Radar Cianjur »
Nasional
»
Suami Masak di Rumah, Istri Sibuk Kerja di Pabrik
Suami Masak di Rumah, Istri Sibuk Kerja di Pabrik
Posted by Radar Cianjur on Kamis, 16 Februari 2017 |
Nasional
Dunia nampaknya sudah terbalik. Bila seorang istri biasanya menjadi ibu rumah tangga, namun di desa ini justru menjadi kepala rumah tangga. Sebaliknya, sang suami yang harus mengurus keperluan keluarga. Fenonema itulah yang terjadi di Sukabumi.
SEPERTI di Kampung Cipamulaan, Desa Kompa, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Banyak wanita yang bekerja di pabrik, akan tetapi para lelaki malah mengerjakan pekerjaan rumah tangga. “Istrinya kerja, suaminya masak,” kata salah seorang tokoh masyarakat Kampung Cipamulaan Asep Mahmud kepada Metropolitan.
Menurut Asep, upaya ini sebenarnya perlu ada pemikiran dan perhatian yang serius dari pemerintah melalui perkembangan zaman di era globalisasi, namun tidak mengubah kodrat kaum wanita. ”Sebaiknya tenaga kerja di perusahaan garmen atau lainnya berpihak kepada kaum lelaki, kenapa tidak ditekankan pekerjaan untuk kaum lelaki atau minimal 80 persennya kaum lelaki dan 20 persennya kaum hawa dan bukan kebalikannya,” jelasnya.
Asep pun mengkhawatirkan kondisi anak-anak di kampung tersebut. “Istri berangkat pagi pulang malam, sehingga masa depan anak tanpa seorang ibu itu bisa berpengaruh terhadap psikologis anak,” imbuhnya. Lebih lanjut Asep meminta pemerintah memberikan ketegasan kepada perusahaan yang akan berikan pekerjaan pencari kerja. “Apa memang dunia ini sudah terbalik atau memang ada unsur lain dari pemerintah, memberikan keleluasaan bagi pekerja wanita sehingga kaum lelaki sulit mendapatkan pekerjaan,” kesalnya.(fjr/hep/er/py)
SEPERTI di Kampung Cipamulaan, Desa Kompa, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Banyak wanita yang bekerja di pabrik, akan tetapi para lelaki malah mengerjakan pekerjaan rumah tangga. “Istrinya kerja, suaminya masak,” kata salah seorang tokoh masyarakat Kampung Cipamulaan Asep Mahmud kepada Metropolitan.
Menurut Asep, upaya ini sebenarnya perlu ada pemikiran dan perhatian yang serius dari pemerintah melalui perkembangan zaman di era globalisasi, namun tidak mengubah kodrat kaum wanita. ”Sebaiknya tenaga kerja di perusahaan garmen atau lainnya berpihak kepada kaum lelaki, kenapa tidak ditekankan pekerjaan untuk kaum lelaki atau minimal 80 persennya kaum lelaki dan 20 persennya kaum hawa dan bukan kebalikannya,” jelasnya.
Asep pun mengkhawatirkan kondisi anak-anak di kampung tersebut. “Istri berangkat pagi pulang malam, sehingga masa depan anak tanpa seorang ibu itu bisa berpengaruh terhadap psikologis anak,” imbuhnya. Lebih lanjut Asep meminta pemerintah memberikan ketegasan kepada perusahaan yang akan berikan pekerjaan pencari kerja. “Apa memang dunia ini sudah terbalik atau memang ada unsur lain dari pemerintah, memberikan keleluasaan bagi pekerja wanita sehingga kaum lelaki sulit mendapatkan pekerjaan,” kesalnya.(fjr/hep/er/py)
Populer
-
Menjadi pimpinan dalam suatu perusahaan merupakan tanggungjawab yang besar. Wendy Hilman Natsir yang merupakan Branch Manager Bank Muama...
-
BANDUNG - Laga persahabatan antara Persib Bandung dan Persipasi Bandung Raya (PBR) batal digelar di Stadion Pakansari, Bogor. Laga y...
-
FOTO: RISMA RUSTIKA SARI/RADAR CIANJUR JASA: Agus Sutriadi Usman menerima penghargaan Bintang Pancawarsa II atas dedikasinya pada Pram...
-
CIANJUR-Suhu politik di Jawa Barat mulai memanas, seiring dengan akan diadakannya pesta demokrasi pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jaw...
-
Hijab merupakan salah satu pakaian yang wajib dikenakan kaum hawa. Hijab itu ternyata bukan hanya jadi kewajiban bagi dara kelahiran tah...
-
CILAKU - Perumahan Pondok Indah Cianjur di Jalan Raya Cibeber, Kecamatan Cilaku, merupakan perumahan bersubsidi, yang strategis, dan d...
-
CIANJUR-Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Cianjur memindahkan lokasi pelaksanaan job fair ke SMK PGRI 3 Cianju...
-
CIANJUR-Ratusan santri tergabung Front Pembela Islam (FPI) Kabupaten Cianjur, Barisan Serbaguna (Banser) GP Ansor, Forum Pondok Pesant...


Tidak ada komentar: