Radar Cianjur »
Berita Utama
»
Perjuangan Nining, Warga Kolaka Utara, untuk Bersalin, Ditandu selama Sembilan Jam, Harus Jalan Kaki 15 Kilometer
Perjuangan Nining, Warga Kolaka Utara, untuk Bersalin, Ditandu selama Sembilan Jam, Harus Jalan Kaki 15 Kilometer
Posted by Radar Cianjur on Selasa, 31 Mei 2016 |
Berita Utama
![]() |
SALING MEMBANTU: Warga Desa Parutellang, Kecamatan Ngapa,
Kabupaten Kolaka Utara, menandu Nining saat hendak mencari bantuan medis ke
puskesmas. Foto atas,
Nining saat berada di rumah sakit.
|
Di daerah-daerah terpencil yang tidak memiliki bidan dan
tenaga medis, cara tradisional pun menjadi pilihan. Misalnya, yang dialami
Nining, warga Dusun 6, Desa Parutellang, Kecamatan Ngapa, Kabupaten Kolaka
Utara (Kolut), Sulawesi Tenggara.
MUHAMMAD RUSLI, Kolaka Utara
Suara tangis memecah keheningan malam di Dusun 6 Desa
Parutellang pekan lalu. Teriakan tersebut berasal dari rumah Rudi, 45, salah
seorang warga. Ternyata, malam itu istri Rudi yang bernama Nining, 39, sedang
mengalami kesakitan yang luar biasa saat melahirkan anak keduanya.
Bidan dan dukun beranak tidak ada di desa tersebut. Akses
jalan menuju ke ibu kota kecamatan terjal, berbatu, dan tak bisa dilewati
kendaraan roda empat. Layanan PLN pun belum masuk. Gelapnya malam membuat
suasana semakin mencekam.
Tetangga Rudi yang rumahnya berjauhan mulai berdatangan.
Mereka berharap Nining bisa melahirkan dengan bantuan ibu-ibu di desa tersebut.
Namun, hingga fajar menyingsing, bayinya tak kunjung lahir. Anak itu
terkungkung di dalam rahim ibunya.
Warga pun menyarankan Rudi agar membawa istrinya ke
puskesmas terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis. Sayang, perjalanan ke
Puskesmas Ngapa harus ditempuh dengan berjalan kaki sejauh 15 kilometer dengan
medan jalan yang sangat memprihatinkan.
Meski demikian, semangat Rudi bersama warga tetap tinggi.
Mereka pun sepakat membawa Nining ke Puskesmas. Nining ditandu dengan sarung
dan sepotong bambu yang dipikul dua orang. Ada sekitar 30 warga yang siap
memikul tandu bambu tersebut secara bergantian.
Mereka melewati jalan berbatu yang terjal dan licin. Mereka
berangkat pukul 07.00 dan tiba di Puskesmas Ngapa sekitar pukul 16.00.
Perjalanan 15 kilometer itu ditempuh dalam sembilan jam.
Kegelisahan pun sempat
menyelimuti Rudi dan warga karena Nining sempat mengalami pendarahan.
Mereka terus berusaha melewati jalan yang licin tersebut.
Fisik perempuan 39 tahun itu tetap kuat meski rasa sakit tak lagi tertahankan.
Setibanya di Puskesmas Ngapa, perawat yang bertugas tak bisa berbuat banyak.
Mereka hanya memberikan pertolongan pertama dengan menyuntikkan infus kepada
Nining. Pihak puskesmas kemudian menyiapkan surat rujukan agar Nining dibawa ke
BLUD Djafar Harun untuk ditangani dengan lebih intensif.
Nining dibawa dengan ambulans. Untuk menuju rumah sakit
berpelat merah di Kabupaten Kolaka Utara itu, mereka harus menempuh 70
kilometer. Namun, akses jalan sudah bagus sehingga hanya dibutuhkan 30 menit
untuk sampai ke sana. Setibanya di rumah sakit, Nining pun langsung dirawat.
Persalinan harus dilalui dengan cara caesar.
Perjuangan Rudi bersama 30 warga Desa Parutellang pun tidak
sia-sia. Nining dan anak keduanya berhasil diselamatkan. Operasi berjalan
sukses, meskipun sebelumnya sempat membuat panik warga.
Sebab, hanya tersisa
sekantong stok darah. Padahal, dibutuhkan dua kantong darah untuk melaksanakan
operasi tersebut. Harus ada relawan yang bersedia menyumbangkan darahnya.
Untung, PMI Kolut segera merespons dengan mengutus
anggotanya untuk mendonorkan darah di bank darah RS. “Akses jalan ke kampung
kami masih terisolasi. Sepeda motor pun sulit melintas karena medannya terjal
dan licin,” ujar Rudi saat ditemui di BLUD Djafar Harun Kolaka Utara Sabtu
(28/5).
Kekompakan warga Desa Parutellang sangat membantu. “Kalau
warga tidak menolong, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Kami bergantian
menggotong tandu bambu. Semua orang lemas saat tiba di tujuan,” tuturnya.
Hingga sore kemarin, Nining dirawat di BLUD Djafar Harun.
Saat ditemui, Nining mengaku rasa sakitnya telah hilang. Operasi di perutnya
hanya menyisakan sedikit rasa nyeri. Dia pun terlihat sehat. Senyum bahagia
terlihat di wajahnya.
Nining tak banyak bercerita tentang ancaman maut yang
dilewatinya. Namun, dia sangat bersyukur atas bantuan warga di desanya. Mereka
diminta beristirahat untuk sementara waktu di rumah Kades Parutellang setelah
keluar dari rumah sakit.
Kisah Nining merupakan salah satu contoh yang dialami warga
Desa Parutellang, di mana mayoritas warganya berprofesi sebagai petani.
(*/JPG/c5/diq)
Populer
-
CIANJUR-Tiga siswa SMAN 1 Cianjur berhasil mendapatkan nilai ujian nasional tertinggi. Ketiga siswa itu diantaranya, Muhammad Audie (1...
-
CIANJUR-Koperasi Universitas Suryakancana (Unsur) Cianjur membukukan perputaran dana anggota sebesar Rp1,5 Miliar. Padahal Koperasi bagi k...
-
CIANJUR - Sepeda Motor sudah jadi alat transfortasi yang dibutuhkan. Tak heran hampir semua orang mempunyai sepeda motor. Meski demi...
-
CIANJUR-Saat ini SMAN 1 Cianjur tengah melaksanakan Ujian Akhir Semester (UAS). Humas SMAN 1 Cianjur, Siti Nuraini menuturkan, UA...
-
CIANJUR-Pemerintah pusat melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI telah mengatur kebijakan baru terkait biaya pernikahan sejak beberapa ...
-
CIANJUR-Untuk antisipasi hal-hal yang tak diinginkan, Polres Cianjur menetapkan Kabupaten Cianjur berstatus siaga 1, akibat suhu politik...
-
CIANJUR-Kurang lebih 30 Hektare sawah di Kampung Pasirgede Desa Mekargalih, Kecamatan Ciranjang terpaksa gagal panen akibat diserang ham...
-
WARUNGKONDANG–Depot jamu yang secara diam-diam suka menjula miras dan minuman oplosan di Kampung Cibinong, Desa Ciwalen, Kecamatan Warun...


Tidak ada komentar: