Radar Cianjur »
Berita Utama
»
KH Abdulah Bin Nuh, Ulama dan Pejuang
KH Abdulah Bin Nuh, Ulama dan Pejuang
Posted by Radar Cianjur on Senin, 15 Agustus 2016 |
Berita Utama
CIANJUR–Nama KH Abdullah bin Nuh kian tersohor di Cianjur akhir-akhir ini setelah namanya diusulkan sebagai salah satu tokoh Pahlawan Nasional dari Cianjur. Namun tak sedikit pula yang mengenal nama KH Abdullah bin Nuh adalah nama ruas jalan utama penghubung Sukabumi menuju kawasan Puncak.
Kepala Divisi Sejarah Lembaga Kebudayaan Cianjur (LKC) Luki Muharam menilai, nama besar KH Abdullah bin Nuh kurang begitu banyak dikenal oleh masyarakat Cianjur. Hanya diketahui sebagai nama jalan yang dibangun sejak tahun 2003. Padahal, KH Abdullah bin Nuh memiliki andil besar dalam merebut kemerdekaan Indonesia, khususnya di Cianjur.
“Ahli sejarah dari Unpad, Prof. Dr. Nina Lubis menyebutkan bahwa KH Abdullah bin Nuh pantas diberi gelar Pahlawan Nasional, selain Raden Prawatasari,” kata Luki saat diwawancarai Radar Cianjur, Minggu (14/8).
Bukan tanpa alasan, sambung Luki. KH Abdullah bin Nuh dipandang sebagai ulama, pejuang, cendikiawan, sastrawan, yang memiliki pengaruh cukup besar. Ia juga diketahui sebagai salah satu perintis Radio Republik Indonesia (RRI). Selain itu, yang tak kalah penting, KH Abdullah bin Nuh juga merupakan diplomat ulung yang menguasai enam bahasa berbeda, yakni Bahasa Indonesia, Arab, Belanda, Inggris, Prancis dan Jepang.
“Beliau juga pernah menjadi seorang jurnalis dan menerbitkan ratusan buku. Satu hal yang sangat membanggakan adalah beliau putra kelahiran Cianjur yang memiliki jasa besar dalam kemerdekaan Indonesia,” sambung Luki.
Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Divisi Sejarah Paguyuban Pasundan Cianjur itu menilai, semestinya Pemkab Cianjur yang bangga akan keagungan leluhurnya secara proaktif merumuskan gelar pahlawan kepada KH Abdullah bin Nuh. Pasalnya, masih kata Luki, menurut sesepuh Nahdlatul Ulama Cianjur, KH Abdul Qodir Rozy, sebagai ulama, KH Abdullah bin Nuh amat diterima oleh berbagai kalangan. Baik modernis maupun salafiyah.
“Ulama Pejuang, KH Abdullah bin Nuh lahir di Kampung Bojong Meron, Cianjur, 30 Juni 1905. Beliau putra KH Muhammad Nuh Bin Idris menak Cianjur yang mendirikan komplek pendidikan Al-Ianah di Kaum Cianjur. KH Muhhamad Nuh Bin Idris adalah ulama sekaligus murid KH Muhtar, Guru Besar di Masjidil Haram,” ulas Luki.
Menginjak tahun 1940, lanjut Luki, saat tanah air sedang ramai-ramainya merebut dan mempertahankan kemerdekaan, Abdullah bin Nuh turut serta menjadi anggota Pembela Tanah Air (PETA) dengan wilayah tugas Cianjur, Sukabumi dan Bogor. Tahun 1948 hingga 1950, Abdullah bin Nuh kemudian dipercaya memimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Cianjur.
“Tahun 1948-1950, beliau menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Yogyakarta, saat pemerintahan Indonesia hijrah ke Yogyakarta. Disanalah beliau diangkat menjadi Kepala Seksi Siaran Berbahasa Arab di RRI Yogyakarta, sampai menjadi dosen luar biasa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta,” papar Luki.
Belum cukup sampai disitu. Luki juga menjelaskan tentang pengangkatan Abdullah bin Nuh yang fasih berbahasa asing itu menjadi Juru Penerangan untuk delegasi luar negeri yang berkumpul dalam Konferensi Asia-Afrika (KAA). Kiprahnya di luar negeri juga tergolong luar biasa. Abdullah bin Nuh sering mengisi seminar-seminar di luar negeri seperti Australia, Arab Saudi, Yordania, Turki, Irak, Thailand dan Malaysia sebagai pembicara utama.
Karyanya yang paling tersohor diantaranya Al-Alam Al-Islami (Dunia Islam), Fi Zilal Al Kabah Al Bait Al Haram (Dibawah Lindungan Kabah), La Taifiyata fi Al Islam (Tidak Ada Kesukuan Dalam Islam), Mualimu Al Arab (Guru Bahasa Arab), Al-lulu Al Mansur (Permata Yang Bertebaran), serta masih banyak karya lainnya.
“Kalau kita kaji lebih dalam, sangat jarang ada sosok seperti KH Abdullah bin Nuh. Ketokohan beliau sejatinya dapat kita jadikan teladan. Namanya di luar negeri turut dikenal. Sejatinya kita warga Cianjur harus lebih mengenalnya,” pungkas Luki.(lan)
Populer
-
JAKARTA-Dua pelatih yang menjadi sorotan karena lisensi kepelatihannya tak sesuai regulasi turnamen jangka panjang TSC 2016, yakni D...
-
PETUGAS BNNK tes urine siswa SMAN 1 Ciranjang. CIANJUR-Antisipasi bahaya penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan di lingkungan s...
-
PANIK: Warga sempat panik mobil di pom bensi terbakar CIPANAS-Warga dan para pengguna jalan di Cipanas sempat dihebohkan dengan muncu...
-
CIPANAS - Koperasi Baitul Maal Wat-Tamwil (KBMT) As-salam, di Jl. Raya Pacet Cipanas, bergerak di bidang simpan pinjam dan pembiya...
-
ILUSTRASI PEREMPUAN hamil memiliki tantangan besar mulai dari mual di pagi hari, kaki kram, sakit punggung, dan berat badan yang naik ...
-
CIANJUR-Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-70, Polres Kabupaten Cianjur, bekerjasama deng...
-
CIANJUR – Gelaran Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) yang dilangsungkan secara serentak se-Kabupaten Cianjur pada Minggu (29/5) kemarin, ...
-
KURANG dari satu pekan pesta sepakbola terbesar di benua Eropa atau yang dikenal dengan Euro 2016 akan dimulai. Turnamen ...


Tidak ada komentar: