840 WTS Asal Cipanas

* Desak Perda Segera Dibentuk

CIANJUR-Jumlah wanita tuna susila (WTS) di Cianjur, tercatat sebanyak 840 orang. Jumlah itu didominasi beroperasi di kawasan Cipanas dan Pacet. Kondisi tersebut harus mendapat perhatian serius, terutama dalam pengendalian penyebaran HIV/Aids yang kian bertambah.

Ketua Gerakan Penanggulangan Narkoba Aids (GPNA) Kabupaten Cianjur, Asep Mirda Yusuf membenarkan, hasil data pihaknya jumlah keseluruhan WTS didominasi wilayah Cipanas dan Pacet. Mereka beroperasi sistem online melalui facebook, blackberry massager dan media sosial lainnya, sedangkan lewat booking sudah sedikit sekali. 

"Ironisnya didominasi mereka yang berprofesi sebagai WTS itu ternyata 80 persen merupakan penduduk sekitar bukan pendatang. Jelas mereka ini sangat rawan terinfeksi penyakit kelamin dan HIV/Aids," jelasnya, Senin (25/4).

Fakta hasil penelitian yang dilakukanya bersama tim ternyata 75 persen pengidap HIV/Aids diakibatkan hubungan seks kalangan perempuan dan laki-laki.

 "Jadi penggunaan jarum suntik narkoba itu buka penyebab utama penyebaran HIV/Aids," ungkapnya.

Data dihimpun, dalam kurun waktu hingga akhir Desember 2015 di Cianjur ada 515 orang penderita HIV/Aids dan mereka tersebar di seluruh kecamatan se Kabupaten Cianjur. Mereka rata-rata berada di Kota Cianjur dan Cipanas, namun ada juga yang berasal dari Cianjur Selatan.

"Ironisnya, perilaku seks dilakukan laki-laki yang sudah menikah, terhitung ada 10.523 lelaki resiko tinggi dalam kurun waktu satu tahun. Mereka itu dengan gaya seks bebasnya menularkan HIV ke ibu rumah tangga," bebernya.

Dia mengaku daerah Cipanas merupakan kawasan wisata, sehingga amat rawan sekali dengan penyebaran HIV/Aids. Cianjur Utara juga kerap didatangi para WTS. Ada juga perilaku seks menyimpang Lelaki Seks Lelaki (LSL) jumlahnya ada 3.283 orang kebanyakan mereka berasal dari wilayah Kota Cipanas dan Kota Cianjur.

"Saat kami melakukan sampling ternyata setelah VCT dari 20 LSL ada 4 positif HIV/Aids. Jelas LSL juga jelas resiko terjangkit penyakit mematikan," terangnya.

Dia mengaku, perilaku LSL ini akibat korban masa lalu, ada juga siswa SD dan SMP yang menjadi korban sodomi. Mereka kini menjadi LSL, makanya penyelamatan kepada para korban sodomi harus dilakukan, jangan sampai malah ada unsur balas dendam dan korban bertambah.

 "Gay atau waria dengan jumlah 1.232 orang juga sangat berpotensi besar terinfeksi menular seksual. Makanya, Pemkab juga harus pro aktif menyikapi masalah ini," ungkapnya.

Pihaknya mendesak harus bisa segera membuat Perda Penanggulangan HIV/Aids, karena jika pemerintah tidak konsen peduli khawatir penderitanya bisa terus bertambah. 

"Kami mendukung dengan dibuatnya Perda penanggulangan HIV/Aids dan saat Raperda tengah disusun," ungkap Kepala Bidang Advokasi Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur, Lidya Indayani Umar.

Diterangkanya, dibuatnya Perda tersebut menunjukkan perhatian dan komitmen Pemda Cianjur terhadap masalah HIV/Aids.

 "Saat ini masyarakat belum sadar akan kesehatan dan mereka belum tau akibat dari seks bebas. Sehingga dengan mudah merek mencari kerjaan yang instan, makanya kami mengharapkan Perda tersebut segera dibuat," tukasnya.(fhn) 


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top