, termasuk saat pelaksanaan jumroh yang dilakukan pada Kamis (23/8).

    “Jam-jam padat jamaah diimbau untuk tidak diikuti, jadi mencari jam yang lengang untuk antisipasi hal yang tidak diinginkan. Terpenting semua ikut aturan, supaya selamat hingga pulang lagi ke tanah air dan kampung halaman,” pungkasnya.(ndk)

    ,

    CIANJUR- Sebagai salahsatu upaya untuk mengeliminasi Penyakit Tuberkulosis (TBC) yang merupakan salah satu penyakit penyebab kematian tertinggi di Indonesia bahkan Cianjur Kementrian Kesehatan bekerjasama dengan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Pusat, melaksanakan kegiatan sosialisasi dan pemberdayan melalui pelatihan kader TB di Wisma Kompas, Pacet. Senin (23/7).

    Koordinator SSR LKNU Region Cianjur, Sopwanudin mengungkapkan berdasarkan data yang terhimpun dari sistem informasi terpadu yang ada di Puskesmas yang tersebar di seluruh kecamatan dan desa penderita penyakit TB di Cianjur tahun 2017 berjumlah 11.239 orang.

    "Jumlah yang sangat besar itu menjadi perhatian kami, karena belum semua tertanggulangi dan tidak menutup kemungkinan masih banyak TB positif yang tidak terdata di puskesmas, maka selain optimalisasi dan advokasi atau pendampingan dalam penanggulangan penyakit, kader yang dibentuk ini akan mendata ulang orang yang belum masuk data dipuskesmas,"

    Menurut Sopwan, pihaknya melakukan upaya pemberdayaan melalui pelatihan kader TB, yang akan dilaksanakan di lima zona, salah satunya yang sudah terlaksana di zona II Cipanas.

    "Adapun tugas kader, melakuan advokasi komunikasi dan mobilisasi sosial, baik itu dalam penemuan kasus TB baru atau pun pengobatan kepada orang yang sudah terjangkit, dengan harapan penyakit TB bisa tereliminasi di tahun 2030," ujarnya.

    Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Cianjur, N. Efa Fatimah mengatakan, dari sepuluh penyakit penyebab kematian di Cianjur salahsatunya adalah penyakit TBC.

    "Sebetulnya banyak yang disinyalir mempunyai penyakit TB namun dari sekian banyak baru 30 orang yang seudah berobat," ungkapnya.

    Ia menyebutkan rata-rata usia penyandang penyakit TB berusia masih produktif, antara usia 15 tahun sampai 30 tahun.

    "Upaya pencegahan dan penangulangan penyakit TB sebetulnya seudah menjadi canangan pemerintah pusat dimulai dari pengobatan termasuk ini salah satunya dengan adanya sosialisasi tbc," katanya.

    Menurutnya, selain pengobatan dari pemerintah untuk  penyakit ini harus dimulai dari masyarakat, maka perlu adanya pemberdayaan masyarakat.

    "Dengan membentuk kader TBC para kader dapat mengadvokasi, membantu mengantarkan para penyandang penyakit TB maupun menggali orang-orang yang siapa tau terjangkit TB. Jadi eliminasi ini akan berkurang dan dapat tereliminasi sesuai dengan program pemerintah," tandasnya. (Rc)

    ,


    CIANJUR - Kota Cianjur terkejut. Hujan yang turun di Jumat sore hari (22/6) sekitar pukul 17:00 ternyata mampu membuat sejumlah ruas jalan protokol di Kota Cianjur tergenang air. Tak hanya itu, selasar di RSUD Cianjur pun tak luput dari serangan banjir.

    Banjir sempat membuat sejumlah jalan tergenang sehingga membuat pejalan kaki dan kendaraan sulit melintas. Seorang pengendara motor, Dang Hendra (39) mengatakan, luapan air sempat membuat sejumlah warga panik dan menyulitkan dirinya saat melintasi Jalan HOS Cokroaminoto. Padahal, saat itu tengah ramai akan aktivitas warga.

    “Tentunya mengganggu. Perlu hati-hati dan waspada bila melintas. Karena rawan akan kecelakaan,” katanya diamini Yanti Hidayat (40) warga lainnya dari Kelurahan Sayang, Kecamatan Cianjur.

    Warga menilai, banjir timbul akibat sistem drainase yang sudah tidak baik sudah dangkal dan juga got atau gorong-gorong terlalu kecil sehingga mudah dipenuhi tumpukan sampah.

    “Motor yang mogok banyak. Mesin kendaraan terendam air. Banjir tingginya sekitar kaki lutut orang dewasa,” ungkapnya.

    Agus Irwansyah (38) pengendara motor lainnya memaparkan, saat hujan deras tiba-tiba air meluap dan membanjiri jalan. Bahkan pengemudi motor harus menepikan kendaraannya karena khawatir terbawa arus. Memang benar, ada satu unit mobil terparkir terendam bajir dibiarkan begitu saja sama pemiliknya.

    “Kemungkinan banjir terjadi, akibat buruknya drainase, terutama pembangunan mengenai gorong-gorong itu kurang lebar atau asal jadi,” pungkasnya.

    Menanggapi banjir yang menyelimuti Kota Cianjur kemarin, Kepala Badan Penanggulangan dan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, Dodi Permadi menjelaskan, penyebab banjir yaitu air hujan yang memenuhi got atau gorong-gorong dan tidak tertampung sehingga menyebabkan banjir dadakan.

    Namun, pihaknya selalu antisipasi, berusaha dan tetap waspada 24 jam bilamana ada hal atau kejadian bencana alam.

    “Kita akan jemput bola membantu, dan langsung bergerak ke lokasi kejadian. Selain banjir, ada dua pohon tumbang langsung bergerak tim BPBD ke lapangan untuk membantu,” katanya kepada Radar Cianjur.

    Masih menurut Dodi, bahkan ada salah satu pengendara motor yang tertimpa pohon tumbang di Desa Bojong, Kecamatan Karangtengah dan sudah dibawa ke RSUD Cianjur untuk mendapatkan perawatan medis.

    Menurutnya, banjir yang mengepung Cianjur kemarin masih bisa diatasi dan tidak masuk banjir yang berbahaya.

    “Hanya beberapa jam saja sudah mulai surut kembali, tidak ada hal diharapkan terjadi. Hanya saja kendalanya mungkin banyaknya tumpukan sampah yang mampet di got. Mengenai pembangunan asal-asalan tidak mau komentar. Ya, karena ranahnya bukan dari BPBD kita hanya membantu dan memantau benacananya saja,” jelasnya. (rc)

    ,


    Jakarta - Sekretaris Jendral PB PMII Sabolah El - Kalambi ‎singgung soal Import garam ditengah melimpahnya kekayaan maritim. Ia membuktikan bahwa pengelolaan kekayaan maritim belum optimal. Ia mempertanyakan apakah ada kaitannya dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia ataukah tidak.‎

    "‎Kita tanyakan langsung kepada kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia," ungkap Sabolah saat Persentasi‎ pada Tadarus Maritim yang dilaksanakan di Graha Mahbub Junaidi Jalan Salemba Tengah, Jakarta Pusat 2 Juni 2018 Silam.

    Sebelumnya, Ia mengapresiasi adanya Tadarus Maritim yang digagas oleh Ketua Bidang Kemaritiman‎ Sahabat Ayi Sopwanul Umam karena selain membuka ruang wacana soal kekayaan maritim inipun akan menjadi pecutan supaya generasi muda ingin melaut.

    "Saya apresiasi kegiatan ini kemudian kami ucapkan terimakasih kepada KKKP dan pihak lain yang terlibat dalam acara ini," ucap Pria Aktivis Asal NTB yang kini jadi orang kedua di PB PMII. ‎

    Sementera itu, ‎Dirjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan RI M Zulfikar. optimis organisasi sebesar PMII berpeluang besar dalam mengelola  potensi laut yang selama ini belum tergarap secara optimal.

    Ia menyayangkan potensi laut banyak dicuri oleh asing ia memastikan belakangan ini tidak kurang 7 ribu kapal asing terbukti salah berlalu lalang  mencuri ikan dilaut lepas Indonesia.

    ia bercerita soal potensi maritime yang banyak ditinggalkan oleh generasi muda. menurutnya selama ini  stigma laut menakutkan, menyeramkan dan stigma tersebut masih tertanam di benak generasi muda kebanyakan.

    “Sehingga potensi kekayaan laut ditinggalkan, akibatnya tidak banyak masyarakat kita yang melaut, menjadi pengusaha di laut dan justru orang – orang asing yang menguasainya. pemahaman ini harus tertanam karena laut adalah masa depan kita,” ungkap

    Oleh karenanya Kementerian Kelautan dan Perikanan RI menyambut betul inisiatif PB PMII yang akan melangsungkan pelatihan kader maritim pada Juli 2018 mendatang. dalam rangka menyiapkan generasiuntuk  mengelola potensi kekayaan maritime.

    “Kesadaran ini perlu kita tanamkan karena kalau kita memegang potensi kekayaan laut. Negara kita akan menjadi super power inilah yang ditakutkan oleh bangsa lain makanya sejak dari awal kita dibius dengan bercocok tanam dan laut di tinggalkan,” ucapnya.

    Sementara itu, Ketua PB PMII Bidang kemaritiman Ayi Sopwanul Umam menyatakan Sekolah kader Maritim ini akan di laksanakan pada Juli 2018 mendatang yang akan tersebar di berbagai Zona dimaksudkan untuk membekali kader – kader PMII dalam mengelola laut.

    “Peluang besar ini mesti kita sambut dengan menyiapkan sumber daya manusia dengan kompetensi yang memadai,” ungkapnya.

    selain itu, mulai saat ini bidang kemaritiman PB PMII mengintruksikan khususnya kepada kader – kader PMII agar senantiasa mengkonsumsi ikan hasil tangkap nelayan agar nilai ekonomi bagi nelayan bisa meningkat secara signifikan. (Rc)




    ,

    Gambar terkait

    CIANJUR-Rencana Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat (Jabar) untuk merubah nama-nama SMK di Kabupaten Cianjur menuai perhatian dari pengamat pendidikan.

    Perubahan nama ini dinilai berpotensi akan menyulut permasalahan. Namun, kendala ini dianggap hanya tejadi di awal saja dan membutuhkan adaptasi.

    Pengamat Pendidikan, Suganda mengatakan, Disdik Jabar memiliki kewenangan dalam mengatur sekolah-sekolah yang ada di wilayahnya. Berhubung daerah-daerah sudah menginduk pada provinsi maka mau tidak mau harus mengikuti.

    “Kalau dulu setiap sekolah menggunakan nama kecamatan dan bahkan kabupaten tapi sekarang angka yang menjadi nama sekolah. Dampak yang dirasakan oleh masyarakat tentunya akan sangat kerepotan karena mereka akan mengalami berbagai perubahan dari segala sisi dari penyeragaman nama sekolah ini,” jelasnya saat dihubungi oleh Radar Cianjur.

    Ia menjelaskan, ragam masalah itu berangkat mulai dari administrasi, data, kelengkapan sekolah seperti kop surat, sampul rapot, stempel sekolah dan lainnya akan ikut berubah. Karena sekolah harus benar-benar siap atas perubahan ini.

    “Tak hanya bagi warga sekolah saja yang akan mengalami dampaknya, alumni sekolah juga bisa mengalaminya seperti saat mereka akan melakukan legalisir. Tentunya alumni tersebut harus ikut serta mengganti ijazah atau dokumen lainnya. Tapi memungkinkan juga sekolah untuk memberikan legalisir dengan stempel nama sekolahnya yang dulu,” tuturnya.

    Menurut Suganda, penyeragaman nama sekolah ini merupakan hal baik karena dirinya yakin bahwa apa yang dilakukan oleh Disdik Jabar merupakan hal yang sudah diperhitungkan secara matang.

    “Disdik Jabar tidak sembarangan tentunya dalam melakukan sebuah tindakan, meski banyak hal ruwetnya tapi kita tetap harus mentaati kewenangan yang dikeluarkan oleh Disdik Jabar. Banyak sekolah yang akan kerepotan saat merasakan kewenangan ini tapi seiring waktu mereka akan terbiasa,” pungkasnya.(rc)

    , ,



    CIANJUR-Jelang hari raya Idul Fitri harga bahan pokok sudah mulai meroket, namun Ketua Faksi Hanura MPR RI, DR Capt Djoni Rolindrawan menjamin ketersediaan bahan pokok dan harga bahan pokok akan tetap stabil.

    "Semua kebutuhan masyarakat akan terpenuhi bahkan bisa dikatakan akan surplus, termasuk beras dan daging," ungkap politisi Partai Hanura pada acara Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Wisma Sinarkasih, Pacet, Rabu (30/5).

    Dari kesiapan bulog, menurutnya ketersediaan beras dan daging sudah nampak, bahkan menurut penuturan dia, bahwa hasil rilis Kementrian Pertanian, hasil panen di tahun ini aka cukup bahkan surplus untuk ketersediaan beras, ditambah dengan kebijakan inpor beras yang dilakukan oleh Kementrian Perdagangan hingga satu juta ton beras.

    "Bulog sepertinya akan terjun jika diminta dan dibutuhkan untuk oprasi pasar, bahkan untuk ketersediaan beras bulog sudah 10 persen menguasai beras nasional. Itu sudah sangat cukup," tandasnya.

    Ia menegaskan, yang harus dilakukan oleh pemangku kebijakan saat ini adalah menjamin keterjangkauan harga supaya tetap setabil, dimulai dari pengawasan harga pasar, supaya tidak ada cukong yang ingin memainkan harga.

    "Ketercukupan persediaan bahan pokok ini tidak lantas kita lepas kontrol dengan harga, sebab yang mesti dilakukan kali ini adalah ngontrol harga, dan menidak tegas para pemain pasar untuk tidak mempermainkan harga," tegas legislatif dari daerah pemilihan Kabupaten Cianjur dan Jawa Barat ini.(rc)

    ,



    CIANJUR - Pembangunan tugu di Cianjur kembali jadi buah bibir masyarakat. Kali ini yang jadi sasaran tugu mangkok bubur ayam yang terdapat di pertigaan Kecamatan Pacet.

    Sama dengan tugu lainnya yang dibangun pemerintah Cianjur, tugu mangkok bubur ayam jadi perbincangan di media sosail yang dinilai tidak memiliki filosofi dan melanggar estetika.

    Budayawan Cianjur Eko Wiwit Estetika terkait pembangunan tugu di Cianjur, selama ini tidak pernah mendasar atau berdasar alias asal jadi dengan judul tugu, tanpa memikirkan filosofi dan nilai sejarah dari tugu tersebut.

    "Apa makna dari mangkuk bubur ayam yang dijadikan tugu dipertigan Jalan Raya Pacet itu, apakah ada sejarah yang mendalam dari mangkuk bubur tersebut, sehingga terbentuknya Kota Cianjur. Saya berharap di tempat kelahiran saya di Cianjur, tepatnya Kawasan Puncak-Cipanas, Cianjur. Ada monumen atau tugu, dengan sosok atau objek dalam dua hal pokok tentang sejarah atau ketokohan yang menjadi legenda," ujar Eko.

    Menurut Eko sosok Dalem Cikundul yang digambarkan dengan cerita "Kuda Kosong" maka kuda sebagai identitas, legenda Cianjur yang berkaitan dengan Cikundul dan Gunung Gede atau sosok Presiden Pertama Indonesia, Soekarno, yang banyak kisah hidup di Cipanas.

    Bahkan tambah dia, fakta ada tempat khusus peninggalan Soekarno di Istana Cipanas (Gedung Bekas Belanda) dan Tugu Taruna Giri di Ciloto-Puncak serta banyak cerita tempat singgah sang Proklamator di Cianjur.

    "Kenapa tidak flora dan fauna yang ada di Kawasan Puncak Cianjur yang identik dengan kawasan hijau dan hutan belantara bisa dijadikan simbol dalam membuat monumen atau tugu di Kawasan Cipanas," katanya.

    Hal senada terucap dari berbagai tokoh muda di Cianjur, mereka berharap pembangunan tugu atau monumen harus berdasarkan estetika dan kajian mendalam tidak asal bangun karena mengunakan dana terlepas dana APBD atau hadiah.

    "Sepertinya Cianjur sedang demam membuat tugu, tapi tidak masalah kalau memang jelas tujuan dan bentuknya. Alangkah baiknya tugu tersebut yang berkaitan dengan tempatnya berdiri karena di Pacet kenapa tidak sayuran atau bunga," kata Ival Taufik pelaku seni Cianjur.

    Salah satu Karatuan Majelis Adat (MA) Gagang Cikundul, Susane F mengatakan, harus mengetahui secara detail apa fungsinya, ada beberapa jenis tugu, dan tugu berfungsi sebagai tanda kekhasan suatu daerah. Jadi harus dipahami, sekarang bubur ayam asal usulnya darimana. Nyangkut ke Cianjur darimana, mangkuknya darimana.

    "Ya, mungkin menilai berdasarkan sejarah Tionghoa memang berkembang di Cianjur," kata dia.

    Masih menurut Susane, mengenai sejarah mangkuk ayam itu pas zaman Dinasti Ming. Jadi sepertinya Tugu tersebut ingin mengarah kesana, asal usul keberadaan Tionghoa di Cianjur. Artinya bisa saja pendapatnya akan menjadi kontroversi.

    "Karena bubur ayam atau mangkuk ayam merah ini adalah asal usulnya dari Tionghoa, dalam sejarah memang membantu secara ekonomi di Cianjur pada tahun 1.800, Makanya ada Toko Shianghai, Wisma Karya dan lainnya, itu semua bukti China berkembang di Cianjur. Zamannya Aria Wiratanu VI," ujar, Susane.

    Sementara itu, Budayawan Cianjur Abah Ruskawan menilai, setiap pembangunan di daerah itu bukan untuk pemerintah tapi untuk rakyat.

    "Sudah banyak pembangunan tugu yang menuai protes. Harusnya itu dijadikan peringatan. Pemerintah juga harsnya nanya dulu ke masyarakat," ujarnya.

    Abah menyarankan kepada pemerintah untuk melakukan kajian akademis terlebih dahulu sebelum melakukan pembangunan.

    "Apa pun pembangunannya itu harus melakukan kajian akademis serta visibility harus jelas," tegas Abah.(mat)

    ,


    Hasil gambar untuk pc nu cianjur

    CIANJUR - Pengurus Cabang Nhadlatul Ulama (PC NU) Kabupaten Cianjur, berpendapat rilis 200 Mubalig yang direkomendasikan kepada masyarakat dari Kementrian Agama, kurang tepat, dan akan menjadi masalah buat kemenag bila tidak segera dinetralisir.

    "Seharusnya Kemenag tidak merilis daftar mubalig tetapi mengeluarkan kriteria mubalig. karena mubalig itu bukan profesi, orang yang menjadi panutan masyarakat dalam syiar agama," ungkap Ketua PC NU Kabupaten Cianjur, KH. Chairul Anam Mzd. saat diwawancarai RC. Minggu (20/5).

    Ia mengatakan, 200 mubalig yang dirilis Kementrian Agama pusat, dan diangap tidak perlu, dan Kemenag harus mempertimbangkan kembali hasil rilisannya.

    "Kemenag pusat hanya merekomendasikan 200 mubalig terlalu sedikit, sebab di Cianjur saja lebih dari 200 Mubalig yang secara keilmuannya cukup mempuni, kami kira kemenag tidak perlu mengeluarkan rilis itu," ungkapnya.

    Menurutnya, Alangakh lebih tepat jika Kemenag mengeluarkan Kriteria mubalig yang baik, untuk direkomendasikan kepada masyarakat, bukan rekomendasi mubalig.

    "kalo keiteria mubalig, yang dikeluarkan itu bisa menjadi rujukan," tegasnya.

    Sementara itu, Wakil Ketua PC NU  Kabupaten Cianjur, KH. Pipin S. Aripin mengatakan, Kemenag harus segera menetralisir perihal data mubalig tersebut, sebab menurutnya akan menimbulkan pretensi buruk bagi  masyarakat luas.

    "Hal ini akan memunculkan stigma dari masyarakat dikotomi antara mubalig plat merah dan mubalig plat hitam. Meskipun demikian hal itu jangan sampai mengandorkan semangat dan keikhlasan para mubalig di daerah yang bersentuhan langsung dengan umat," tegasnya.

    menurutnya mubalig bukan hanya sekedar seorang pendakwah, tugas mubaligh melakukan syiar agama islam dan pengabdian terhadap masyaraka.

    "Pada hakikatnya seorang mubalig tidak diseleksi oleh negara tetapi diseleksi oleh kepercayaan masyarakat, lakukan lah dakwah dengan ikhlas," tandasnya. (RC)

    ,

    ilustrasi
    CIANJUR - Dalam menjalankan puasa mungkin bagi umat Islam yang sudah terbiasa tidak ada kendala. Namun bagaimana dengan seorang mualaf yang baru pertama kali menjalani ibadah puasa. Seperti yang dijalani Stephen Sanjaya (19).

    Pria yang akrab disapa Stephen pernah hidup dalam kebingungan yakni karena kedua orangtua yang berbeda agama, ayahnya yang merupakan seorang Katolik dan ibunya yang merupakan seorang Islam. Hal ini membuat Stephen merasa bingung lantaran karena merasa tidak jelas.

    Stephen yang tinggal di Kampung Rawa Belut, Desa Cibadak, Kecamatan Pacet, Cianjur ini mengaku, selama itu agama yang dianutnya adalah atas kemauan saudaranya.

    “Saat saya pulang kampung ke keluarga mamah, saudara dari mamah menyuruh saya mengaji, salat dan pergi ke masjid. Dan saat pergi ke saudara papa pun saya disuruh pergi ke gereja. Sayapun mengikuti kedua hal itu,” jelasnya.

    Saat melakukan hal itu juga dirinya tidak merasa ingin mecari tahu kenapa dan mengapa, hanya merasa bingung dan akhirnya menikmatinya.

    Ketika usianya menginjak 17 tahun, Stephen merasa dirinya sudah dewasa dan mulai memutuskan untuk memilih salah satu agama dari kedua orangtuanya.

    “Saya seperti mempelajari kedua agama itu dan saya terus memahami diantara kedua agama itu. Berbagai pertanyaan dibenak saya tentang kepercayaan mulai muncul. Saat itu saya memiliki keraguan tentunya dan hari itu nenek saya telah mencerahkan keraguan saya,” kata Stephen.

    Dua kalimat Syahadat diucapkannya begitu tulus dan menandakan bahwa dirinya telah menjadi seorang muslim. “Saat saya sudah menentukan agama saya, alhamdulillah respon mereka baik semua dan gak neko-neko,” ujarnya.

    Stephen yakin bahwa Allah SWT menyayanginya, hal ini dia rasakan dari perubahan yang dia rasakan. 

    “Intinya Allah SWT sayang pada saya dan Dia beri jalan untuk saya kembali pada jalan-Nya,” ungkap Stephen dengan tegas.

    Pengalaman yang tak pernah dia rasakan sebelumnya pun akhirnya dia rasakan, seperti berpuasa di bulan Ramadhan.

    “Pastinya kaget pas pertama karena laper dan haus banget, sempet pengen godin tapi alhamdulillah godaan-godaan itu pergi, kebetulan saat ngerasain puasa pertama kali itu saat itu saya sedang sekolah dan sedang diklatsar kewiraan dimana harus berpuasa sambil merasakan pendidikan dari kewiraan, yang tergeregetnya adalah masuk nyebur balong terus dijemur di lapang dan banyak melakuakan aktivitas beratnya saat kewiraan,” paparnya.

    Selain menahan diri dari godaan alias puasa, Stephen juga melakukan budaya ngabuburit.

    “Biasa pergi main dengan kawan-kawan untuk motor-motoran karena kebetulan saya juga ikut dalam komunitas motor. Biasanya nongkrong sama temen-temen maen gitar-gitaran. Tapi ngabuburit yang paling simpel dan sering buat saya adalah tidur,” jelasnya.

    Godaan terberat bagi Stephen saat puasa pertamanya adalah melihat kawan-kawannya makan di depannya.

    “Temen-temen juga ada yang gak puasa waktu itu dan mereka cuek-cuek aja makan di depan saya. Meski mereka nawarin tapi tetep saya tolak, itulah godaan terbesar saya melihat orang makan,” ungkap Stephen.

    Stephen juga mengatakan, setelah masuk Islam hidup saya menjadi lebih bahagia dan terarah.

    “Yang jelas saya senang dan bangga masuk Islam karena menjadi salah satu bukti kebaikan Allah telah tuntun saya,” pungkasnya. (RC)

    GEKBRONG - Satu unit sepeda motor, milik Iyus (34) waraga Cibeleng Girang, Desa Sukaratu, Kecamatan Gekbrong, Cianjur hilang saat ditinggal salat tarawih, Rabu (16/05/2018).

    Berdasarkan informasi yang dihimpun sepeda motor Honda Beat F 2095 XM berwarna putih biru itu hilang saat diparkir di halaman rumah pemiliknya.

    “Saat itu memang pintu pagar pak tak dikunci,” kata Iyus saat ditemui dirumahnya, Kamis (17/05/2018).

    Iyus menjelaskan motor tersebut mulai diparkir di pekarangan rumahnya sekitar pukul 16.00 Wib, kemudian ia pergi kemasjid untuk melaksanakan salat tarawih sekitar pukul 19.00 Wib, dan ia pun sempat memerikasa kunci stang motor, setelah itu ia pun pergi meninggalkan motornya yang terparkir di depan rumah.

    “Saat saya pergi motor dalam kedaan dikunci stang, namun pintu pagar gak dikunci, karena biasa juga suka begitu,” jelasnya.

    Menurut Iyus, kawanan pencuri tersebut berhasil menggasak sepeda motornya diperkirakan sekitar pukul 20.00 Wib, dan ia baru mengatuai kejadian itu sekitar pukul 20.30 Wib setelah pulang melaksanakan salat tarawih.

    “Saya kira mereka berhasil membawa motor saat hujan deras pukul 20.00 Wib, sehingga istri saya yang ada di dalam rumah pun tak mendengar apa-apa karena tertutup suara gemuruh hujan,” kata Iyus.

    Ia mengatakan kasus hilangya sepeda motor tersebut sudah dilaporkan ke Polsek Warungkondang, dan saat ini pihak kepolisian sedang melakukan penyelidikan.

    “Sempat juga ada tukang ojek yang melihat seseorang mengendari motor saya melaju dengan kecepatan tinggi kearah Jalan Raya Cianjur-Sukabumi,” pungkasnya. (RC)

    ,

    Peduli Surabya, PMII dan GKI Cianjur Lakukan Ini

    CIANJUR - Pengurus Cabang PMII Kabupaten Cianjur mengutuk keras aksi teror yang dilakukan oleh sekelompok orang di Surabaya beberpa hari lalu. Kelompok itu tak segan mengatasnamakan agama dan dinilai sangat keji serta tidak berkeprikemanusiaan.

    Peduli dengan Surabaya, sejumlah masyarakat dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Cianjur dan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Cianjur menggelar aksi menyalakan lilin di lapangan parkir Hypermart, Jalan Abdullah bin Nuh, Selasa (15/5/2018).

    ”Kelompok yang melakukan aksi teror dengan mengatasnamakan agama Islam tersebut hanya kelompok sempalan yang tidak memiliki pemahaman agama yang konfrehensif dan salah dalam memaknai jihad, mereka kelompok bermanhaj takfiri yang kerjaannya mengkafirkan orang Islam,” ungkap Ketua Cabang PMII Kabupaten Cianjur, Sopwanudin.

    Sopwan menjelaskan, ada perbedaan antara Walliyullah atau walisongo dengan wali jenggot yang tidak membenarkan dakwah dengan cara kekerasan.
    ”Ini bedanya walisongo dengan wali jenggot, Wali songo mengislamkan orang kafir dengan cara didakwahi pelan-pelan hingga masyarakat Nusantara menjadi Islam hampir 90 persen, sedangkan kelompok terorisme mengkafir – kafirkan orang Islam,” ungkapnya.

    Oleh karena itu, PMII selaku kelompok Nahdliyin di kalangan mahasiswa sangat mengutuk keras adanya dakwah dengan cara-cara yang tidak manusiawi mengedepankan kekerasan (radikalisme) karena sangat bertentangan dengan ajaran Islam Ahlusunnah Waljamaah Annahdliyah secara keseluruhan.
    ”NU mengajarkan kita agar berdakwah dengan tutur kata yang baik (Mauidzotul hasanah) dan contoh-contoh yang baik (Uswatun hasanah) karena Islam sesungguhnya agama perdamaian dan menebar kedamaian untuk seluruh alam atau (rahmatalil alamin) bukan rahmatan lilmuslimin,” tuturnya.

    Sementara itu, PMII Cabang Kabupaten Cianjur selama ini terus berupaya secara intens melakukan kaderisasi di kampus-kampus dengan mengajarkan nilai-nilai Islam Ahlusunnah Waljamaah yang mengedepankan kesantunan dalam berdakwah dan menjadi jalan tengah dan pencerah ditengah maraknya paham yang berkembang yang mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara.

    ”PMII Hadir dikampus-kampus dengan kegiatan kajian intelektual supaya mahasiswa tidak terjangkit pemahaman-pemahaman radikalisme,” paparnya.

    Saat acara aksi tolak terorisme puluhan aktivis PMII Cianjur berkumpul dan mengkampanyekan bahaya terorisme dengan menyalakan lilin di tengah-tengah keramaian kota Cianjur meraka menghimbau agar masyarakat tidak takut akan terorisme tetapi siaga dan bisa interaktif dengan aparat keamanan.

    ”PMII Cianjur mendukung full kerja-kerja pihak kepolisian selain itu PMII secara tegas dan lantang tidak takut dengan adanya aksi teror,” tegasnya.

    Selain dihadiri oleh anggota PMII Cabang Kabupaten Cianjur, pada kesempatan itu hadir pula perwakilan dari GKI Cianjur. Pendeta Hendra menuturkan, kejadian ini menjadi duka sangat mendalam khususnya bagi umat Kristen tentunya itu sangat memberikan luka duka.

    ”Kami sering berpesan terorisme itu berkesan sadis, tapi dengan acara ini kami merasakan tidak sendiri bahwa masih ada peduli dan berpihak kepada kami contohnya seperti rekan-rekan PMII Cabang Kabupaten Cianjur,” jelasnya.
    Ia meyakini bahwa aksi teroris ini bukan dilakukan oleh umat Islam, dengan acara ini seakan-akan memberikan kesejukan baginya. Terlihat dengan bersanding saling mendoakan demi kemajuan dan kebersamaan bangsa.

    ”Saya berharap terus tunjukan bahwa kita bisa saling bekerjasama dalam membangun negeri ini walaupun kita berbeda,” harapnya. (RC)

    ,

    JABAR - Pasangan Sudrajat-Syaikhu Pamerkan kaos bertagar #2019GantiPresiden debat Cagub Jawa Barat putaran kedua, Senin (14/5) malam, hampir bubar.

    Debat kandidat Cagub Jabar pada mulanya berjalan dengan lancar hingga beberapa sesen, namun dalam sesen terakhir keberjalanan debat kandidat berujung rusuh. Hal ini bermula dari penyampaian pasangan nomor tiga saat Syaikhu memamerkan kaus putih bertagar.

    Sesaat setelah Sudrajat mengucapkan kata penutup. Syaikhu langsung mengeluarkan kaus putih. Kaus tersebut terlihat bertuliskan '2018 Asyik, #2019GantiPresiden'.

    Sontak reaksi Para calon pendukung yang pro dan kontra terlihat saling bersahutan bahkan berujung adu teriakan dan saling melempar kekesalan.

    Suasana pun semakin gemuruh dan terliha tidak dapat di tenangkan, Pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi yang terakhir memberikan kata penutup, berdiri kebingungan, bahkan terlihat Deddy Mizwar sangat lecewa dan sedikit kesal sebab istrinya mendadak ketakutan.

    Moderator Alfito Deannova Ginting pun berkali-kali mengingatkan para pendukung untuk tetap tenang. "Mohon tenang, mohon tenang. Bapak-bapak, ibu-ibu, acara tidak selesai kalau anda tidak tenang," katanya ke penonton.

    Melihat suasana yang semakin tidak terkontrol, Ketua KPU Yayat Hidayat terpaksa naik ke atas panggung. Dirinya berusaha menenangkan para penonton serta pendukung paslon.

    "Kita punya Bawaslu, nanti bisa kita selesaikan dengan baik. Tolong kepada masing-masing tim kampanye untuk bisa menahan diri. Nanti kita selesaikan setelah ini," ungkap Yayat.

    Reaksi penonton pun terus bergemuruh tak meng indahkan imauan ketua KPU berkata, bahkan hingga terdengar kata kasar dari penonton.

    Setelah berselang hampir sepuluh menit, dan para paslon berusaha menenangkan para pendukungnya masing-masing. Akhirnya suasana bisa cukup mereda. Alfito lantas mempersilakan paslon nomor 4 Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi menyampaikan dengan pantun ikan tongkol. (jun)

    ,

    Irjen Pol Agung Budi Maryoto,Kapolda Jawa Barat
    Radar Cianjur - Detasemen Khusus 88 Antiteror bersama tim Polda Jawa Barat telah melumpuhkan teroris di Cianjur, Minggu (13/5) dini hari. Empat teroris itu tewas ditembus timah panas aparat saat melakukan perlawanan.

    Kapolda Jawa Barat Irjen Agung Budi Maryoto mengatakan, selain menangkap empat teroris itu, pihaknya juga membekuk dua pelaku teror di Sukabumi dan Cikarang.

    “Total ada enam, empat kami lumpuhkan,” ujar Agung dalam keterangannya, Minggu (13/5).

    Adapun identitas teroris yang ditangkap di Terminal Pasirhayam, Cilaku, Cianjur adalah BBN, DCN, AR dan HS. Untuk pelaku BBN diduga masih mahasiswa, sementara sisanya sudah bekerja.

    “Kami juga menyita dua senpi revolver, delapan butir peluru, busur panah, bahan peledak dalam tiga tas, gunting kuku, handphone, kartu identitas, dan satu unit mobil Honda Brio,” katanya.

    Sementara dua teroris lainnya adalah G dan MI. “Keduanya diduga satu jaringan dengan empat pelaku, tapi masih dilakukan pendalaman,” imbuhnya.

    Mantan Kapolda Kalimantan Selatan ini mengatakan, keempat teroris yang tewas telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Sementara dua lainnya masih diperiksa.

    Dari keterangan sementara yang didapat, pelaku berencana melakukan aksi teror jelang Ramadhan. Pelaku juga pernah latihan militer di Sukabumi dan berencana menyerang pos polisi di Bogor, Bandung, Jakarta dan Mako Brimob Kelapa Dua.

    (mg1/jpnn/pojokjabar)

    ,

    Polisi geledah rumah seorang terduga teroris, yakni Asep Ahmad Bentara alias Abu Umar


    CIANJUR – Dimata masyarakat Kampung Puncaksuji, Desa Rancagoong, Kecamatan Cianjur, seorang terduga teroris, yakni Asep Ahmad Bentara alias Abu Umar merupakan sebagai orang yang berkepribadian tertutup, sehingga kurang dikenal.

    Menurut Ketua RT01/RW02, Hasan Basri mengatakan, Asep Ahmad Bentara alias Abu Umar orangnya tertutup dan tidak pernah mendatangi pertemuan warga atau RT.

    “Asep Ahmad Bentar alias Abu Umar adalah warga pendatang, namun jarang bersosialisasi dengan masyarakat, sehingga masyarakat tidak mengatahui siapa Asep Ahmad Bentar alias Abu Umar sebenarnya,” katanya.

    Lanjut Hasan, dirinya sering melihat orang-orang yang tak dikenal datang ke rumah Asep Ahmad Bentar alias Abu Umar.

    “Orang- orang yang tidak dikenal biasa sering berkunjung ke rumah Asep Ahmad Bentar alias Abu Umar pada malam hari,” lanjutnya.

    Kepala Desa Rancagoong, Dede Ridwan menambahkan, Asep bahwa Ahmad Bentara alias Abu Umar sempat mengancam merusak kantor kepala desa gara-gara tidak diberikan izin untuk mendirikan yayasan.

    “Sekitar tiga bulan lalu Asep Ahmad Bentara alias Abu Umar pernah datang ke kantor kepala desa untuk meminta izin mendirikan yayasan pendidikan. Namun karena tidak dilengkapi dengan izin dari warga lingkungan, terpaksa kami menolak permohonan Asep Ahmad Bentar alias Abu Umar, hingga akhirnya Asep Ahmad Bentar alias Abu Umar marah dan sempat mengancam menge-bom kantor kepala desa,” pungkasnya. (rc/dil)

    ,



    CIANJUR - Empat orang terduga teroris ditembak polisi di di Terminal Pasirhayam, Kecamatan Cilaku, Minggu (13/5/2018), sekitar pukul 02.00 WIB.

    Mereka diketahui menggunakan mobil Honda Brio warna silver dengan nomor polisi (Nopol) F 1614 UZ .

    Mereka telah dibuntuti petugas sejak dari wilayah Sukabumi.

    Saat di wilayah Cianjur, tepatnya di Perempat Pasirhayam para terduga teroris itu diduga telah mengetahui keberadaan petugas.

    Terduga teroris mencoba melarikan diri, dengan masuk ke dalam kawasan Terminal Pasirhayam. Tak mau target buruannya lepas, petugas dari Densus 88 langsung melakukan pengejaran.

    Namun saat akan diberhentikan oleh petugas keempat terduga teroris itu mencoba melawan dengan senjata api yang mereka bawa.

    Kapolres Cianjur AKBP Soliyah SIK MH, mengungkapkan keempat terduga teroris itu ditembak karena melakukan perlawanan.

    “Keempat terduga teroris terpaksa ditembak petugas karena melakukan perlawanan saat akan di lakukan penangkapan,” ungkap Soliyah didampingi Wakapolres, Kompol Santiadji Kartasasmita saat ditemui di lokasi kejadian, Minggu (13/5/2018) dini hari.

    Petugas juga mengamankan sejumlah barang bukti yang diduga akan digunakan untuk aksi teror jelang pelaksanaan Ramadan dan Idul Fitri mendatang.

    Barang bukti yang diamankan yaitu satu unit mobil yang ditumpangi para terduga teroris, dua pucuk senjata api rakitan jenis revolver, tiga buah tas yang diduga berisi bahan peledak, dua buah pelindung kepala (helm), satu lembar kertas bergambar sketsa rakitan senjata api, dan beberapa barang bukti lainnya.

    Soliyah menyebutkan untuk barang bukti mobil yang digunakan para terduga teroris langsung diamankan di kantor polisi terdekat.

    “Kendaraannya kami amankan di kantor polisi terdekat, sembari menunggu tim Jihandak Gegana. Karena dicurigai didalam mobil tersebut terdapat bahan peledak yang akan digunakan dalam aksi teror,” ucapnya.

    Hingga kini anggota Densus 88 masih memburu pelaku tindak pidana teroris lainnya.

    “Jenazah para terduga teroris yang berhasil ditembak mati petugas Densus 88 langsung dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramatjati,” pungkasnya. (sta/pojoksatu)

    ,



    CIANJUR - KONI adakan rapat untuk kesiapan cabang olahraga (cabor) yang lolos babak kualifikasi Porda. Rapat dipimpin langsung Ketua KONI, Iwan Mutopa.

    Dalam kesempatan itu, Iwan menjelaskan, kesiapan para atlet harus lebih diperhatikan.

    “Atlet harus dipersiapkan kondisinya secara fisik dan mental karena tinggal beberapa bulan lagi mengahadapi PORDA,” jelasnya.

    Tak hanya atlet saja yang harus siap tapi para pelatih dan manajemennya pun harus siap.

    “Materi, tenaga, kondisi merupakan pokok yang benar-benar harus dipersiapkan. Karenanya semua harus bisa saling menjaga dan membantu,” ujar Iwan.

    Iwan sendiri berharap Kabupaten Cianjur dapat meraih banyak prestasi dalam porda.

    “Tentunya kami semua berharap agar menjadi juara di Porda nanti, dan membawa nama harum Cianjur bahkan ke tingkat nasional nantinya,” pungkasnya.
    (sar)

    ,

    TAWASUTH : Pengurus Cabang PMII Cianjur memberikan pernyataan sikap untuk berada ditengah, dan tidak mengurangi nalar kritis terhadap konplik yang terjadi di Cianjur.


    CIANJUR - Melihat situasi politik yang sangat hot di Cianjur, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kabupaten Cianjur pun angkat bicara.

    "Setidaknya sebagai mahasiswa, kita hendaknya jangan mengurangi nalar keritis, dengan tidak tergerus dengan isu-isu politis, melainkan menawarkan ide dan gagasan yang strategis bagi kemajuan Kabupaten Cianjur yang kita cintai ini," tutur Sopwanudin selaku ketua PC PMII Cianjur, saat diwawancarai. Rabu (9/5).

    Selain itu, ia mengatakan, jalan yang mesti ditempuh oleh mahasiswa Cianjur harus menengah, tidak berada pada kubu yang pro maupun kontra pemerintahan.

    "Gerakan kita harus tawasuth (berada ditengah) tidak pro maupun kontra, tetapi kita mengambil apa keritik yang terbaik dari kubu kontra kita bincang bersama, dan program apa yang baik dari kubu pro pemerintah kita tetap dukung," ungkapnya.

    Lebih lanjut, ia menuturkan, seharusnya kedua kubu ini tidak mesti berselisih paham, melainkan duduk bersama menyelaraskan program dan kritikan untuk kemajuan Cianjur dengan tetap memperhatikan kebutuhan warganya.

    "Kami harap gerakan apapun itu tetap pada akhirnya ada jalan islah untuk kemajuan Kabupaten Cianjur, sebab pada hakikatnya, kedua belah pihak menginginkan adanya kemajuan yang baik bagi Cianjur," tegasnya. (Jun)


Top