Dulu Dikejar-kejar Belanda-Jepang, Sekarang Satpol PP


BERJUANG terus semasa hidupnya sudah menjadi bagian perjalanan hidup seorang pedagang ketupat sayur di Jalan Ir H Juanda bernama Ilyas. Usianya yang kini sudah 93 tahun itu pernah membela negara mengusir penjajah.
  TAK ingin disebut 'Veteran', Ilyas yang hampir berusia satu abad ini pernah mengangkat senjata mengusir penjajah. Dua zaman penindasan yang dialaminya mulai dari Belanda hingga Jepang tak membuatnya surut berjuang di zaman saat ini.
 Kepada Radar Cianjur, bapak yang dikaruniai empat anak ini mengaku, zaman perjuangan sebelum kemerdekaan RI sangatlah sulit. Ia harus berpindah-pindah lokasi agar letak pasukannya tak dapat diketahui musuh negara. “Abah lupa sudah berapa kali lari, serang dan lari lagi. Semuanya itu dilakukan setiap hari,” tutur kakek yang sudah memiliki 13 cucu ini.
  Tak ingin meminta apresiasi atau sejumlah penghargaan apalagi dana. Ilyas sudah merasa bersyukur dengan rezeki kesehatan dan kekuatan yang diberikan Allah SWT kepada dirinya hingga saat ini.
 Namun, meski pernah melawan penjajah dan bertaruh nyawa, Ilyas mengungkapkan, takut apabila harus berhadapan dengan petugas Satpol PP. “Kalau sekarang sudah enggak berani kalau dikejar-kejar petugas Satpol PP,” tambah buyut 2 cicit ini.
 Sehari-hari, Ilyas harus berangkat dari kediamannya di Kelurahan Pamoyanan setiap hari pukul 04:00. Tentu saja, untuk menjual satu porsi ketupat sayur kepada masyarakat Cianjur. Harga yang ditawarkan Ilyas relatif murah, satu mangkok ketupat sayur hanya Rp5 ribu.
 Ilyas pun tak pernah menghitung pemasukannya setiap hari karena semua uang yang didapatinya segera disimpan. Namun, ada kendala yang tak sanggup ia hadapi. Alam dengan musim hujan saat ini membuat dirinya sulit untuk berjualan. “Kalau hujan jadi enggak bisa jualan. Diem aja di rumah,” ungkapnya dibumbui dengan senyuman. (*)






Tidak ada komentar:

Write a Comment

⬆
Top