Komunitas Pecinta Posum Terbang nan Menggemaskan




DI tengah-tengah hingar bingar aktivitas masyarakat Cianjur yang meramaikan suasana Car Free Day (CFD), akhir pekan lalu, nampak sekumpulan orang berkaos putih, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa berkumpul di salah satu sudut CFD sambil menggenggam seekor binatang peliharaan saku yang terlihat menggemaskan.
            Saat disambangi, ternyata binatang saku itu adalah binatang endemik Indonesia, yakni Sugar Glider (SG) atau yang memiliki nama latin Petaurus Breviceps. Mamalia berkantung yang juga memiliki nama keren Posum Terbang itu dibudidayakan oleh para pecinta SG yang terkumpul dalam Komunitas Pecinta Sugar Glider Indonesia (KPSGI) Regional Cianjur.
            Wakil Ketua KPSGI Regional Cianjur, Rizal Vierdous menjelaskan, komunitas itu telah berada di Cianjur selama kurang lebih enam tahun, namun baru resmi menjadi KPSGI Regional Cianjur sejak 9 Januari 2015 lalu. “Komunitas kami sudah tersebar hampir di seluruh kawasan Indonesia, seperti Palembang, Padang, Bogor, Depok, Bogor, Bandung, Surabaya, Makassar, Gorontalo, Pekanbaru, Pontianak, serta kota-kota lainnya,” jelasnya kepada Radar Cianjur.
            Kini, diketahui KPSGI Regional Cianjur sudah memiliki 89 anggota. Tak jarang mereka menyelenggarakan event, kontes dan lomba untuk mensosialisasikan SG. Bahkan, dalam agenda tertentu, mereka rutin selenggarakan seminar tentang cara memelihara SG yang baik dan benar oleh sejumlah narasumber berpengalaman, hingga acara bakti sosial.
            “Kami senang memelihara SG, karena selain menggemaskan, dalam pemeliharaannya tidak terlalu ribet. Mereka juga tidak gampang terserang penyakit. Yang lebih penting, SG bisa dibawa kemana-mana,” sambung Rizal.
            Namun demikian, masih kata Rizal, tetap diperlukan komitmen yang kuat ketika ingin memelihara SG. Pemilik juga perlu memperhatikan kebersihan kandang, lalu melakukan komunikasi dengan SG secara intensif agar binatang cerdas itu mengetahui siapa pemiliknya. “Kami tidak semata-mata memelihara tanpa tujuan. Kami juga ingin membudidayakan SG ini agar tetap terjaga kelestariannya. Sekarang SG mulai jarang ditemui di alam liar karena diburu oleh sekelompok orang yang hanya memikirkan keuntungan,” ujar Rizal.
            Binatang endmik Indonesia yang ada di sepanjang Ternate hingga Papua itu diketahui aktif di malam hari. Namun, SG yang sudah akrab dengan aktivitas manusia juga tak sedikit yang senang beraktivitas di siang hari.
            Berkat komitmen dalam memelihara SG, tak jarang mereka menjuarai sejumlah perlombaan yang diselenggarakan sesama pecinta SG di berbagai daerah. Seperti SG milik salah seorang anggota KPSGI Regional Cianjur, Daniel May (22) yang ia beri nama Mona. “Mona dalam satu event pernah dapat dua gelar juara sekaligus. Mungkin ini karena kami sudah sangat dekat,” kata Daniel bangga. (*)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top