Fahira: Lawan Sudah Panik, Makanya Serang Saya

Fahira Idris istri cawabup Aldwin Rahadian.
CIANJUR - Adanya pengaduan dari Tim Advokasi paslon Beriman, pada Badan Kehormatan (BKD) DPD RI yang melaporkan Senator Fahira Idris, dianggap sebagai bentuk kepanikan dan pengalihan isu. Pasalnya, berbagai dugaan kecurangan mereka mulai terkuak dan berbagai bukti kecurangan sudah dimiliki berbagai instansi mulai dari DKPP, Bawaslu, Komisi II DPR RI, hingga KemenPAN-RB.
Tim kampanye paslon nomor 2 diduga kuat melakukan berbagai kecurangan yang masif dan terstruktur untuk memenangkan Pilkada Cianjur, 9 Desember 2015 mendatang. Berbagai dugaaan kecurangan mulai dari intimidasi dan ancaman untuk para PNS serta seluruh struktur Pemkab Cianjur, dugaan melakukan politik uang, menyebarkan fitnah, menyebar isu SARA dan membunuh karakter paslon nomor 3, Suranto-Aldwin Rahadian beserta keluarganya.
Istri cawabup Aldwin Rahadian, Fahira Idris mengaku, dirinya jauh sebelum menjadi senator dan saat menjadi senator, kerap menggelar berbagai pelatihan terutama kepada perempuan dan melakukan kegiatan sosial budaya di berbagai daerah di Indonesia.
“Mereka sudah panik, semua bukti dugaan kecurangan mereka sudah sampai ke pihak-pihak yang berwenang di Jakarta. Sekarang mau mengalihkan isu, jadi mencari-cari kesalahan dan menyerang saya dengan alasan yang mengada-ngada, yaitu memakai dan menyalahgunakan atribut DPD RI berbentuk Bros Kecil saat kampanye. Silahkan saja mengadu, saya punya bukti dan argumen yang kuat,” ujar Fahira Idris.
Sebagai anggota DPD RI, Fahira dalam kegiatan apapun dirinya selalu mengenakan bros kecil DPD RI di jilbabnya. “Apa iya, saya datang ke Cianjur dan tidak sengaja mengenakan bros kecil bisa mempengaruhi orang-orang Cianjur agar memilih suami saya yang kebetulan salah satu kandidat? Ini kan mengada-ngada,” tukas Fahira.
Menurut Fahira, sebagai Wakil Ketua Komite III. dirinya berkewajiban melakukan pengawasan 13 bidang mulai dari pendidikan, agama, kebudayaan, kesehatan, pariwisata, pemuda dan oah raga, kesejahteraan sosial, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, tenaga kerja dan transmigrasi, ekonomi kreatif, administrasi kependudukan/ pencatatan sipil, pengendalian kependudukan/keluarga berencana, dan perpustakaan di seluruh Indonesia.
“Jadi apa yang salah? Silahkan saja kalau mau membunuh karakter saya, tetapi warga Cianjur sudah dewasa dalam berdemokrasi, tahu mana yang benar, mana yang salah. Serangan-serangan seperti ini takkan menyurutkan saya. Bahkan saya sudah konfirmasi ke BKD DPD RI, semuanya tidak ada masalah,” tukas Fahira.
Fahira menegaskan, dirinya sebagai pribadi, istri, sebagai muslimah, sebagai warga kampung Malingping Desa Rarahan Kecamatan Cipanas, akan terus berjuang untuk daerah yang dicintainya.

“Melihat keterpurukan Cianjur 10 tahun terakhir ini dan menyaksikan sendiri bagaimana kekuasaan digunakan untuk sebanyak-banyaknya kepentingan pribadi dan golongan serta mengabaikan kemaslahatan warga, maka sebesar apapun aral yang melintang, sekuat apapun fitnah yang menghadang perjuangan ini takkan pernah surut hingga Cianjur bisa berubah,” tegasnya.(*/jun)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top