Tak Terima, Polres FC Bogem Wasit

CIANJUR-Sungguh malang nasib Yandi Setiadi (34). Bukannya mendapat penghargaan saat menjadi wasit ketika memimpin pertandingan, ia malah harus dilarikan ke RSUD Cianjur setelah jadi bulan-bulanan salah satu klub yang berlaga di ajang Bhayangkara Cup, Senin (25/4) kemarin di Stadion badak Putih, Pamoyanan, Cianjur.

Informasi yang dihimpun, saat itu laga sengit berlangsung antara kesebelasan Celong FC Cipanas kontra kesebelasan Polres Cianjur. Hingga peluit akhir pertandingan usai, skor dimenangkan oleh kesebelasan Celong FC Cipanas dengan skor tipis, 3-2.

Namun, tak lama berselang setelah laga usai, Yandi kemudian dihampiri oleh sejumlah pemain kesebelasan Polres Cianjur. Dalam hitungan menit, suasana berujung ricuh lantaran salah satu kesebelasan menuding wasit tak mampu memimpin jalannya pertandingan dengan baik, hingga akhirnya mereka yang tak terima, melakukan protes dengan cara yang ekstrim.

Yandi saat itu juga diamankan hingga kemudian langsung dilarikan ke RSUD Cianjur membenarkan hal tersebut. Ia mengaku telah dipukuli oleh sejumlah oknum anggota polisi saat itu. Yandi mengaku, awalnya ia ditanduk salah seorang pemain dari arah belakang, disusul pukulan demi pukulan yang ia terima secara bertubi-tubi.

“Ya, saya telah dipukuli, pertama saya ditanduk dari belakang serta dari arah depan. Saya minta keadilan dari penegak hukum. Saya minta ini diproses sesuai prosedur hukum yang berlaku,” ujar Yandi nampak kesal.

Saat dihubungi, salah seorang panitia pertandingan, Beni Sumarna mengaku belum mau berkomentar terkain insiden tersebut. “Mohon maaf kang, kami masih belum bisa memberi komentar apapun. Belum ada keputusan soal hasil pertandingan, masih kami rembukan kembali bersama panitia lainnya,” kata Beni.

Terpisah, Kapolres Cianjur, AKBP Asep Guntur Rahayu menegaskan, pihaknya hingga kini tengah menyelidiki dan mendalami insiden tersebut. Asep Guntur siap untuk memproses sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku.

“Masih kami selidiki kebenarannya. Skan kami dalami, apakah yang melakukan pemukulan itu sebagai anggota polisi atau pemain sepakbola,” singkat dia.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Kabupaten Cianjur, Wawan Setiawan mengaku kurang begitu mengetahui ikhwal peristiwa pemukulan wasit tersebut. Menurutnya, untuk laga turnamen semacam ini, memang seringkali melibatkan pihak lain diluar PSSI Cianjur, terutama untuk wasit. Bahkan, untuk gelaran Bhayangkara Cup ini saja, Wawan mengaku belum mendapat pemberitahuan resmi dari panitia maupun pihak terkait.

“Berkaitan dengan turnamen ini, saya tidak mengetahuinya. Tidak ada pemberitahuan sama sekali. Tahu-tahu ada peristiwa pemukulan,” papar Wawan.

Kendati demikian, sebagai insan sepakbola Cianjur, Wawan menyayangkan peristiwa pemukulan  terhadap wasit semacam itu harus terjadi. Kata Wawan, seharusnya sepakbola yang menjunjung tinggi jiwa sportifitas menjadi sarana pemersatu..

“Ini preseden buruk bagi dunia olahraga, terutama dunia persepakbolaan Cianjur. Sangat tidak elok dilihat. Apalagi pecinta sepakbola itu segala usia,” ungkapnya.

Bukan tanpa alasan. Pasalnya, masih kata Wawan, sepakbola sangat diminati oleh berbagai lapisan masyarakat berbagai usia. Ia berharap insiden pemukulan seperti ini adalah yang terakhir kalinya di Cianjur dan tak terulang di kemudian hari.



Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top