Radar Cianjur »
Berita Utama
»
Bak Hidup di Negeri Dongeng, Kesabaran Berbuah Manis
Bak Hidup di Negeri Dongeng, Kesabaran Berbuah Manis
Posted by Radar Cianjur on Selasa, 05 April 2016 |
Berita Utama
BERBICARA soal rutilahu, tentu Cianjur tak bisa terlepas dari sosok Kapolres
Cianjur, AKBP Asep Guntur Rahayu, Dandim 06/08 Cianjur, Letkol Inf Imam
Haryadi, Perumnas, beserta elemen masyarakat berjiwa sosial lainnya yang merasa
terpanggil. Kisah kepahlawanan mereka kini kembali ditunjukan saat meresmikan
rumah baru layak huni di Cianjur.
Laporan: Herlan Heryadie, Cianjur
ANDRI Budiawan Taufik (39) dan Reti Fadiran Santi (39) adalah sepasang suami-istri tunawicara yang sudah puluhan tahun hidup dibawah garis kemiskinan. Puluhan tahun pula mereka harus bersabar lahir-batin tinggal dalam sebuah gubuk di pinggiran pusat kota Cianjur, tepatnya Jalan Prof Mohammad Yamin, Gang Abon RT/RW 04/06, Kelurahan Sayang, Kecamatan Cianjur. Gubuk semacam itu kini lazim disebut Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).
Berkat kerjasama yang erat antara Kapolres Cianjur, AKBP Asep Guntur Rahayu, Ngerayap Community, Perumnas, beserta elemen masyarakat berjiwa sosial lainnya, Andri beserta istri dan kedua anaknya, Refika Yulfa Feira (14) dan Adiba Rizki (3) memperoleh sebuah rumah baru berukuran 4x6 meter persegi.
Andri dan keluarganya secara resmi menempati istana barunya itu saat acara peresmian pada, Minggu (3/4) kemarin di lokasi yang sama. Saat itu, keluarga kecil Andri yang nampak bahagia, dengan kompak mengenakan pakaian serba putih.
Saat disambangi Radar Cianjur, Andri yang berjibaku mencoba berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat mencurahkan pengalaman pahitnya selama puluhan tahun hidup di dalam sebuah rutilahu. Ia menunjukan sejumlah lubang di rumahnya yang setiap kali hujan tiba, tak jarang ia dan keluarganya harus menggigil kedinginan.“Setiap kali solat dan berdoa sama Allah sambil menangis supaya dikasih kesabaran. Saya tak tega melihat keluarga menderita,” kata Andri sambil memperagakan.
Andri setiap harinya menerima panggilan sebagai tukang pijat. Ia bahkan pernah berjalan sekian kilometer demi menafkahi keluarganya. Bahkan, saat putus asa dan istrinya hamil tua, Andri sempat meminta-minta di jalan, namun itu tidak berlangsung lama.“Sekali pijit dapat Rp 20 ribu sampai Rp 50 ribu, alhamdulillah dari bekal itu tetap bisa menghidupi keluarga,” ujar Andri sambil mengelus dada.
Layaknya hidup di negeri dongeng, kesabaran Andri dan keluarganya selama puluhan tahun berbuah manis. Saat Kapolres Cianjur mengetahui ada warga yang kesusahan, saat itu ia menggaet sejumlah pihak untuk membantu Andri dan keluarganya. Ada sebuah penca[aian yang luar biasa selama proses pembangunan rumah baru Andri. Proses pembangunannya hanya memakan waktu 15 hari sejak pertama dibangun.“Saya tentu tidak bisa bekerja sendiri, ini semua berkat kerjasama yang baik dengan seluruh elemen masyarakat Cianjur. Kami berharap kedepan, semakin banyak lagi masyarakat Cianjur yang berjiwa sosial, bersama-sama membantu sesamanya yang membutuhkan,” ajak Kapolres Cianjur, AKBP Asep Guntur Rahayu usai acara peresmian.
Sementara itu, putri sulung Andri dan Reti, Rafika mengungkapkan kebahagiaannya setelah memperoleh rumah baru. Siswi kelas III Mts Islamiyah Cianjur yang gemar olahraga bulutangkis ini nampak masih malu-malu.“Alhamdulillah, terima kasih untuk semuanya yang sudah peduli,” singkat Rafika yang bercita-cita menjadi polwan tersebut.(**)
-----------
Laporan: Herlan Heryadie, Cianjur
ANDRI Budiawan Taufik (39) dan Reti Fadiran Santi (39) adalah sepasang suami-istri tunawicara yang sudah puluhan tahun hidup dibawah garis kemiskinan. Puluhan tahun pula mereka harus bersabar lahir-batin tinggal dalam sebuah gubuk di pinggiran pusat kota Cianjur, tepatnya Jalan Prof Mohammad Yamin, Gang Abon RT/RW 04/06, Kelurahan Sayang, Kecamatan Cianjur. Gubuk semacam itu kini lazim disebut Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).
