Pertahankan Rasa dengan Cara Tradisioanal

FOTO: M SUYUDHI/ RADAR CIANJUR
TELITI: Seorang pegawai Abon Karawati sedang membuat dan mengolah pembuatan Abon.



CIANJUR- Dalam proses pembuatan abon Karwati semenjak tahun 1993 hingga sekarang masih memakai alat tradisional. Walaupun kemajuan teknologi terus berkembang pada zaman sekarang namun abon Karwati ini masih tetap mempertahankan cara pembuatan dahulu. Salah satu kemajuan teknologi, yakni adanya mesin penggiling yang dapat membuat olahan makanan menjadi mudah dan cepet dalam prosesnya.

Akan tetapi menurut Pemilik Abon Karwati, Iip (48), pandangannya bertolak belakang akan hasil sebuah makanan yang diolah menggunakan mesin giling atau lainnya. "Kalau kita masih memakai manual dengan tangan manusia dengan cara Abon yang kita olah ditumbuk. Bilamana menggiling memakai mesin, maka hasil rasa dari abon ini akan hilang," ujarnya.

Pasalnya, bilamana menggunakan mesin giling dalam melakukan olahan abonnya, maka abon tersebut hasilnya akan rata dan hancur benar juga tidak ada rasa yang menyisa dari hasil olahan. Selain itu, penggodogan abonnya pun masih menggunakan cara lama, seperti memakai kayu bakar dibandingkan kompor gas. "Sengaja abon yang kita buat dibuat dengan katel yang besar, dimana katel tersebut yang dibuat apinya menggunakan kayu bakar. Soalnya biar rasa abon yang dibuat lebih menempel dan tercium harumnya. Sedangkan memakai gas, rasa, aroma dan matangnya kurang merata," kata Iip.

Disebabkan pembuatan abon Karwati ini masih menggunakan cara tradisional dengan memakai kayu bakar, mau tak mau ia pun dalam setiap harinya sering memesan sebuah kayu bakar sebanyak dua mobil L300. Dalam akuannya, setiap pengiriman kayu bakar, ia mengeluarkan uang sebanyak Rp 400 Ribu dalam setiap harinya untuk pembelian kayu bakar yang dibutuhkannya. "Tidak apa-apa a karena kita tujuannya untuk mempertahankan cita rasa abon Karwati yang alhamdulilah sudah banyak peminat dan pembelinya," terangnya.

Walaupun memakai cara tradisional, tak disangka abon Karwati ini sudah melejit ke Manca Negara dan terkenal di dalam Indonesia."Berkat perjuangannya dengan merintis dari dulu. Sekarang abon kita sudah dikirim dan dikonsumsi di Singapore, Malaysia dan Dubei. Kalau untuk di Indonesia sendiri, kita sudah keluar pulau Jawa, kaya ke daerah Kalimantan, Bali, juga wilayah lainnya masih banyak," ungkap Pemilik Abon Karwati.

Oleh karenya, Abon Karwati ini banyak juga dipakai ajang berbisnis oleh kalangan anak muda di Cianjur. Seperti yang dijalani Darda (28) asal warga Jalan Pramuka, Kecamatan Karang Tengah. DImana ia menggunakan Media Sosial (medsos) untuk mempromosikan abon Karwati, sekaligus berjualan makanan abon tersebut untuk mencari pemasukan pada dompetnya. "Sampingan aja bang, karena yang punyanya juga temen. Selain pengen jualan, juga cari keuntungan dari penjualannya, lumayan," imbuh Darda.

Hal ini sudah ia jalani dari bulan-bulan lalu. melakukan dan ikut menjual abon Karwati memakai medsos melalui Blackberry Messenger dengan cara membrodcast penawaran penjualan abon tersebut. "Lumayan juga dimana kalau ada untungnya abon yang kejual. Alasan saya jual abon Karwati juga, karena mudah menjualnya. Sebab abonnya udah terkenal sama orang-orang dan laris banyak juga yang beli," tutupnya. (yud)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top