Radar Cianjur »
Berita Utama
»
Inilah Para Robin Hood dari Cianjur
Inilah Para Robin Hood dari Cianjur
Posted by Radar Cianjur on Senin, 15 Agustus 2016 |
Berita Utama
*Prawatasari Tersohor Ahli Gerilya
CIANJUR-Kisah kepahlawan tokoh-tokoh Cianjur yang turut andil merebut kemerdekaan pada masa penjajahan seolah kurang diminati. Ketokohan para dalem misalnya, kebanyakan hanya mengisahkan tentang perpindahan dari satu tempat ketempat lain atau tentang penamaan nama kampung saja.
Padahal, mengupas kisah kepahlawanan para tokoh tersebut sangat perlu diulas oleh seluruh kalangan masyarakat, terlebih dalam momentum peringatan Hari Jadi Cianjur (HJC) yang ke-339 dan HUT Prokalamasi Kemerdekaan yang ke-70.
Demikian yang dikatakan Kepala Divisi Sejarah Lembaga Kebudayaan Cianjur (LKC), Luki Muharam. Menurutnya, Dalem Cikundul, Bupati Cianjur pertama, Raden Aria Wiratanudatar dikisah pernikahannya dengan putri jin hingga melahirkan tiga anak, Raden Suryakancana, Indang Sukaesih dan Andaka Wiru Sajagat.
“Dalem Cikundul adalah seorang penyebar agama Islam dan masih banyak kisah lainnya yang layak ditampilkan hingga bisa menjadi teladan. Namun, lagi-lagi masyarakat sampai kalangan pejabat Cianjur merasa cukup hanya mengenal Dalem Cikundul saat menikahi putri dari kalangan jin saja, ironis,” kata dia.
Demikian pula dengan nama Prawatasari yang kini diabadikan menjadi nama ikon pusat kota Cianjur. Lokasi tersebut hampir setiap hari dipadati warga sampai dijadikan tempat upacara resmi para pejabat Cianjur. Lagi-lagi, menurut Luki, para pejabat tersebut tidak merasa perlu untuk mencari informasi bagaimana taktik gerilya Prawatasari yang pernah membuat kewalahan penjajah Belanda.
Luki memaparkan, hingga kini belum ada informasi yang jelas mengenai jati diri Prawatasari. Apakah ia keturunan Dalem Cikundul Cianjur, keturunan Raja Panjalu atau Keturunan Raja Jampang Manggung.
“Maka sepertinya wajar tokoh yang sezaman dengan Bupati Cianjur Aria Wiratanu II ini juga bergelar Aria Salingsingan yang artinya tokoh yang identitasnya simpangsiur,” papar pria yang juga menjabat sebagai Kepala Divisi Sejarah Paguyuban Pasundan Cianjur tersebut.
Dalam buku Sejarah Cianjur karya Bayu Suriningrat, masih kata Luki, dikisahkan bahwa pemberontakan Prawatasari kepada Belanda berlangsung antara tahun 1703-1706. Tokoh dengan nama kecil Raden Alit atau Dalem Alit ini mulai menyerang pos Belanda pada bulan Maret 1703. Prawatasari terpanggil untuk mengusir Belanda karena saat itu rakyat Cianjur terkena beban tanam paksa pohon Tarum oleh pemerintahan kolonial Belanda.
“Haji Prawatasari memusatkan perlawanannya di daerah Jampang. Kemungkinan bukan Jampang Sukabumi, tetapi Gunung Jampang Manggung, Cikalong Kulon. Ia saat itu didukung 3.000 santri. Pos-pos Belanda yang diserang semula hanya sekitar Cianjur dan Bogor, namun kemudian Prawatasari menyerang Jakarta, Sumedang dan berbagai kawasan lainnya,” ulas dia seraya memperagakan.
