Menelusuri Kegiatan Gafatar, Ormas yang Diikuti Dokter Rica


Nama Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) mencuat seiring menghilangnya Dokter Rica Tri Handayani bersama anaknya yang masih balita, Zafran Ali Wicaksono sejak 30 Desember 2015 silam di Yogyakarta. Rica disebut-sebut direkrut oleh Eko Purnomo dan Veni Orinanda, yang masih bersepupu. Dua orang ini merupakan aktivis Gafatar. Bagaimana aktivitas di Yogyakarta? Berikut penelusuran Rizal SN, wartawan Radar Jogja (Grup Radar Cianjur).
Kios di kawasan Taman Kuliner Nomor K67, Condongcatur, Sleman sudah tertutup sejak beberapa pekan lalu. Hanya ada plang badan penjaminan kredit yang miring.
Dari luar, tidak terlihat apa isi di dalam ruko tersebut, karena terdapat rolling door di dalamnya. Dari formulir yang ditemukan Radar Jogja, tempat tersebut diklaim sebagai kantor DPD Gafatar DIJ.
Pemilik kios di sebelahnya, Santi mengatakan, kios tersebut sempat disebut untuk kegiatan Gafatar. Bamun ia tidak mengetahui persis kegiatan organisasi tersebut.
"Nggak pernah bawa bendera Gafatar. Beberapa orang, di sini sering ngomong organisasi berbasis ketahanan pangan tapi sudah lama tidak di sini," katanya kepada Radar Jogja, Senin (11/1).
Lalu kemudian ia juga sempat menanyakan kepada Kepala UPT Taman Kuliner bahwa dikatakan kios itu adalah lembaga keuangan.
"Koperasi sebelumnya khusus untuk anggota Gafatar. Enam bulan lalu diganti lembaga, sudah beda," ungkapnya.
Selama hampir lebih dari setahun, Santi juga berhubungan baik dengan penjaga kios tersebut. Ia bahkan akrab dengan perempuan yang menjadi penjaga kios koperasi tersebut.
"Perempuan, anaknya purnawirawan TNI angkatan darat pangkat letkol. Nikahan saya sempat diundang, ternyata Islam pake kerudung," tuturnya.
"Perempuannya itu sederhana, kalau datang selalu bersih-bersih nyapu ngepel, padahal anaknya berpangkat. Kalau suaminya anak kepala dinas di Kalimantan," jelasnya.
Ia juga mengatakan, para penghuni yang diduga Gafatar sepengetahuannya tidak pernah beribadah. Bahkan pernah dalam sepekan dua selalu menyanyi-nyanyi di dalam kios yang hanya seluas 4x4 meter.
Kalau penghuni yang dulu nggak salat. Nggak pernah salat. Mereka sampai tanya kok pengin tahu soal Gafatar to," sebutnya.
Seingatnya, mereka masuk sekitar Oktober 2014 dan pada pertengahan 2015 mereka pergi. Mereka juga menyebut anggota Gafatar telah banyak berada di Indonesia.
"Kalau yang masuk kedua sudah mau salat, sebelumnya ndak mau salat," terangnya.
Sementara itu keamanan setempat Suroto mengatakan, bahwa memang yang menyewa di Kios 67 pernah nyanyi-nyanyi. Namun setelah diingatkan tidak lagi. Disebutkan, mereka pindah kantor ke kawasan Kotagede. (riz//awa/jpg)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top