Daging Murah Lokal Mustahil


* Daging Lokal Vs Daging Beku Impor

CIANJUR-Meski ketersediaan daging sapi masih terbilang surplus hingga jelang Idul Fitri nanti, namun kisaran harga daging sapi segar di pasaran masih diatas Rp100 ribu membuat daging sapi seolah menjadi barang konsumsi mewah. Betapa tidak, sejak memasuki awal Ramadan tahun ini, harga daging sapi segar di sejumlah pasar tradisional, berkisar antara Rp105 ribu per kilogram, merangkak naik jadi Rp110 ribu hingga Rp120 ribu.

Seperti diberitakan sebelumnya, harga daging sapi segar di Pasar Muka Ramayana saja dipatok Rp110 ribu per kilogram. Sama halnya di Pasar Induk Pasir Hayam dan Pasar Cipanas. Harga daging sapi segar bahkan mencapai Rp120 ribu per kilogram. Padahal, Wakil Bupati Cianjur, Herman Suherman sudah mengupayakan kisaran harga daging sapi maksimal Rp100 ribu per kilogram. Namun nyatanya, upaya tersebut dinilai meleset.

Ketua DPRD Kabupaten Cianjur, Yadi Mulyadi, belum lama ini juga melakukan operasi ke sejumlah pasar tradisional, namun kembali tak membuahkan hasil. Pedagang, tetap saja menjual daging sapi diatas Rp100 ribu per kilogramnya, lantaran yang sudah dipatok dari suplier juga terbilang tinggi.
Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Cianjur, Judi Adhi Nugroho mengaku sudah meminimalisir lonjakan harga tersebut. “Kita sudah meminimalisir agar harga daging sapi ini tidak melambung tinggi. Maka dari itu, harga tersebut berdasarkan kesepakatan kita waktu itu,” kata Judi beberapa waktu lalu.

Mengingat banyaknya permintaan daging sapi di bulan Ramadan, kenaikan harga seolah dianggap sebagai hal yang lumrah. Seperti dikatakan Kepala Seksi (Kasi) Bina Kesehatan Ikan dan Hewan, Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Cianjur, M Agung Rianto.

Data yang ia peroleh di lapangan, sejak memasuki awal bulan Ramadan, Rumah Potong Hewan (RPH) yang biasanya memotong rata-rata sepuluh ekor sapi per hari, kini meningkat tajam menjadi rata-rata 30 ekor sapi per hari. Sementara untuk pemotongan ayam, yang biasanya hanya memotong 100 ekor per hari, meningkat menjadi 500 ekor per hari.

“Kami menyuplai dari PT Pasir Tengah dan mitra Agro Sangkuriang untuk sapi potong impor. Sementara untuk ayam potong/ayam sayur banyak ketersediaanya dari PT QL Trimitra dan para peternak kemitraan,” papar Agung kepada Radar Cianjur, kemarin.

Jumlah pemotongan daging sapi segar dan daging ayam, masih kata Agung, akan kembali berangsur turun ketika memasuki pertengahan Ramadan. Namun, menjelang Idul Fitri, jumlah tersebut diperkirakan kembali melonjak drastis hingga mencapai klimaksnya. “Tingginya harga jual memang masih menjadi kendala utama, baik untuk penjual maupun pembeli. Daging sapi tetap saja diatas Rp100 ribu per kilogram, sementara daging ayam diatas Rp30 ribu per kilogram,” imbuh Agung memaparkan.

Di pihak lain, penjual harus dihadapkan pada pilihan sulit dimana di bulan Ramadan ini banyak pihak menggelar Operasi Pasar Murah (OPM) yang digelar dalam waktu tertentu. Belum lagi, kini pemerintah mulai memasok daging beku impor. Kendati daging beku impor hanya diminati sebagian kecil masyarakat. Masyarakat Cianjur lebih suka mengkonsumsi daging segar, bukan daging beku,” imbuh Agung.

Menyoal lonjakan harga daging sapi segar di Cianjur, Agung menilai, penyebab kenaikan secara ekonomi akibat adanya proses supply and demand. Tingginya permintaan, selalu diikuti oleh lonjakan harga. Selain itu, lanjut Agung, kedua mata rantai jual beli, masing-masing pelaku pasar ingin memperoleh keuntungan, mulai dari bandar sampai dengan penjual di pasar.

“Cianjur juga tidak mempunyai peternakan budi daya, yang ada hanya peternakan penggemukan saja. Harga sapi lokal masih tinggi, karena harga anak sapi lokal masih tinggi. Kalau digemukan, kenaikan berat badan per hari masih rendah,” papar Agung.

Selain itu, sambung Agung, harga konsentrat pakan tambahan juga dianggap masih mahal, harga rumput per pikul mahal. Banyaknya biaya operasional yang mengakibatkan sapi lokal masih mahal. Sangat jauh berbeda dengan sapi impor, dimana sapi yang dikirim merupakan sapi yang masa penggemukannya relatif singkat, yakni sekitar 3-4 bulan dengan pertambahan berat badan relatif bagus.

“Karenanya, pengendalian harga sangat sulit karena tidak adanya subsidi dari pemerintah. Kalaupun ada, hanya berupa operasi pasar yang terbatas di tempat tempat tertentu. Ketersedian atau stok operasi pasar juga harus dibatasi. Kalau tidak, akan merusak ketersediaan di pasar tradisional,” sambungnya.

Harga baru bisa ditekan jika dibuat regulasi biaya rendah bagi barang import bahan pokok, disertai subsidi pemerintah mulai dari pakan, transportasi dan bibit atau sapi bakalan yang murah bagi masyarakat peternak. “Daging beku impor bisa harga rendah karena mata rantai tata niaganya pendek. Mulai dari suplier, bandar sampai pedagang. Harga dari negara asal per kilogramnya juga sudah rendah,” tutup Agung.(lan)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top