Radar Cianjur »
Metro Cianjur
»
Komunitas Pecinta Posum Terbang nan Menggemaskan
Komunitas Pecinta Posum Terbang nan Menggemaskan
Posted by Radar Cianjur on Senin, 22 Februari 2016 |
Metro Cianjur
DI tengah-tengah hingar bingar aktivitas masyarakat
Cianjur yang meramaikan suasana Car Free Day (CFD), akhir pekan lalu, nampak
sekumpulan orang berkaos putih, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa berkumpul
di salah satu sudut CFD sambil menggenggam seekor binatang peliharaan saku yang
terlihat menggemaskan.
Saat
disambangi, ternyata binatang saku itu adalah binatang endemik Indonesia, yakni
Sugar Glider (SG) atau yang memiliki nama latin Petaurus Breviceps. Mamalia
berkantung yang juga memiliki nama keren Posum Terbang itu dibudidayakan oleh
para pecinta SG yang terkumpul dalam Komunitas Pecinta Sugar Glider Indonesia
(KPSGI) Regional Cianjur.
Wakil
Ketua KPSGI Regional Cianjur, Rizal Vierdous menjelaskan, komunitas itu telah
berada di Cianjur selama kurang lebih enam tahun, namun baru resmi menjadi
KPSGI Regional Cianjur sejak 9 Januari 2015 lalu. “Komunitas kami sudah
tersebar hampir di seluruh kawasan Indonesia, seperti Palembang, Padang, Bogor,
Depok, Bogor, Bandung, Surabaya, Makassar, Gorontalo, Pekanbaru, Pontianak,
serta kota-kota lainnya,” jelasnya kepada Radar Cianjur.
Kini,
diketahui KPSGI Regional Cianjur sudah memiliki 89 anggota. Tak jarang mereka
menyelenggarakan event, kontes dan lomba untuk mensosialisasikan SG. Bahkan,
dalam agenda tertentu, mereka rutin selenggarakan seminar tentang cara memelihara
SG yang baik dan benar oleh sejumlah narasumber berpengalaman, hingga acara
bakti sosial.
“Kami
senang memelihara SG, karena selain menggemaskan, dalam pemeliharaannya tidak
terlalu ribet. Mereka juga tidak gampang terserang penyakit. Yang lebih penting,
SG bisa dibawa kemana-mana,” sambung Rizal.
Namun
demikian, masih kata Rizal, tetap diperlukan komitmen yang kuat ketika ingin
memelihara SG. Pemilik juga perlu memperhatikan kebersihan kandang, lalu
melakukan komunikasi dengan SG secara intensif agar binatang cerdas itu
mengetahui siapa pemiliknya. “Kami tidak semata-mata memelihara tanpa tujuan.
Kami juga ingin membudidayakan SG ini agar tetap terjaga kelestariannya.
Sekarang SG mulai jarang ditemui di alam liar karena diburu oleh sekelompok orang
yang hanya memikirkan keuntungan,” ujar Rizal.
Binatang
endmik Indonesia yang ada di sepanjang Ternate hingga Papua itu diketahui aktif
di malam hari. Namun, SG yang sudah akrab dengan aktivitas manusia juga tak
sedikit yang senang beraktivitas di siang hari.
Berkat
komitmen dalam memelihara SG, tak jarang mereka menjuarai sejumlah perlombaan
yang diselenggarakan sesama pecinta SG di berbagai daerah. Seperti SG milik
salah seorang anggota KPSGI Regional Cianjur, Daniel May (22) yang ia beri nama
Mona. “Mona dalam satu event pernah dapat dua gelar juara sekaligus. Mungkin
ini karena kami sudah sangat dekat,” kata Daniel bangga. (*)


Tidak ada komentar: