Radar Cianjur »
Nasional
»
Bung Karno Berdiskusi dengan Pendiri NU, Muncullah Halalbihalal
Bung Karno Berdiskusi dengan Pendiri NU, Muncullah Halalbihalal
Posted by Radar Cianjur on Senin, 25 Juli 2016 |
Nasional
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. Foto: dokumen JPNN.Com
BATU-DPD PDI Perjuangan Jawa Timur menggelar halalbilal di Kota Batu, Sabtu (24/7). Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto yang hadir pada acara itu membeber tentang sejarah tentang halalbihalal.
Menurut Hasto, halalbihalal bermula ketika Presiden Soekarno bertemu dengan salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Abdul Wahab Hasbullah pada Ramadan 1948. Bung Karno memanggil KH Abdul Wahab guna membicarakan situasi politik kala itu.
“Para elite politik tidak mau bersatu itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa, dan dosa itu haram,” ujar Hasto mengutip pembicaraan Bung Karno dengan KH Abdul Wahab yang juga pendiri surat kabar Soeara Nahdlatul Oelama.
Karenanya, Bung Karno menginginkan agar para elite bisa duduk bersama. Para elite politik kala itu yang saling menyalahkan harus bisa sama-sama memaafkan saat Idulfitri.
Dari situlah KH Abdul Wahab memunculkan istilah halalbihalal. “Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah halalbihalal," ucap Hasto menirukan ucapan KH Abdul Wahab ke Bung Karno.
Ternyata Bung Karno menerima saran KH Abdul Wahab. Akhirnya pada saat Idulfitri 1948, Proklamator RI itu mengundang para tokoh politik ke Istana Negara untuk bersilaturahmi.
"Bung Karno paham diferensiasi dalam politik itu penting. Sehingga saat itu beliau menginginkan sesuatu istilah yang berbeda," ujar Hasto.
Dalam kesempatan itu Hasto juga menyampaikan pesan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri tentang semangat gotong royong dan halalbihalal. Megawati berpesan bahwa halalbihalal bisa menjadi energi positif untuk bergotong royong.
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputi berpesan kepada seluruh kader banteng untuk membangun persaudaraan, memperbaiki diri dan mengutamakan musyarawah untuk mufakat dan prinsip gotong royong. Hasto mengatakan, Megawati menyerukan kepada kader PDIP untuk aktif dalam membangun desa, merehabilitasi daerah kumuh, hingga mendirikan perpustakaan di perdesaan.
“Ini jawaban partai yang mengaku punya roh kerakyatan, yakni bagaimana membumikan PDIP. Itu tugas bersama kader, termasuk mempraktikkan gotong royong," ujar Hasto menirukan pesan Megawati.(ara/jpnn)
Populer
-
CIPANAS- Kondisi cuaca buruk selama Februari 2016, mengakibatkan sejumlah harga sayur-mayur di Pasar Tradisional Pasar Cipanas meningk...
-
FOTO: ILLUSTRASI PACET- Empat orang pelaku penipuan bermodus transaksi online diringkus Unit III Subdit Jatanras Ditreskrimum Pold...
-
JAKARTA-Rapat internal Komisi IX DPR akhirnya memutuskan dibentuknya Panitia Kerja (Panja) Vaksin Palsu. Hal ini sebagai tindak lanjut...
-
PARIS Saint Germain (PSG) mencul menjadi salah satu klub yang diperhitungkan di Benua Eropa, selama empat tahun belakangan ini. Dukung...
-
CIANJUR – Beragam potensi alam di Cianjur Selatan (Cisel) semakin hari semakin terkuak oleh masyarakat luas. Bupati Cianjur, Irvan Ri...
-
Encep Suganda Selama puluhan tahun pria yang satu ini telah menjadi aparat Desa Sindangjaya. Tujuannya hanya-lah satu yakni ingin mem...
-
JAKARTA-Ketua Umum Dewan Koordinasi Nasional (DKN) Garda Bangsa, H Cucun Ahmad Syamsurijal menyambut positif langkah Partai Kebangkita...
-
Pemerintah Kecamatan Karangtengah bina perangkat Desa Sukamantri termasuk BPD, dan LPM. Acara dilaksanakan di Aula Desa Sukamantri, de...


Tidak ada komentar: