Industrialisasi 'Lampu Merah'





CIANJUR-Program Upaya Khusus (Upsus) Swasembada Pangan telah digulirkan oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian. Program tersebut diklaim sebagai salah satu upaya pemerintah menuju percepatan swasembada pangan tahun 2017 mendatang.

Hal itu pula yang mendasari digelarnya pertemuan antara penyuluh pertanian, para petani dan Bintara Pembina Desa (Babinsa), di Aula Badak Putih, Makodim 0608/Cianjur, Selasa (19/4) kemarin. Komandan Kodim 0608/Cianjur, Letkol Arm Imam Haryadi menjelaskan, giat tersebut juga menjadi salah satu evaluasi proses produksi dan distribusi pangan, terutama beras dari mulai petani, tengkulak, hingga Badan Urusan Logistik (Bulog).

Dalam giat tersebut, juga turut hadir sejumlah anggota Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian. "Dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini, percepatannya sudah cukup bagus di Cianjur. Optimalisasi lahan juga sudah cukup bagus,” kata Imam usai menggelar pertemuan.

Ia menambahkan, untuk luas baku lahan periode Oktober 2015 hingga Maret 2016 sudah melebihi target pertanaman dari pemerintah pusat yang jumlah kelebihannya sudah mencapai 318 hektar. Imam memaparkan, misalnya dari luas baku lahan 100 hektar, satu tahun lahan tersebu bisa dipanen hingga dua atau tiga kali.

"Terkait hari ini, kita juga membahas tentang gabah. Ada keluhan dari warga, khususnya petani yang melakukan transaksi dibawah harga yang sudah dipatok oleh pemerintah,” imbuhnya memaparkan.
Setelah mendengar berbagai keluhan dari petani, masih kata Imam, selama ini ternyata para petani menemui kendala dengan Bulog mengenai berbagai persoalan.

 Kebanyakan terkendala di persyaratan. Pasalnya, untuk gabah kering panen dan gabah kering giling terdapat sejumlah persyaratan yang mesti dipenuhi. Padahal di sisi lain, para petani yang punya stok lahan dan pangan, baik yang siap panen maupun yang belum panen harus mampu diserap sepenuhnya.

“Persyaratan itu yang mesti dipenuhi. Baik dari kadar air maupun rendemennya. Dari situ tidak ada sikronisasi, akhirnya penyerapan Bulog menjadi rendah,” ungkap Imam.

Alhasil, hal tersebut dimanfaatkan para tengkulak untuk menyerap pangan dalam jumlah besar, mengingat harga yang diberikan cukup menjanjikan, langsung melakukan proses transaksi cash and carry ditempat itu juga. Itu pula yang ditekankan oleh Imam agar pemerataan pangan dapat dilakukan secara menyeluruh.

“Ini pentingnya swasembada pangan. Kita terus impor dari Vietnam dengan harga yang terjangkau. Kalau seperti ini terus, yang hancur usahanya tentu para petani. Begitu petani hancur, tanahnya dijual menjadi perusahaan,” bebernya.

Padahal, melihat tingginya kebutuhan pangan di Indonesia, khususnya di Cianjur, Imam juga menilai perlunya upaya dalam meningkatkan kesejahteraan petani, salah satunya melalui Upsus Swasembada Pangan ini.

“Namanya banyak perut, banyak pula yang butuh makan, bukan butuh bensin ataupun barang elektronik. Dimana saja bisa kita lihat. Indonesia yang dulunya agraris, sekarang perlahan menjadi negara industri, ini sudah menjadi lampu merah,” tegasnya.

Sementara itu, anggota Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Gideon R Laluyan menuturkan, guna meningkatkan kesejahteraan petani, melalui dialog kali ini, akhirnya tim dari Kementerian Pertanian tersebut berkomitmen untuk terus mengawal para petani seraya berkoordinasi dengan dinas-dinas dan instansi terkait.

“Tentunya harapan ini dapat terus berjalan dengan baik. Kedepan, kebutuhan apa saja yang dibutuhkan petani dapat kita failitasi untuk mengurangi cost (anggaran) produksi petani,” harap Gideon.

Pihaknya selaku utusan resmi dari pihak kementerian juga mengajak seluruh elemen masyarakat Cianjur untuk terus mendorong produksi pangan dalam negeri, mengingat Cianjur merupakan salah satu  pemasok cadangan pangan yang cukup besar. 

“Karena itu kita dorong swasembada pangan agar kita tidak perlu lagi mengimpor dari Vietnam. Kita juga dorong penyuluh pertanian untuk semakin meningkatkan lagi kinerjanya,” tutup Gideon. (lan)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top