Plus dan Minus Perubahan Jalur Angkot Sebagian Untung, Sisanya Rugi




CILAKU – Sejumlah jalur trayek angkutan kota (angkot) di Kabupaten Cianjur telah dirombak pasca dipindahkannya lokasi pasar dari Pasar Induk Cianjur dan Pasar Induk Bojongmeron ke Pasar Induk Pasirhayam. Hal itu dilakukan, selain untuk mengurai kemacetan dan penumpukan angkot dalam areal perkotaan, juga dilakukan untuk menopang keberadaan Pasar Pasirhayam. Namun dirombaknya trayek angkutan kota tersebutmembuat sejumlah sopir angkot sebagian merasa diuntungkan, juga ada yang dirugikan.
Setiap kali ada tatanan yang dirubah, masyarakat tentu memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut, sebelum bisa benar-benar menerimanya, dan memanfaatkan sekecil apapun perubahan tersebut.
Bergesernya lokasi pasar ke Pasirhayam, dan dirubahnya beberapa rute angkutan masih menjadi keluhan warga kota dan para pengemudi angkot karena belum terbiasa dengan tatanan yang ada, dan tak jarang hal tersebut malah membuat mereka menjadi rugi.
Abuy (33),salahseorang sopir angkotjurusan Cianjur-Gekbrong, kepada Radar Cianjur hari Minggu (24/01) kemarin di terminal bayangan pertigaan Pasir Hayam, Kecamatan Cilaku, mengaku pendapatannya menurun tajam sejak dirubahnya jalur angkutan.
"Sejak rute dirubah, kami tidak diperkenankan lagi mengakses jalan Aria Cikondang. Kami harus ke Terminal Pasirhayam," ujar Abuy.
Menurutnya, hal tersebut jelas merugikannya, karena rute angkotjurusan Cianjur-Gekbrong menjadi jauh lebih pendek.
"Penumpang kami banyak dari rute yang lama. Sekarang harus ke terminal Pasirhayam. Mau dapat banyak penumpang gimana? Rute kami jadi pendek,” keluhnya.
Ia juga mengeluhkan kondisi terminal yang membutuhkan waktu lebih lama untuk mengaksesnya, sehingga ia lebih memilih untuk lebih sering berada di terminal tak resmi alias bayangan untuk mendapatkan penumpang. Saat ini, setiap hari ia harus menyerahkan setoran yang jumlahnya ditentukan oleh pemilik angkot sebesar 100 ribu rupiah per hari.
“Sisa pendapatan adalah jatah saya. Saat ini pendapatan selalu kurang dari jumlah setoran, saya harus menanggung kekurangannya,” pungkas Abuy.
Hal berbeda diungkapkan Indra (25), sopir angkot 02B jurusan Terminal Pasirhayam-Jalan Siti Jenab, ia mengaku setelah dirubahnya rute angkutan, justru pendapatannya jadi bertambah.
“Setelah dirubah, rute saat ini yang melintas ke Jalan Siliwangi hanya angkot 02B, jadi tidak punya saingan trayek lain,” ujarnya.
Di luar keluhan para pengemudi angkutan, banyak warga yang setiap harinya mempergunakan angkot sebagai sarana angkutan utama, menjadi kebingungan dengan perubahan rute ini, terlebih mereka yang sudah lama berlangganan angkutan yang sama. Dengan bergesernya lokasi pasar dan dirubahnya rute, banyak di antara mereka yang kehilangan kendaraan langganannya.
Ekses lain dari perubahan ini juga melahirkan terminal-terminal bayangan baru di dekat lokasi pasar dan Terminal Pasirhayam, sehingga harapan untuk berkurangnya kemacetan belum bisa terpenuhi.
Namun, separah apapun kondisi yang timbul karena perubahan-perubahan ini, banyak pihak yang tetap optimis dan menegaskan bahwa segala sesuatu yang baru selalu perlu penyesuaian, yang juga membutuhkan waktu, dan meminta semua pihak untuk bersabar.(**)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top