Hubungan Antara Guru dengan Suri Tauladan Nabi

GURU adalah sebuah profesi sekaligus gelar yang melekat pada orang yang menjalankan aktivitas mengajar dan mendidik setiap siswa di lembaga formal / sekolah. Gelar tersebut pun tidak hanya digunakan dalam konteks pendidikan, akan tetapi juga dalam ruang lingkup yang lebih luas yakni masyarakat. Tak ayal siapapun yang menjalankan aktivitas profesionalisme sebagai seorang guru, penghargaan dan penghormatan tidak hanya datang dari siswa dan rekan sejawat saja, akan tetapi juga dari masyarakat, khususnya masyarakat dimana guru tersebut tinggal. Senada dengan hal tersebut Dr. Aziz dalam bukunya yang berjudul Karakter Guru Profesional menjelaskan bahwa ada beberapa profesi yang dibawa sebutannya sampai keluar lingkaran tugasnya, salah satunya adalah Guru. Dia mendapatkan kemuliaan dari masyarakat kita sehingga profesinya dinisbatkan juga kepada sebutan pribadinya. Dengan kedigdayaan gelar dan kehormatan tersebut muncul sebuah pertanyaan besar, yakni sudah sejauh manakah guru bisa menterjemahkan profesi dan gelar yang dimilikinya untuk menciptakan perubahan fundamental terhadap dirinya sendiri, siswanya, lingkungan masyarakatnya, dan juga negaranya. Seiring dengan adanya Program nawacita presiden republik indonesia bapak Jokowidodo yang menitikberatkan pada revolusi mental dan pendidikan karakter, sudah selayaknya seorang guru berada dalam garda terdepan untuk menciptakan generasi yang tidak hanya pintar tapi juga berakhlak mulia. Perjalanan visi revolusi mental yang berorientasi salah satunya ada segmen pendidikan menjadikan guru sebagai ujung tombak dari visi yang dicita citakan tersebut. Namun faktanya dilapangan, begitu banyak guru yang kebingungan untuk melaksanakan visi revolusi mental tersebut, ini disebakan karena pendidikan yang harus diberikan untuk membentuk karakter siswa yang berakhlak mulia sulit diterapkan melalui metode umum yang digunakan. Karena berbicara karakter berarti berbicara akhlak / perilaku dan berbicara perilaku merupakan hal yang sulit untuk dinilai secara kuantitas dan kualitas, karena sumber pendidikan karakter yang utama adalah hati, dan figur orang yang telah memiliki akhlak mulia jarang ditemukan dewasa ini. Figur yang demikian bukan hanya pandai melontarkan gagasan pendidikan, meramu kurikulum pendidikan yang bermutu, dan menerapkan sistem administrasi yang komprehensif akan tetapi figur seseorang yang memiliki akhlak mulia adalah figur yang banyak memberikan contoh atau sauri tauladan yang baik. Sebagai guru yang memiliki landasan keimanan dan kecintaan kepada Rasul Muhammad SAW sudah selayaknya lah guru harus berpedoman kepada apa yang telah Nabi kita ajarkan jauh sebelum visi revolusi mental ini digembar gemborkan, dalam Alquranulkarim surat Al Ahzaab : 21 disebut bahwa Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu uswatun hasanah / suri teladan yang baik bagimu.
Pendidikan karakter yang melahirkan generasi berakhlak mulia sejatinya telah Rasul jalankan jauh sebelum Program revolusi mental ini ada dinegara kita , masyarakat madaniah adalah wujud nyata dari berhasilnya didikan rasul kala itu untuk menciptakan sebuah sistem revolusi mental kepada pengikutnya dan bahkan diluar pengikut ajarannya. Seorang guru hari ini sudah sepatutnya untuk mengarahkan Kiblat pendidikan yang diajarkan pada anak didik nya kepada sauri tauladan yang sudah dicontohkan oleh Rasullullah SAW. Kebingungan dan permasalahan yang terjadi dalam aktivitas mendidik dan mengajar seorang guru akan senantiasa menemui solusi  yang hakiki, bila selalu dihubungkan dan di integrasikan dengan uswatun hasanahnya Rasull karena Rasul mengajarkan kepada setiap umatnya untuk melaksanakan segala sesuatu amalan yang baik dibarengi dengan amalan hati yang baik, karena hati akan bisa disentuh dengan hati. Guru pun harus senantiasa memantapkan hatinya, dan selalu meminta untuk diberikan keteguhan hati pada Sang Maha Pembolakbalik isi hati agar pengabdian yang selama ini dijalankan semata mata untuk menyebarkan dan memberikan sauri tauladan yang baik kepada siswa nya, bukan iming iming sertifikasi dan tunjangang yang tinggi, karena untuk menciptakan sebuah generasi yang berkahlak mulia harus dimulai dari diri guru sendiri, menjadi tauladan, berbudi pekerti islami sehingga siswa yang melihat sauri tauladan gurunya akan senantiasa menirukan dan menggugu gurunya. Bila ini bisa dijalankan dengan istikomah dan konsisten maka bukan tidak mungkin representasi masyarakat madani akan kembali terwujud dinegeri yang kita cintai ini. PR kita masih banyak.(**)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top