Blokade Jalan, Pedagang Cingcau Kesurupan




**Bupati Dinilai Tebar Kebohongan

FOTO: HERLAND HERYADI/ RADAR CIANJUR
PAKSA: Petugas Satpol PP Kabupaten Cianjur melakukan pembongkaran lapak cingcau, kemarin.

CIANJUR- Sedikitnya 65 pedagang cingcau yang sudah bertahun-tahun berjualan di Jalan Raya Bandung, Desa Haurwangi, Kecamatan Haurwangi hanya bisa pasrah saat lapaknya dibongkar jajaran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Cianjur pada Senin (8/8) kemarin.

Meski sempat diwarnai aksi perlawanan dengan memblokade jalan oleh sejumlah pedagang yang didominasi kaum hawa, namun tak melunturkan niat para petugas untuk membongkar puluhan bangunan semi permanen tersebut dengan menggunakan alat berat.

Beberapa pedagang bahkan sempat mengalami kesurupan lantaran tak terima sumber mata pencahariannya dibongkar paksa oleh petugas. Kasatpol PP Cianjur, Arief Purnawan beralasan, para pedagang sudah berjualan di ruas jalur cepat dan berpotensi terjadi kecelakaan kapan saja.

Terlebih, jalan tersebut merupakan ruas jalan protokol yang tidak diperkenankan untuk para pedagang berjualan di bahu jalan. Karenanya, Pemkab Cianjur melalui Satpol PP berupaya membenahi dengan memindahkannya ke lokasi yang sudah disediakan.

"Ini adalah jalur cepat, jadi kami melakukan sebuah upaya pembenahan. Tidak bermaksud memiskinkan mereka, Bukan mereka tidak boleh menjalankan usaha, mari kita sama-sama di tempat yang layak. Bukan tidak mungkin terjadi kecelakaan kapanpun," ungkap Arief saat diwawancarai awak media.

Pihaknya menambahkan, pemerintah mempunyai keinginan untuk membuat cingcau sebagai ikon kuliner Cianjur dengan catatan lapak tertata rapi di tempat yang telah disediakan pemerintah, bukan di bahu jalan. "Kita ke depan punya niatan ini akan ada di dalam rest area yang sudah disediakan, ada di sebelah kiri jalan. Lokasinya sudah tersedia, dilakukan pembangunan dulu secara bertahap," imbuhnya.

Upaya tersebut, menurut Arief, semata-mata agar masyarakat merasa aman dan nyaman berjualan. Kendati menuai respon beragam dari masyarakat, Arief menilai hal tersebut merupakan gejala yang wajar. Pasalnya, pemerintah beritikad baik untuk melakukan dukungan dan diharapkan turut mendapat respon positif dari masyarakat, khususnya para pedagang.

"Yang dipindahkan sekitar 65 pedagang. Mau tidak mau mereka akan kita pindahkan ke rest area yang sudah disediakan. Pro dan kontra merupakan hal yang biasa. Pembenahan bukan hanya dari pemerintah, tapi juga diharapkan ada respon dari bawah," pungkasnya.

Sementara itu, salah seorang pedagang cingcau, Odit (50) mengaku kecewa setelah dirinya merasa dibohongi oleh pemerintah, khususnya Bupati. Pasalnya, ia beserta pedagang lainnya sempat dijanjikan untuk dibangun masjid di rest area tersebut. Sebelum masjid rampung dibangun, pedagang dijanjikan takkan direlokasi terlebih dahulu, apalagi dibongkar paksa.

"Sebelumnya kan ada bupati kesini pas Jumatan, disaksikan orang banyak. Dia mengatakan mau bikin masjid di rest area. Nanti kalau sudah beres masjid tukang cingcau mau dipindahkan ke dalam. Ibu-ibu ditanya, mau dipindahkan kalau sudah beres. Tapi ternyata masjid belum dibangun ini sudah dibongkar duluan," kesal Odit.

Ia menilai pemerintah tidak memiliki rasa perikemanusiaan terhadap masyarakat miskin yang mengandalkan usaha berjualan cingcau sebagai sumber mata pencaharian. Ia pun berharap kedepan, pemerintah lebih bijaksana dalam membuat keputusan, terlebih untuk masyarakat miskin seperti dirinya.

"Ga ada perikemanusiaannya gitu bapak bupati untuk masyarakat miskin tukang cingcau. Kalau udah beres mah diterima, terus liat itu cukup atau tidak itu tempat relokasi. Saya harap pemerintah lebih bijaksana ke masyarakat kecil," harap Odit. (lan/yud)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top