Saat Sadar Sudah Berada di Tengah Penampungan Wanita



RITA Nuryudiawati (34) beberapa waktu lalu diketahui sempat menjadi korban hipnotis oleh orang tak bertanggungjawab saat ia dan putri sulungnya, Zilfia Andria Putri (4) hendak berbelanja di Pasar Cipanas, Jumat (11/3) lalu. Rita baru sadarkan diri saat berada di Makassar.
  SAAT disambangi di kediamannya di Kampung Warung Nangka, RT02/RW03 Desa Sukaresmi, Kecamatan Sukaresmi, ibu tiga anak ini berbagi pengalamannya saat ia berada di tempat asing baginya itu, yakni Makassar, Sulawesi Selatan.
 Rita diketahui tinggal bersama suaminya, Andri Sugianto (43) dan ketiga putrinya, Zahra Fadillah (14), Zaskia Dwi Putri (8) dan Zilfia Andria Putri. Ketika hendak dikunjungi, lokasi kediamannya memang terbilang cukup jauh dari hingar bingar kehidupan kota dengan berbagai gaya hidupnya.
 Dari Pasar Cipanas saja masih perlu menempuh perjalanan sebelas kilometer. Sekitar tiga kilometer dari kantor Kecamatan Sukaresmi dan Polsek Sukaresmi. Kondisi jalan saat memasuki Jalan Mariwati terbilang kurang baik karena beberapa kondisi aspal sudah rusak. Ketika tiba di Kantor Polsek Sukaresmi untuk menanyakan kediaman Rita, salah seorang petugas kepolisian yang saat itu tengah berjaga, AIPTU Nanda tak segan memberikan arahan. Beberapa warga pun saat ditanyai menjawab dengan salam dan sapa yang ramah khas masyarakat pedesaan.
 Setibanya di kediaman Rita, ia nampak sumringah lantaran bisa kembali berkumpul bersama keluarga. Tak menunggu lama, ia pun tak segan berbagi cerita seputar peristiwa kurang menyenangkan yang ia alami tersebut.
 Awal mulanya ia mengaku ditepuk di bagian bahu oleh seorang pria tak dikenal. Rita yang kemudian linglung itu lantas tak sadarkan diri. Bahkan, Rita pun tak mengetahui apakah ia berangkat naik pesawat atau kapal fery. "Tidak tahu, tiba-tiba seperti tak sadarkan diri seperti orang linglung. Yang saya ingat sampai sekarang ada laki-laki usianya sekitar 30 tahunan tiba-tiba menepuk bahu," tutur Rita.
 Ia pun baru menyadari bahwa dirinya sudah berada di tempat asing dengan banyak orang berbahasa lain yang tidak ia mengerti. Sesadarnya Rita, baru ia sadari saat itu ia berada di tengah-tengah sebuah penampungan dimana kebanyakan didominasi kaum wanita yang sudah berusia di atas 30 tahun. "Saya tidak tahu waktu itu sedang berada dimana, tapi di salah satu rumah tertulis kata Ujung Pandang di dalam sticker KPU bekas pemilihan presiden, saya langsung meminta tolong seseorang, lalu saya melapor ke pos polisi terdekat," ulasnya mengingat-ngingat.
 Rita mengaku, peristiwa tersebut jadi sebuah pengalaman berharga baginya. Tak hanya Rita, putri sulungnya, Zahra juga mengaku akan lebih memperhatikan ibundanya seraya menemani Rita kemanapun ia pergi. "Awalnya sempat panik, tapi ditenangkan oleh saudara-saudara terdekat. Bapak juga berusaha menghubungi sana-sini. Alhamdulillah ketemu dalam keadaan yang baik-baik saja. Saat itu juga bapak jemput ke Makassar," ungkap Zahra.
 Ia pun mengaku sangat senang dapat kembali berkumpul bersama ibundanya itu. Saat ditanya tentang perasaannya selama ibundanya hilang, Zahra juga mengaku mendapat firasat bahwa ibunya baik-baik saja. Rita bahkan mengakui bahwa putri-putri cantiknya itu begitu dekat dengan dirinya hingga terjalin erat sebuah ikatan batin yang kuat. "Saking dekatnya, ke warung saja selalu ikut," sambung Rita ditemani putri-putrinya. (*)



Tidak ada komentar:

Write a Comment

⬆
Top