Radar Cianjur »
Berita Utama
»
Menelusuri Kegiatan Gafatar, Ormas yang Diikuti Dokter Rica
Menelusuri Kegiatan Gafatar, Ormas yang Diikuti Dokter Rica
Posted by Radar Cianjur on Selasa, 12 Januari 2016 |
Berita Utama
Nama Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) mencuat seiring menghilangnya Dokter Rica Tri Handayani bersama anaknya yang masih balita, Zafran Ali Wicaksono sejak 30 Desember 2015 silam di Yogyakarta. Rica disebut-sebut direkrut oleh Eko Purnomo dan Veni Orinanda, yang masih bersepupu. Dua orang ini merupakan aktivis Gafatar. Bagaimana aktivitas di Yogyakarta? Berikut penelusuran Rizal SN, wartawan Radar Jogja (Grup Radar Cianjur).
Kios di kawasan Taman Kuliner Nomor K67, Condongcatur, Sleman sudah tertutup sejak beberapa pekan lalu. Hanya ada plang badan penjaminan kredit yang miring.
Dari luar, tidak terlihat apa isi di dalam ruko tersebut, karena terdapat rolling door di dalamnya. Dari formulir yang ditemukan Radar Jogja, tempat tersebut diklaim sebagai kantor DPD Gafatar DIJ.
Pemilik kios di sebelahnya, Santi mengatakan, kios tersebut sempat disebut untuk kegiatan Gafatar. Bamun ia tidak mengetahui persis kegiatan organisasi tersebut.
"Nggak pernah bawa bendera Gafatar. Beberapa orang, di sini sering ngomong organisasi berbasis ketahanan pangan tapi sudah lama tidak di sini," katanya kepada Radar Jogja, Senin (11/1).
Lalu kemudian ia juga sempat menanyakan kepada Kepala UPT Taman Kuliner bahwa dikatakan kios itu adalah lembaga keuangan.
"Koperasi sebelumnya khusus untuk anggota Gafatar. Enam bulan lalu diganti lembaga, sudah beda," ungkapnya.
Selama hampir lebih dari setahun, Santi juga berhubungan baik dengan penjaga kios tersebut. Ia bahkan akrab dengan perempuan yang menjadi penjaga kios koperasi tersebut.
"Perempuan, anaknya purnawirawan TNI angkatan darat pangkat letkol. Nikahan saya sempat diundang, ternyata Islam pake kerudung," tuturnya.
"Perempuannya itu sederhana, kalau datang selalu bersih-bersih nyapu ngepel, padahal anaknya berpangkat. Kalau suaminya anak kepala dinas di Kalimantan," jelasnya.
Ia juga mengatakan, para penghuni yang diduga Gafatar sepengetahuannya tidak pernah beribadah. Bahkan pernah dalam sepekan dua selalu menyanyi-nyanyi di dalam kios yang hanya seluas 4x4 meter.
Kalau penghuni yang dulu nggak salat. Nggak pernah salat. Mereka sampai tanya kok pengin tahu soal Gafatar to," sebutnya.
Seingatnya, mereka masuk sekitar Oktober 2014 dan pada pertengahan 2015 mereka pergi. Mereka juga menyebut anggota Gafatar telah banyak berada di Indonesia.
"Kalau yang masuk kedua sudah mau salat, sebelumnya ndak mau salat," terangnya.
Sementara itu keamanan setempat Suroto mengatakan, bahwa memang yang menyewa di Kios 67 pernah nyanyi-nyanyi. Namun setelah diingatkan tidak lagi. Disebutkan, mereka pindah kantor ke kawasan Kotagede. (riz//awa/jpg)
Populer
-
Neng Eem ingatkan masyarakat pentingnya empat pilar MPR RI CIANJUR- Anggota DPR RI, yang juga anggota MPR RI Neng Eem Marhamah Zulfa H...
-
PENGURUS MWC Karangtengah dan Mande dilantik CIANJUR-PCNU Kabupaten Cianjur gelar konsolidasi yang merupakan amat organisasi dimasa ak...
-
PERINGATI Hari Air Sedunia, AQUA Grup Tanam Pohon BOGOR-Dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia ke-25 yang jatuh pada tanggal 22 M...
-
CIANJUR-Saat ini SMAN 1 Cianjur tengah melaksanakan Ujian Akhir Semester (UAS). Humas SMAN 1 Cianjur, Siti Nuraini menuturkan, UA...
-
CIANJUR-Untuk antisipasi hal-hal yang tak diinginkan, Polres Cianjur menetapkan Kabupaten Cianjur berstatus siaga 1, akibat suhu politik...
-
CIANJUR-Kurang lebih 30 Hektare sawah di Kampung Pasirgede Desa Mekargalih, Kecamatan Ciranjang terpaksa gagal panen akibat diserang ham...
-
WARUNGKONDANG–Depot jamu yang secara diam-diam suka menjula miras dan minuman oplosan di Kampung Cibinong, Desa Ciwalen, Kecamatan Warun...
-
CIPANAS- Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) akan segera menuntaskan berbagai kasus pengrusakan areal taman nas...


Tidak ada komentar: