Akibat Naiknya Harga Dolar

Pengusaha Kecil Elektronik Hampir Bangkrut


SUKALUYU – Harga mata uang dolar yang terus menanjak hingga mencapai Rp14.000 per USD, membuat kondisi ekonomi Indonesia bisa dinilai memasuki tahap krisis. Hal ini ternyata mulai dirasakan dampaknya hingga ke Kabupaten Cianjur, bahkan ke wilayah-wilayah di luar perkotaan, dimana para pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) berkiprah, misalnya di Kecamatan Sukaluyu. Naiknya harga dolar membuat harga komponen elektronik naik sekitar 30 persen dan mengganggu stabilitas usaha para pengusaha kecil di bidang ini.
 Dalam pantauan Radar Cianjur, hingga hari Senin (31/8) kemarin, melemahnya ekonomi mulai dikeluhkan penduduk. Iqbal Komputer, sebuah perusahaan kecil yang baru berdiri di Kampung Sukamaju RT06/05 Desa Hegarmanah, Kecamatan Sukaluyu, mengaku terkena imbas dari kondisi ini, namun tetap berusaha bertahan menghadapinya.
 Iqbal (40), sang pemilik, warga Desa Hegarmanah, mengatakan bahwa kondisi ini otomotis berpengaruh terhadap daya beli masyarakat, dan mengakibatkan turunnya jumlah pesanan, meski tidak mengganggu layanan perbaikan atau service yang harga jasanya cenderung tetap.
"Menyiasatinya dengan jarang membeli komponen atau barang baru, dimaksimalkan main di service saja," kata Iqbal.
Kenaikan harga dolar ini, untuk yang tak pandai menyiasatinya, nyaris membuat banyak pengusaha kecil di bidang elektronik gulung tikar. Kenaikan harga beli barang baru bisa terlihat pada produk mesin cetak atau printer, yang harga sebelumnya berkisar antara Rp600-700 ribu, kini menjadi Rp1,5-2 juta; harga harddisk ukuran 40GB naik dari RP80 ribu menjadi Rp150 ribu. Sementara itu harga service computer tetap bertahan di angka Rp30-50 ribu untuk laptop, dan Rp80-100 ribu untuk Personal Computer (PC).

"Sebelum ini, rata-rata penghasilan Rp100 ribu per hari, dengan jumlah pegawai satu orang. Sekarang kadang-kadang nihil." Keluh Iqbal, yang dibenarkan pegawainya, Kikim (40). (mat)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top