Buat Jaringan Wanoja, Tawarkan Temuan IT Secara Gratis

Kegigihan Jaja Sudrajat Gerakan Program Linux Masuk Desa


LEWAT Warnet Wanoja (Warung Nulis Jaja) kiprah Jaja Sudrajat (34) di Kampung Ciranca Sukanagara Cianjur selatan, terus berusaha kembangkan jaringan internet hingga ke desa. Hal ini dilakukanya lewat berbagai kegiatan hingga lembaga pendidikan pun didirikannya agar masyarakat melek ilmu teknologi.

Laporan: Nurani, Cianjur

HIDUP di era globalisasi yang serba modern saat ini tentunya tidak hanya mengandalkan alat yang dapat mempermudah melakukan sesuatu. Adanya keinginan dan motivasi yang tinggi untuk menggunakan fasilitas teknologi yang super cepat sangat dibutuhkan hingga ke pelosok.
Itulah keinginan dan juga cita-cita dari sosok seorang Jaja Sudrajat yang kini mengembangkan teknologi lewat Warnet Wanoja (Warung Nulis Jaja) di daerah Cianjur selatan. "Motivasi yang tinggi belum cukup bisa mencapai semua apa yang kita inginkan," kata Jaja memulai pembicaraan saat berbincang dengan wartawan koran ini.
Suami dari istrinya yang kini juga mengajar di Taman Kanak-kanak (TK) Mawar di Ciranca-Sukanagara itu menyebutkan, perlu adanya usaha dalam meniti sebuah proses meskipun harus menempuh waktu yang cukup panjang untuk mewujudkannya.
Maka dia pun berusaha mewujudkan harapanya agar informasi, komunikasi dan teknologi cepat diserap masyarakat di lokasi yang jauh. Selain mendirikan warnet, ia juga bekerja di beberapa perusahaan khusus komputer dan keamanan jaringan di PT Perdamitra Lestari Tangerang, Salwali Sejahtera Cianjur dan Caturpilar Informatika Bandung.
Hal itu pula yang mendorong lulusan Sarjana dari Universitas Komputer Indonesia Jurusan Teknik Informatika ini untuk lebih menyebarkan lagi warga untuk mengenal komputer lebih luas lagi. "Bermodalkan semangat, tekad dan keyakinan yang kuat, serta dukungan doa dari keluarga dan orang-orang terdekat, meski modal sedikit, disiplin ilmu dalam bidang IT semoga bisa bermanfaat untuk nusa dan bangsa," ujar ayah dua anak ini.
Selain itu, Jaja juga kini aktif menjadi Sekjen Perlindungan Anak (POPAC), juga menjadi Pimpinan LKP Wanojaedu, Analisis IT di Komunitas KKL. "Saya juga kebetulan menjadi Penasihat Penggerak Linux masuk desa," ungkapnya.
Adapun soal Linux masuk desa, kata Jaja, program tersebut memiliki misi dengan melibatkan teman-temanya yang tergabung di komunitas tersebut, dan satu misi juga dengan paguyuban perlindungan anak, baik itu untuk nasional maupun internasional.
Hal itu ditunjang karena Jaja awalnya ditugaskan untuk memberantas serta memperkenalkan dunia open source khusus akar rumput (pedesaan,red), serta memperjuangkan hak anak minimal untuk desa. "Maksunya adalah usaha untuk mengayomi hak-hak anak yang sering ditelantarkan akibat kurangnya perhatian dari orangtua," terangnya.
Keinginan untuk membangun sebuah kreativitas bagi semua orang tersebut, bahkan seringkali menawarkan penemuan-penemuan terbarunya untuk diketahui khalayak banyak, baik melalui sekolah maupun bidang lainnya yang berhubungan dengan dunia IT. "Semuanya saya tawarkan secara gratis, tanpa dipungut biaya sepeserpun," ujarnya.
Meskipun ia mengaku, tidak semua orang memperdulikan apa yang ingin diberikanya pada publik. Banyak sekali orang-orang yang beranggapan bahwa semua ini dianggap sepele bahkan tidak penting. Padahal ilmu IT itu lebih baik diasah sejak dini, karena melihat perkembangannya sekarang tergolong pesat. "Akan jadi masalah tersendiri bila masyarakat kita buta IT alias gaptek," tegasnya sambil memasang wajah serius.(**)
----------------


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top