Masih Ada Kasus Gizbur

Hari Gizi dan Makanan Nasional, Momentum Kembali pada Makanan Tradisional
TEPAT tanggal 25 Januari 2016, Indonesia memperingati Hari Gizi dan Makanan. Untuk tahun ini, Kementerian Kesehatan mengambil tema 'Bersama Membangun Gizi Mewujudkan Bangsa Sehat Berprestasi'.
Di zaman modern ini, banyak masalah kesehatan yang menimpa masyarakat. Tak jarang, ada masyarakat yang menuding, banyaknya penyakit aneh itu disebabkan makanan yang tidak sehat dan mengandung unsur kimia. 'Sekarang penyakit itu aneh-aneh, dulu tidak ada penyakit aneh, karena makanannya juga alami'.
Mungkin kata-kata itu sering terdengar dari mulut masyarakat, dimana saat ini, mulai dari anak-anak, sudah disuguhkan berbagai macam yang mengandung unsur kimia. Padahal makanan tradisional lebih baik, lantaran alami tanpa ada zat berbahaya.
Makanan tradisional seperti rujak, yang berisi buah-buahan beraneka macam itu pastilah mengandung vitamin C dan serat pangan yang tinggi. Selain itu, asinan yang diolah dari sayuran dan buah-buahan mentah terbukti bisa menangkal kanker dan hipertensi. Untuk itu, bagi kalangan budayawan, hari gizi nasional harus dijadikan momentum untuk kembali pada makanan tradisional. "Ya memang kita harus kembali pada makanan-makanan yang alami, karena itu jelas menyehatkan," ucap Budayawan Cianjur Dadah Suparman.
Pria yang juga dijuluki Penyair Hijau ini juga mengajak masyarakat untuk cinta pada budaya masa lalu, tidak hanya sebatas makanan melainkan juga yang lainnya. "Indonesia ini memiliki banyak kebudaya yang baik. Dulu anak-anak suka main kelompok, tapi sekarang sudah kalah sama mainan moderen. Makanan juga dulu tinggal main ke kebun, sekarang milih ke supermarket. Makanya sebagai orang tua yang harus mengajarkan anak untuk cinta pada budaya sendiri," paparnya.
Berkaitn hari gizi nasioal, Cianjur harus mewaspadai tantangan masa depan, Setidaknya selama tahun 2015, 23 kasus gizi buruk ditemukan. Para penderita gizi buruk tersebut berasal dari keluarga yang tidak mampu, dan itu harus jadi catatan pemerintah yang akan datang.
Berkaitn hari gizi nasioal, Cianjur harus mewaspadai tantangan masa depan, Setidaknya selama tahun 2015, 23 kasus gizi buruk ditemukan. Para penderita gizi buruk tersebut berasal dari keluarga yang tidak mampu, dan itu harus jadi catatan pemerintah yang akan datang, untuk dapat mencegah terus bertambahnya kasius gizi di Cianjur.
Kepala Seksi Gizi Masyarakat Bidang Pembinaan Kesehatan dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Cianjur Hj Lina Herlinayati mengatakan, dalam mengatasi gizi buruk tidak bisa selesai dalam jangka waktu satu bulan. Perlu waktu untuk mengukur status gizinya.
"Gizi buruk itu tidak bisa kita ukur satu bulan bisa menaikkan status gizinya. Gizi buruk yang kurang makan kalau tidak ada penyakit lain tiga bulan sudah bisa dilihat. Kalau ternyata ada penyakit penyerta harus diobati penyakitnya terlebih dahulu," kata Lina.
Dijelaskannya, ada dua kategori penderita gizi buruk yakni gizi buruk murni tanpa adanya penyakit penyerta dan gizi buruk tidak murni atau adanya penyakit penyerta. "Kalau yang murni diakibatkan kurangnya konsumsi makanan bergizi. Kalau diberikan makanan tambahan akan kelihatan pertumbuhannya," jelasnya.
Salah satu upaya penanganan yakni dengan dekteksi dini gizi buruk. Dicontohkannya, kalau ada balita datang ke posyandi di KSMnya ada Bawah Garis Merah (BGM) dan dua T (dua kali ditimbang tidak naik berat badanya) itu sudah dideteksi petugas dikawatirkan berubah gizi buruk.
Gizi buruk ini sebagai fenomena gunung es, untuk itu, semua pihak terkait termasuk pemberdayaan posyandu, harus bergerak dalam deteksi dini untuk menekan masalah gizi di Cianjur.(*/jun)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top