Suka-Duka Istri Prajurit




CIANJUR-Hari Kartini bisa dibilang merupakan momentum hari lahirnya kaum perempuan dimana perempuan mulai diakui keberadaannya. Istilah itu kini lebih dikenal dengan istilah Emansipasi Wanita. Demikian yang dikatakan Maria Utari Zainal (35) atau yang akrab disapa Ria Fikri, istri dari Komandan Batalyon Infanteri 300/Raider Banjar Kedaton (Yonif 300/Raider), Letkol Inf Fikri Ferdian.

Menurut Ria, kaum perempuan saat ini bisa lebih bebas menyuarakan ide-ide dan inspirasi yang dimiliki seraya membangun karir serta menempuh pendidikan, bersekolah setinggi-tingginya, atau dengan kata lain, sejajar dengan kaum pria.

“Berkaitan dengan itu, saya memaknainya dengan terus berkarya di semua bidang yang saya bisa,” kata Ria kepada Radar Cianjur, kemarin.

Seperti diketahui, Ria saat ini diberikan amanah sebagai Ketua Persatuan Istri Tentara (Persit) Cabang XL Persit Yonif Raider 300 Brajawijaya. Dalam tugasnya itu, Ria harus terus memberikan inspirasi positif kepada semua anggotanya untuk terus berkarya dan berprestasi.

Alhasil, berkat tangan dingin perempuan kelahiran Kabupaten Lampung Selatan, tepatnya di Kalianda, sebuah kota kecil diujung pulau Sumatera, Ria berhasil meraih juara ketiga dalam Lomba Pos KB pada perayaan HUT Persit di Kodam III Siliwangi. Tak hanya itu, Persit Yonif Raider 300 Brajawijaya juga mampu meraih dan Juara Ketiga dalam Lomba Rumah Sehat tingkat Kodam III Siliwangi.

“Mudah-mudahan kemenangan ini dapat menjadi contoh hingga terus memberikan motivasi dan semangat untuk terus berkarya guna mendukung tugas mulia kami sebagai seorang istri prajurit, seorang kaum perempuan,” harap Ria yang gemar membaca dan berolahraga tersebut.

Saat ditanya tentang suka dan dukanya selama menjadi istri seorang prajurit, Ria tak segan-segan berbagi beberapa pengalamannya. Sudah banyak orang mengetahui bahwa seorang prajurit sangat familiar dengan istilah berpindah tempat tatkala menjalankan tugasnya hingga tak jarang keluarga juga ikut berpindah.

“Mengingat tugas prajurit yang sering berpindah lokasi penugasan, kami jadi bisa keliling Indonesia, bahkan keliling dunia,” ulasnya.

Sejak menikah pada 3 September 2005 silam, Ria mengaku sudah memiliki segudang pengalaman berharga. Bahkan, disela candaannya, selama menjadi istri seorang prajurit, Ria mengaku bisa menyalurkan hobinya yang terpendam, yakni travelling. Ria dan Fikri diketahui telah dikaruniai satu orang putri berusia sembilan tahun dan satu orang putra berusia enam tahun.

“Saya pernah ikut bapak waktu mengikuti pendidikan sekolah lanjutan perwira di Singapura. Lalu pada saat bapak Sekolah Staf dan Komando di Korea Selatan. Saya dan anak-anak ikut mendampingi bapak selama kurang lebih 1,5 tahun disana,” kenang Ria.

Ia merasa bersyukur, pasalnya, pengalaman berharga yang ia alami bersama keluarga kecilnya itu tidak serta merta dapat dialami pula oleh keluarga lainnya yang seprofesi. 

Saat ditanya mengenai pengalaman yang kurang menyenangkan, Ria mengaku hal tersebut tidak ia anggap sebagai suatu kendala, melainkan tantangan.

“Tahun 2011, saya dan anak-anak ditinggal beliau yang tengah menempuh Military Observers di Sudan, Afrika Utara selama kurang lebih satu tahun,” papar dia.

Ria dan suaminya yang berada di benua hitam itu kerap berkomunikasi melalui berbagai media, baik melalui media sosial, ataupun media lainnya. Saat mendapati jaringan koneksi yang cukup memungkinkan, Ria mengaku sering berkomunikasi dengan suaminya melalui Skype ataupun Yahoo Messenger.

“Nah, semoga saja ini bisa menjadi contoh untuk seluruh kaum hawa. Siapapun kita, apapun profesi dan aktivitasnya, kita harus membuktikan bahwa kita bisa terus berkarya dan berprestasi tanpa melupakan kodrat kita sebagai seorang perempuan,” tutup Ria berpesan. (lan)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top