Berkat kerjasama yang erat antara Kapolres Cianjur, AKBP Asep Guntur Rahayu, Ngerayap Community, Perumnas, beserta elemen masyarakat berjiwa sosial lainnya, Andri beserta istri dan kedua anaknya, Refika Yulfa Feira (14) dan Adiba Rizki (3) memperoleh sebuah rumah baru berukuran 4x6 meter persegi.
Andri dan keluarganya secara resmi menempati istana barunya itu saat acara peresmian pada, Minggu (3/4) kemarin di lokasi yang sama. Saat itu, keluarga kecil Andri yang nampak bahagia, dengan kompak mengenakan pakaian serba putih.
Saat disambangi Radar Cianjur, Andri yang berjibaku mencoba berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat mencurahkan pengalaman pahitnya selama puluhan tahun hidup di dalam sebuah rutilahu. Ia menunjukan sejumlah lubang di rumahnya yang setiap kali hujan tiba, tak jarang ia dan keluarganya harus menggigil kedinginan.“Setiap kali solat dan berdoa sama Allah sambil menangis supaya dikasih kesabaran. Saya tak tega melihat keluarga menderita,” kata Andri sambil memperagakan.
Andri setiap harinya menerima panggilan sebagai tukang pijat. Ia bahkan pernah berjalan sekian kilometer demi menafkahi keluarganya. Bahkan, saat putus asa dan istrinya hamil tua, Andri sempat meminta-minta di jalan, namun itu tidak berlangsung lama.“Sekali pijit dapat Rp 20 ribu sampai Rp 50 ribu, alhamdulillah dari bekal itu tetap bisa menghidupi keluarga,” ujar Andri sambil mengelus dada.
Layaknya hidup di negeri dongeng, kesabaran Andri dan keluarganya selama puluhan tahun berbuah manis. Saat Kapolres Cianjur mengetahui ada warga yang kesusahan, saat itu ia menggaet sejumlah pihak untuk membantu Andri dan keluarganya. Ada sebuah penca[aian yang luar biasa selama proses pembangunan rumah baru Andri. Proses pembangunannya hanya memakan waktu 15 hari sejak pertama dibangun.“Saya tentu tidak bisa bekerja sendiri, ini semua berkat kerjasama yang baik dengan seluruh elemen masyarakat Cianjur. Kami berharap kedepan, semakin banyak lagi masyarakat Cianjur yang berjiwa sosial, bersama-sama membantu sesamanya yang membutuhkan,” ajak Kapolres Cianjur, AKBP Asep Guntur Rahayu usai acara peresmian.
Sementara itu, putri sulung Andri dan Reti, Rafika mengungkapkan kebahagiaannya setelah memperoleh rumah baru. Siswi kelas III Mts Islamiyah Cianjur yang gemar olahraga bulutangkis ini nampak masih malu-malu.“Alhamdulillah, terima kasih untuk semuanya yang sudah peduli,” singkat Rafika yang bercita-cita menjadi polwan tersebut.(**)
-----------
Populer
-
PELAYANAN persampahan kebersihan dipungut retribusi atas pelayanan pengelolaan di daerah. Retribusi dikenakan kepada kepala keluarga ata...
-
JOGJAKARTA-Eksistensi Gafatar di Jogjakarta yang diduga sebagai biang keladinya orang hilang akhir-akhir ini disinyalir sudah ber...
-
CIANJUR-Berbagai kegiatan masih terus dilakukan SMAN 1 Cianjur, dalam rangka SPECTA ke 11. Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan, ...
-
JAKARTA - Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) mendeklarasikan diri menolak turnamen-turnamen yang digelar. Mereka yang me...
-
MOMENTUM bulan Ramadan dimanfaatkan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Cianjur, Moch Ginanjar, untuk selalu m...
-
WARU N GKONDANG – Jalan Desa Ciwalen di Kecamatan Warungkondang berada dalam kondisi nyaris putus , p asalnya gorong- gorong ya...
-
CIANJUR-Tak henti-hentinya satuan narkoba Polres Cianjur memberantas peredaran narkoba diwilayah hukumya. Senin(14/03) dua orang pengedar...
-
CIANJUR– Rabu (20/4) kemarin, sedikitnya 55 peserta yang terdiri dari Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berkaitan dengan penyelenggaraa...

Tidak ada komentar: