Radar Cianjur »
Berita Utama
»
Warisan' Negatif Generasi Bangsa
Warisan' Negatif Generasi Bangsa
Posted by Radar Cianjur on Jumat, 08 April 2016 |
Berita Utama
CIANJUR-
Kebiasaan buruk yang bahkan sudah menjadi warisan dan adat di kalangan pelajar
tingkat SMA nampaknya sulit untuk terbendung. Seolah de javu dan terus
terulang, ragam kegiatan dan perilaku ini terus terjadi. Untuk itu, perlu
langkah konkrit diiringi ketegasan agar citra buruk ini tidak terjadi lagi dan
tidak merugikan banyak pihak.
Kriminolog
Cianjur, Kuswandi memaparkan, aksi negatif pasca UN menjadi warisan buruk.
Pasalnya, bebrapa tindak negatif memang sudah dilakukan para senior terdahulu.
Anehnya, junior-junior di tahun berikutnya pun seolah-olah latah dan mengulang
tindakan negatif pasca UN.
Ragam
perilaku negatif yang dilakukan pelajar setelah menunaikan Ujian Nasional yang
paling sering terjadi yaitu tawuran. Berkaca pada ragam peristiwa beberapa
tahun ke belakang, tawuran kerap kali memakan korban jiwa setiap tahun. Bahkan,
di awal 2016 saja, aksi tawuran saja sudah memakan satu korban jiwa.
Untuk
itu, terkait ragam aktifitas negatif pasca UN, perlu adanya tindakan antisipasi
dari segenap pihak. Namun, ia pun menyoroti kinerja dan langkah kepolisian
untuk. "Aparat kepolisian memang perlu melakukan tindakan preventif. Saya
rasa, apabila berindak setelah ada kejadian maka cost-nya (harga atau dampak)
akan lebih besar," ujar Akademisi Fakultas Hukum (FH) Suryakencana
(Surken)Cianjur ini.
Baginya,
tawuran dan corat-coret seragam memiliki hubungan yang berkaitan. Tak sedikit
siswa yang akan melakukan corat-coret seragam sebelum melakukan tawuran. Namun,
baginya, siswa saat ini lebih pintar. Artinya, tak sedikit siswa yang enggan
melakukan corat-coret sebelum tawuran.
"Ada
kemungkinan keberadaan mereka saat corat-coret tidak dilakukan di depan umum
karena menuai perhatian publik. jadi, mereka lebih memilih untuk langsung
tawuran saja atau sekedar berkeliling atau melakukan konvoi," papar Wakil
Dekan Dua FH Unsur ini.
Padahal,
konvoi atau berkeliling dengan cara menghentikan kendaraan akan memicu tindak
tawuran. Dampaknya pun tak hanya memakan korban jiwa namun juga merusak
sejumlah fasilitas umum. "Kegiatan apa pun yang mengganggu keamanan dan
ketertiban umum dapat dijerat hukum," ujarnya kepada Radar Cianjur.
Di
lain sisi, mengingat anak merupakan sosok yang belum dewasa, maka pelajar tak
bisa dikenakan pidana. Dilematis, menurutnya, sebenarnya perlu ada efek jera
yang tegas apabila siswa melakukan tawuran. Namun, di samping itu, penerapan
ketegasan hukum dinilai kurang efektif untuk membentuk generasi bangsa yang
lebih baik.
Mengingat,
emosi dan kedewasaan yang belum matang, maka tak menutup kemungkinan saat di
dalam penjara siswa akan menjadi lebih buruk. "Kalau dimasukkan penjara
tidak menjamin kehidupannya menjadi lebih baik. Karena di sana, siswa akan
bersinggungan langsung dengan para pelaku kejahatan di berbagai jenis dan
tindakan negatif lainnya," ungkapnya prihatin.
Serba
salah, lanjutnya, apabila tidak dilakukan efek jera maka siswa yang lain akan
berpikir sebaliknya. "Nanti kalau tidak dipenjara dan melihat temannya
bebas, maka siswa yang lain akan melakukan tawuran juga ujung-ujungnya,"
katanya menggelengkan kepala.
Untuk
itu, ia mengimbau, pasca UN sebaiknya siswa melakukan tindakan yang positif
seperti liburan bersama keluarga atau melakukan ragam kegiatan keagamaan.
Liburan yang salah arah dinilai dapat merusak moral, yang terparah akan terjadi
tindak kriminalitas lainnya. "Berlibur sebenranya boleh-boleh saja tapi
jangan sampai berlibur yang arahnya negatif," saran Kuswandi.
Sebagai
contoh, berlibur bersama-sama ke villa kadang akan membuat siswa melakukan
ragam tindakan negatif. Yang disayangkan, siswa akan hura-hura mengisi waktu
liburannya dengan minum-minum bahkan melakukan tindakan asusila sesama pelajar.
Melihat banyaknya tindak negatif pelajar pasca UN, Kuswandi mengutarakan, perlu
langkah dan kerjasama yang konkrit.
Artinya,
tak hanya pihak kepolisian saja yang wajib melakukan antisipasi dan tindakan
melainkan dari instansi pendidikan hingga peran serta orangtua dan para tokoh
agama. "Memang perlu kerjasama yang sinergis. Apabila jalan
sendiri-sendiri, saya rasa warisan mata rantai ini akan terus berlangsung satu,
lima hingga puluhan tahun ke depan," tutupnya. (yaz)
Populer
-
CIANJUR - Peristiwa mengenaskan terjadi di Curug Ciastana, Kampung Sinarmuda, Desa Bojongkasih, Kecamatan Kadupandak pada Rabu (15/2) pa...
-
CIANJUR- Membangun sebuah rumah akan lebih sempurna jika menggunakan kayu seperti kayu jati. Selain kuat, kayu jati memberikan sua...
-
CIANJUR-Umumnya ketika hari libur nasional tiba, tempat wisata dipenuhi pengunjung baik lokal maupun manca negara. Namun, tidak terjadi di...
-
Berkaca dari Kabupaten Lombok Barat yang memiliki infrastruktur yang memadai dan merata hampir di seluruh kawasan. Saat ini dae...
-
JAKARTA-Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengaku prihatin karena Ketua KPK Agus Raharjo mengungkap sudah menandatangani Sprindik untuk tersang...
-
SMAN 1 Cilaku sambut HUT RI ke-71 dengan berbagai perlombaan yang melibatkan siswa dan guru. Kesiswaan SMAN 1 Cilaku, Mukti Tauf...
-
CIANJUR – Polisi Wanita (Polwan) Satuan Lalulintas (Satlantas) Kepolisian Resort ( Polres ) Cianjur meng gelar pembersihan pelan...
-
MOMENTUM bulan Ramadan dimanfaatkan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Cianjur, Moch Ginanjar, untuk selalu m...

Tidak ada komentar: