Soal Visa 12 Calhaj Diserahkan ke Provinsi

CIANJUR-Sebanyak 12 calon jemaah haji (calhaj) kloter 10 Kabupaten Cianjur, terancam tertunda keberangkatannya ke tanah suci. Pasalnya, visa yang seharusnya sudah mereka pegang ternyata masih belum didapatkan.
Hal itu diungkapkan Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umroh Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Cianjur, Aang Abdul Rouf, Senin (24/8) siang kemarin. Karena visa tersebut belum didapatkan, jika memang sangat terpaksa, maka ke 12 calhaj tersebut baru bisa berangkat setelah proses pembuatan visanya rampung. "Iya ada 12 calhaj yang visanya masih dalam proses di kedutaan,” ungkap Rouf, kemarin.
Meski begitu pasca pemberangkatan Kloter 10, Senin (24/8) malam sekitar pukul 19.00 WIB dari Asrama Haji Komplek Kemenag Cianjur, sebanyak 444 calhaj tetap diberangkatkan menggunakan 11 bus ke Asrama Haji Embarkasi Jakarta-Bekasi Provinsi Jawa Barat.
Kami sudah berangkatkan menggunakan bus ke Embarkasi Bekasi, nah soal keputusan apakah ke 12 jemaah mendapat visa atau tidak, kami sudah serahkan sepenuhnya ke Panitia Jemaah Haji Tingkat Provinsi Jawa Barat,” terang Rouf dihubungi Radar Cianjur, semalam.
Untuk itu pihaknya hingga kini terus menjalin komunikasi dengan pihak panitia Provinsi Jawa Barat yang berada di Embarkasi Bekasi. “Informasi yang kami peroleh dari panitia provinsi, Insya Allah 12 jemaah haji yang masih ada persoalan visa dapat tetap berangkat ke tanah suci serta menjalankan ibadah haji sesuai dengan yang dijanjikan oleh pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Agama," ungkap Aang.
Kendati belum mengantongi visa, Rouf menegaskan, 12 calhaj tersebut tetap akan berangkat pada musim tahun ini juga. Karena, para calhaj tersebut bakal tetap berangkat bergabung dengan kloter selanjutnya. "Itupun kalau memang sangat terpaksa. Tapi tetap mereka akan berangkat tahun ini. Itu sudah dijamin. Apalagi semua calhaj kan sudah punya paspor," tegas dia.
Rouf mengakui, permasalahan visa calhaj ini memang cukup banyak dan terjadi hingga skala nasional. Pasalnya, untuk bisa mendapatkan visa haji, tahun ini prosesnya memang lebih panjang dan lama dibanding sebelum-sebelumnya. Selain itu, pemberlakuan elektronik haji juga memberikan pengaruh dalam proses pembuatan visa tersebut.
Karena itu, salah satu yang terkena imbas dari lamanya proses pembuatan visa itu adalah kloter calhaj asal Cianjur. "Kan sekarang elektrik haji. Jadi untuk entry san validasi datanya harus benar-benar valid, tidak boleh ada kesalahan," jelas dia.
Rouf meyakini, dua belas calhaj yang belum mengantongi visa tersebut nantinya bakal berkurang hingga akhirnya, ia memastikan, semua calhaj asal Cianjur bakal mengantongi visa hajinya masing-masing. Hal itu mengacu pada data sebelumnya yang mencapai total 150 calhaj dari kloter 10 yang belum mendapatkan visa.
Dari angka itu, lanjut dia, pada Rabu (19/8) pekan lalu, ada 40 visa yang turun. Kemudian, pada Sabtu (22/8) lalu, ada 62 visa turun lagi disusul kemudian pada Minggu dini hari kemarin, 36 visa sudah diterima para calhaj.
"Makanya sampai dengan Minggu itu tiggal 12 calhaj yang belum. Kabarnya hari ini ada lagi visa yang turun tapi saya belum cek informasinya," tutur Rouf tanpa mau merinci nama-nama calhaj yang belum memiliki visa itu.
Rouf menambahkan, untuk jemaah calhaj dari Kabupaten Cianjur sendiri, untuk tahun ini total berjumlah 1.061 calhaj. Mereka semua terbagi dalam tiga kloter yakni kloter 10, kloter 51 dan kloter 64.
Untuk kloter 10 yang diberangkatkan pada Senin (24/8) malam, terdiri dari 444 calhaj, sama dengan jumlah calhaj kloter 51 yang rencananya akan diberangkatkan pada tanggal 9 September mendatang. Sedangkan khusus untuk kloter 64 yang diberangkatkan pada 14 September, bakal dibarengkan dengan calhaj dari Sumedang dan Banjar.
"Tapi calhaj yang dari Cianjur hanya 122 orang saja. Karena kloter 64 itu gabungan dengan Sumedang dan Banjar," imbuh dia.
Rouf menuturkan, untuk kloter 10 ini, ada sepasang suami-istri asal Cugenang yang dipastikan ditunda keberangkatannya karena alasan kesehatan. Keduanya nantinya digantikan pasangan suami-istri dari kloter 64 asal Mande.
"Jadi istilahnya tukar kloter. Karena yang dr Cugenang itu, Miftah, memiliki skait jantung dan saat ini sedang dirawat di RSUD Cianjur. Kalau memang dokter bilang aman, ya bisa berangkat. Kan itu kewenangan dokter," beber dia.
Rouf menjelaskan, untuk pemeriksaan kesehatan, sudah dilakukan di masing-masing puskemas karena memang hal itu menjadi domain Dinas Kesehatan (Dinkes). Meski begitu, pemeriksaan kesehatan nantinya juga akan dilakukan kembali di embarkasih untuk memastikan kesehatan para calhaj.
"Tapi sampai sejauh ini dinyatakan lolos kesehatan. Hanya Miftah saja yang sekarang masih dirawat. Kan yang jadi prioritas itu calhaj resiko tinggi (resti, red)," tambah dia.
Untuk tahun ini, ucap Rouf, calhaj termuda tercatat berusia 21 tahun atas nama Titin Fatimah Watusholihah dari Kampung Gununglanjung, Desa Cijedil, Cugenang. Sedangkan jemaah calhaj tertua berusia 87 tahun atas nama Engkah bin Enjum dari Kampunh Buniayu, Desa Kertamukti, Haurwangi.
"Keduanya sama-sama dari kloter 51. Kalau untuk armada, tiap kloter, kami siapkan 10 bus dan 1 cadangan," tukas Rouf.(cr2/ruh)



Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top