Bupati Buka Workshop Mamaos DKC

SAMBUTAN: Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar berikan sambutan dalam workshop mamaos DKC di Taman Pancaniti  Cianjur.
FOTO : DENI ABDUL KHOLIK/RADAR CIANJUR
CIANJUR - Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar, menghadiri acara workshop Mamaos Dewan Kesenian Cianjur di Taman Pancaniti  Cianjur, Selasa (9/27). Hadir dalam kesempatan tersebut, Kabid Kebudayaan dan Pariwisata Yanto,Ketua DKC, Dedi Mulyana, Ketua Karang Taruna Cianjur, H. Roni Setiawan, Ketua Padepokan Pancaniti,  D. Andri Kertanegara, SH, Ketua Sundawani H. Iwan Rio Mustofa, para tamu undangan lainnya.

Bupati Cianjur menyampaikan seni mamaos atau lebih dikenal dengan seni tembang sunda Cianjuran atau juga merupakan seni budaya tradisional peninggalan nenek moyang dahulu yakni R.A.A Kusumaningrat ( Dalam Pancaniti ) seorang dalem/bupati yang telah menjabat di Cianjur pada tahun 1834 – 1862.  Pada pase yang lampau seni mamaos itu mengalami masa kejayaan yang panjang. Alunan musik yang khas dan "hariring" yang membuat bulu kuduk merinding. Lantunan kecapi yang dipadukan dengan harmonisasi suara seruling dan suara sinden yang merdu.

“Apabila filosofi tersebut diresapi, pada hakekatnya merupakan symbol rasa yang ingin dicapai adalah terciptanya keimanan dan ketaqwaan masyarakat melalui pembangunan akhlak yang mulia. Dengan kebudayaan, masyarakat Cianjur ingin mempertahankan keberadaannya sebagai masyarakat yang berbudaya, memiliki adab, tatakrama dan sopan santun dalam tata pergaulan hidup," paparnya.

Irvan menginginkan bahwa seni mamaos/tembang sunda Cianjuran itu kedepan bangkit, bisa diterima oleh semua kelompok masyarakat, bila saat ini sebagian banyak minat masyarakat pada musik kekinian, tak ada salahnya jika seni mamaos/tembang sunda Cianjuran itu di kolaborasikan dengan musik-musik kekinian, tetapi yang menjadi ciri khasnya  suling, kecapinya tidak hilang. “Intinya seni mamaos ini jangan sampai punah, melainkan harus kembali Berjaya,” paparnya.

Bupati berharap, dengan workshop diselenggarakan  akan adanya dayung bersambut antar pegiat seni mamaos, khususnya Dewan Kesenian Cianjur harus mampu mengakomodir pada tiap – tiap wilayah di kecamatan dan desa. Selain itu, juga dapat terkoneksi dengan jajaran pendidik, baik itu pendidikan yang sifatnya formal ataupun informal, sehingga pendidikan seni mamaos ini dapat diperkenalkan khususnya pada peserta didik, jika sudah dikenali nantinya akan diminati, dicintai kemudian merasa memiliki.

“Terlebih seni mamaos/tembang sunda Cianjuran dituntut mampu menjawab ledakan jiwa yang menyebabkan keringnya jiwa, gelisah dan jauh dari rasa damai, juga tidak hanya bisa melihat/memainkanya saja, namun juga dengan seni mamaos itu dapat menempatkan seni mamaos bagian yang penting tak terpisahkan dari kehidupan kita yang erat kaitannya dengan kebutuhan psikologis (kejiwaan),” paparnya.

Sementara itu, panitia pelaskana, Ihsan Subhan menjelaskan,  sedikitnya ada 96 orang yang mengikuti kegiatan ini.  Terdiri dari 32 kecamatan yang masing masing kecamatan ada 3 orang guru yang dilibatkan. Narasumber kegiatan itu berasal dari akademisi kesenian tradisional  yakni  Dr. Yus Wiradredja SK ar , M.Hum, sejarah mamaos Cianjuran, Dr. Drs, Heri Herdini, M.Hum, Estetika Cianjuran,  Dr. Drs. Deni Hermawan, MA, Kedudukan Mamaos Cianjuran. (den)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top