Radar Cianjur »
Berita Utama
»
Ada Yang Menelepon sembari Rebahan di Dahan,”Wartel Pohon Waru” ala Para Pemburu Sinyal di Mimika Timur Jauh
Ada Yang Menelepon sembari Rebahan di Dahan,”Wartel Pohon Waru” ala Para Pemburu Sinyal di Mimika Timur Jauh
Posted by Radar Cianjur on Rabu, 06 Januari 2016 |
Berita Utama
KOMPAK:
Para guru dan tenaga medis di Manasari, Distrik Mimika Timur Jauh. Butuh
perjuangan tidak ringan bagi mereka untuk bisa sekadar menelpon keluarga atau
orang-orang terdekat.
Sampe P. Sianturi/Radar Timika
Sampe P. Sianturi/Radar Timika
Untuk sekadar menelepon keluarga, para guru dan tenaga medis
di Distrik Mimika Timur Jauh, Papua, harus berperahu dulu selama tiga jam.
Biayanya patungan, sekaligus dimanfaatkan buat memancing.
SAMPE P. SIANTURI, Timika
DAUN waru memang simbol universal cinta. Tapi, kalau
kemudian ada satu pohonnya yang menjadi tempat mengobral kerinduan nun di
Mimika sana, penyebabnya bukan semata perkara lambang itu. Tapi lebih karena
persoalan ‘teknis”.
Sebab, hanya di sanalah, di dahan-dahan pohon waru yang
tumbuh di Pantai Omouga, Distrik Mimika Timur Jauh, Kabupaten Mimika, Papua,
sinyal telepon bisa didapat. Itu pun masih butuh perjuangan. Triknya, begitu
nyambung, jangan sampai bergerak agar sinyal tidak hilang. “Lumayan dapat tiga
garis (sinyal, Red), sudah bisa menelepon keluarga, he he he,” ujar Reki Tafre
kepada Radar Timika (Jawa Pos Group).
Reki, kepala SMP Negeri Omouga, Manasari, Distrik Mimika
Timur Jauh, memang termasuk pelanggan “warung telekomunikasi (wartel)” pohon
waru tersebut. Tentu saja pria asal Fakfak, Papua Barat, itu tak sendirian
menikmati “fasilitas” alam tersebut.
Wartel pohon waru itu biasa dia kunjungi bersama belasan
rekan sesama tenaga pendidik. Juga para pekerja medis, baik dokter, perawat,
maupun apoteker yang bertugas di distrik yang sama. Mayoritas berasal dari luar
Papua.
Mimika Timur Jauh memang belum bisa ditembus sinyal telepon
seluler. Distrik alias kecamatan tersebut bernaung di bawah kabupaten yang
sejatinya memiliki kekayaan alam melimpah, yaitu Mimika. Di antara 12 distrik,
salah satunya Tembagapura, tempat PT Freeport Indonesia beroperasi.
Namun, sebagaimana umumnya wilayah di penjuru Papua dan
Papua Barat, fasilitas umum di Mimika Timur Jauh masih memprihatinkan. Dari
Timika, ibu kota kabupaten, Mimika Timur Jauh hanya bisa dijangkau via jalur
air selama dua jam. Pilihan lain adalah transportasi udara dengan helikopter
sehingga otomatis sangat mahal dan terbatas.
Hanya telepon satelit yang bisa berfungsi di sana. Jadi,
telepon seluler (ponsel) secanggih apa pun sehari-hari paling hanya digunakan
untuk mendengarkan musik atau main game.
Padahal, mengutip sastrawan Eka Kurniawan, sebagaimana
dendam, rindu juga harus dituntaskan. Jadilah Pantai Omouga yang masih masuk
distrik yang sama menjadi tempat pelampiasan. Persisnya di salah satu titik di
pantai itu: pohon waru tersebut.
“Sudah lama kami melakoni ‘ritual’ menelepon di Pantai
Omouga. Pohon waru jadi saksinya, ha ha ha,” kata Kepala SD YPPK Tillemans,
Manasari, Emanuel Wolor.
Tentu saja “berkunjung ke pantai” di Papua tak sama dengan “berkunjung
ke pantai di Jawa”. Dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Kendati satu
kecamatan, untuk bisa sampai ke Omouga, para pemburu sinyal itu harus naik
perahu bermesin tempel selama tiga jam.
Untuk itu, Reki, Emanuel, dan belasan rekan seperjalanan
harus patungan buat membeli sekitar 30 liter bahan bakar dan upah motoris. Tak
lupa, mereka membawa serta alat pancing.
“Kami anggap piknik saja. Syukur-syukur waktu memancing bisa
dapat ikan dan bawa pulang,” kata Emanuel, yang berasal dari Kupang, Nusa
Tenggara Timur.
Sesampai di Omouga, segera saja para pemburu sinyal itu
beraksi sendiri-sendiri. Mereka memilih batang yang paling nyaman untuk tempat
menelepon. “Ada yang sambil duduk, ada pula yang sembari rebahan (di dahan,
Red),” kata Reki.
Biasanya mereka menghabiskan waktu di tempat itu dengan
menelepon berjam-jam atau sekalian internetan. Reki dkk betah berlama-lama
karena suasana di sana sejuk. Pertimbangan lain, ya tentu biar tidak rugi.
Masak sudah keluar duit tidak sedikit dan berperahu tiga jam, tapi hanya
sayang-sayangan via telepon sepuluh menit?
“Kalau pergi pagi, kami pulang sore saja. Biasanya kan kami
pergi Sabtu atau Minggu, jadi tidak mengganggu kerjaan,” jelas Reki.
Waktu kepergian tak pasti. Kadang sekali dalam sepekan,
kadang sekali dalam dua minggu. Bergantung dua hal. Pertama, ada yang sudah
tidak dapat menahan rindu. Kedua, ada duit di kantong.
“Ya inilah hiburan kami. Setelah menyelesaikan pekerjaan
seminggu, bertelepon ria dapat mengurangi kepenatan,” kata Emanuel. Kendati,
untuk bisa menelepon, mereka juga harus berpenat-penat dulu di atas perahu. (*)
Populer
-
CIANJUR –Bukan lagi rahasia umum bahwa untuk mengantisipasi wabah penyakit dan bau yang tak enak, sampah seharusnya dibuang ke tempat ...
-
SEPAK bola tidak bisa dipisahkan dari suporter. Bahkan, banyak suporter tidak hanya dihuni kaum pria, melainkan juga wanita dengan ber...
-
JAKARTA-Kapolri Jenderal Badrodin Haiti memgingatkan bahwa pengaruh gerakan Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) terhadap Indonesia ma...
-
MAUNG Bandung langsung tancap gas menggelar persiapan menjelang kick off Liga 1 yang rencananya digelar pada 15 April mendatang. Jajang Nu...
-
FOTO: MAMAT MULYADI/ RADAR CIANJUR SIBUK: Beberapa petugas kecamatan dibantu perangkat desa turun tangan membantu bisa menyukseskan pe...
-
CIANJUR-Program Studi (Prodi) Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Suryakancana (Unsur)...
-
CIANJUR-Kini pemerintah telah memutuskan untuk menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Premium turun dari harga se...
-
KARANGTENGAH – Kegiatan memancing yang banyak digemari masyarakat Cianjur, menjadi lahan pencarian keuntungan bagi sebagian orang, sep...


Tidak ada komentar: