Dijuluki Pasangan Penyair Hijau

Berkenalan Dengan Dadang dan Eni
Mang Dadang dan Teh Eni merupakan pasangan suami istri yang sejak tahun 2011 lalu dijuluki Penyair Hijau oleh rekan-rekan pers. Tak jarang mereka menyuarakan kecintaan lingkungan dalam bentuk puisi yang dibacakan secara lantang.
Di usia yang sudah tidak terbilang muda lagi, saat ini Mang Dadang dan Teh Eni tetap getol menyadarkan seluruh lapisan masyarakat supaya peduli terhadap lingkungan. Bahkan Kementerian Kehutanan mendukung langsung pada pasangan yang berjuluk Penyair Hijau tersebut untuk terus kampanye di lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Mang Dadang diketahui merupakan purna bakti sektor kehutanan, yang pada tahun 2006 diperbantukan di BUMN Perum Perhutani unit III Jabar-Banten hingga 2012. Ia juga aktif di Kepanduan Satuan Karya pramuka wanabakti nasional dan kesenian sampai sekarang. Sementara istrinya, Eni berprofesi sebagai ibu rumah tangga yang aktif di dunia kesenian.
Hingga kini, tercatat ada beberapa lembaga yang direkomendasikan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kepada mereka untuk dilangsungkan kampanye peduli lingkungan, seperti Dirjen PHP Lestari, Dirjen PDAS dan HL, Dirjen KSDAE, Dirjen PPKL, Dirjen PSL dan B3, serta BP2SDM.
Sementara itu, sekolah yang direkomendasikan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, antara lain, SMK Bakti Rimba Bogor, SMKN 1 Pagelaran Cianjur, SMKN 1 Pasir Kuda Cianjur, SMKN 4 Garut, SMK Rimba Bahari Sumedang.
“Tentu ini merupakan suatu kehormatan bagi kami, dimana pada usia ini, masih dibutuhkan dan dipercaya untuk melakukan kegiatan-kegiatan bermanfaat, seperti halnya kegiatan kampanye lingkungan ini," ujar Dadang kepada Radar Cianjur.
Atas dedikasinya, sejumlah penghargaan telah diraih oleh pasangan penyair hijau tersebut, seperti penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) bidang puisi lingkungan dengan tema Hutan dan Budaya Jambore Nasional Tahun 2006. Lalu ada dua buah puisi karyanya berjudul “Alam” dan “One Man One Tree” telah mendapat apresiasi dan ditandatangani oleh presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2008 dan 2009, sekaligus dikukuhkan sebagai Parasasti Himbauan Pelestarian Lingkungan dan telah diabadikan sejak Februari 2010 di Musium Kementerian Kehutanan Republik Indonesia Jakarta.
"Ada juga puisi berjudul “Hutan” mendapat apresiasi dan ditandatangani oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya pada tanggal 20 Desember 2014 di Cibubur Jakarta. Sejak itu pula kerjasama Kampanye Lingkungan antara Penyair Hijau dengan Kementerian Kehutanan untuk lapisan masyarakat sampai sekarang terus terjalin," papar Dadang.
Ternyata tak cukup sampai disitu, Dadang kembali mendapat Penghargaan Satya Lencana 10 tahun, serta penghargaan Pancawarsa V dari Kepanduan Kwartir Daerah Jawa Barat, hingga sejumlah penghargaan lainnya yang masih mengantre untuk disebutkan.
“Dalam kehidupan, filosofi yang selalu kita pegang adalah filosofi tentang daun. Daun ketika hidup terus memberikan oksigen itu sangat bermanfaat untuk kehidupan, terutama manusia. Ketika tugasnya selesai, daun kering dan mati, kemudian jatuh ke tanah. Meski sudah mati, daun tetap memberikan manfaat dengan jadi kompos untuk menyuburkan tanaman. Untuk itu, manusia tentu patut mencontoh daun yang mampu memberikan manfaat," tutup Dadang penuh makna.(**)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top