Pasukan Belanda akhirnya panik, lanjut Luki. Mereka mulai menyelidik dan curiga ada sejumlah pejabat daerah terlibat menyokong gerakan Prawatasari. Beberapa pejabat di Bogor ditangkap dan dibunuh dengan kejam. Malah Letnan Tanujiwa (Ki Mastanu), tentara Belanda asli pribumi diasingkan ke Benua Afrika lantaran diketahui menyokong perjuangan Prawatasari. Saking sulitnya melacak keberadaan Prawatasari, ujar Luki, Belanda kemudian memberi tengat waktu kepada para Bupati di tatar Sunda untuk menangkap Prawatasari. Dalam waktu enam bulan para Dalem tersebut harus menangkap Prawatasari. Jika tidak, mereka akan dianggap bersekongkol dengan Prawatasari melawan pemerintahan Belanda.
“Menghadapi kenyataan itu, Prawatasari akhirnya mengalihkan gerakannya ke Jawa Tengah, agar para Bupati Priangan tidak terkena imbas dari perjuangannya. Namun justru takdir menjemputnya di Jawa Tengah. Di Hutan Bagelen Prawatasari tertangkap, kemudian dihukum mati di Solo tanggal 12 Juli 1707,” sambung Luki.
Lebih lanjut, Luki menambahkan, ketokohan Prawatasari oleh Belanda dikelompokan dengan Pangeran Diponegoro dan Ki Bagus Rangin yang juga memberontak kepada penjajah Belanda. Para pahlawan ini di sebut Karaman Van Java yang artinya Pengacau dari Jawa. Bagi para pejabat daerah saat itu, akan menjadi aib apabila anggota keluarganya berontak kepada Belanda.
“Maka penggiat sejarah, almarhum Prof. Drs. Yoseph Iskandar suatu ketika menarik kesimpulan bahwa sebenarnya Haji Prawatasari adalah putera bungsu Dalem Cikundul, namun silsilahnya kemudian dihapus dari terah Dalem Cikundul karena pada saat itu dianggap aib akibat berontak kepada Belanda,” lanjut Luki.
Apalagi, kenang Luki, dalam Wawacan Jampang Manggung dikisahkan bahwa Dalem Cikundul pernah menikah dengan Dewi Amitri putri Patih kerajaan Jampang Manggung yang beribukota di sekitar gunung Jampang Manggung Cikalong Kulon. Kemungkinan Haji Prawatasari adalah putera Dalem Cikundul dari Dewi Amitri.
“Mudah-mudahan suatu waktu Pemkab Cianjur menjalin kerjasama dengan para sejarawan untuk menelusuri jati diri Prawatasari. Terlebih setelah nama Prawatasari diangkat menjadi sebuah lapang di kawasan Joglo,” harapnya.(lan)
Populer
-
JAKARTA-Dua pelatih yang menjadi sorotan karena lisensi kepelatihannya tak sesuai regulasi turnamen jangka panjang TSC 2016, yakni D...
-
PETUGAS BNNK tes urine siswa SMAN 1 Ciranjang. CIANJUR-Antisipasi bahaya penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan di lingkungan s...
-
PANIK: Warga sempat panik mobil di pom bensi terbakar CIPANAS-Warga dan para pengguna jalan di Cipanas sempat dihebohkan dengan muncu...
-
CIPANAS - Koperasi Baitul Maal Wat-Tamwil (KBMT) As-salam, di Jl. Raya Pacet Cipanas, bergerak di bidang simpan pinjam dan pembiya...
-
ILUSTRASI PEREMPUAN hamil memiliki tantangan besar mulai dari mual di pagi hari, kaki kram, sakit punggung, dan berat badan yang naik ...
-
CIANJUR-Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-70, Polres Kabupaten Cianjur, bekerjasama deng...
-
CIANJUR – Gelaran Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) yang dilangsungkan secara serentak se-Kabupaten Cianjur pada Minggu (29/5) kemarin, ...
-
KURANG dari satu pekan pesta sepakbola terbesar di benua Eropa atau yang dikenal dengan Euro 2016 akan dimulai. Turnamen ...


Tidak ada komentar: