Radar Cianjur »
Berita Utama
»
Dua ABG Dijual ke Palembang
Dua ABG Dijual ke Palembang
Posted by Radar Cianjur on Sabtu, 29 Agustus 2015 |
Berita Utama
Diajak Jalan-Jalan Dibius Baso
CIANJUR-Dua anak baru gede (ABG) asal Desa Cipeuyem, Kecamatan Haurwangi,
Cianjur, menjadi korban trafficking (penjualan manusia, red) dan dipaksa
bekerja di sebuah cafe karaoke di daerah Kampungbaru, Pelembang. Keduanya,
selain dipaksa memakai pakaian minim dan seksi, juga dipaksa untuk melayani
om-om pria hidung belang.Kedua ABG yang masih di bawah umur itu, dibawa oleh pelaku setelah dibujuk rayu dengan berbagai cara dan diiming-imingi dengan diajak belanja bermacam-macam pakaian.
Peristiwa yang hampir menjerumuskan keduanya, Sinta (16) dan Desi (18), diawali dengan perkenalan seorang perempyan bernama Yuli (30), warga Desa Sukarama, Kecamatan Bojingpicung, sekitar dua minggu yang lalu ketika keduanya menjadi biduan panggung di sebuah kampung. Dari perkenalan itu, pelaku sangat cepat akrab dengan korban.
Setelah mendapatkan 'lampu hijau', sang pelaku yang sudah bersuami itu, pelaku pun langsung melancarkan bujuk rayunya. Tapi, Yuli tidak terburu-buru dalam menjerat mangsanya itu. Ia pun mengajak kedua korban berjalan-jalan ke Bandung dan dijanjikan bakal dibelikan pakaian serta gadget.
Mendapat tawaran itu, keduanya girang bukan main dan mengiyakan ajakan pelaku. Selanjutnya, setelah disepakati, pada Sabtu (13/8) dua pekan lalu, kedua korban dan pelaku pun berangkat ke Bandung dengan menumpang sebuah bus.
"Iya, janjiannya hari Sabtu ke Bandung untuk jalan-jalan," ucap Desi di Pendopo Pemerintah Kabupaten Cianjur, Jumat (28/8) petang kemarin.
Di Bandung, janji pelaku yang akan mengajak belanja kedua korban pun dituruti. Selain berbelanja, ketiganya pun sempat berjalan-jalan di seputaran Bandung. Karena merasa capek dan lapar, pelaku pun menawarkan kepada kedua korban untuk makan baso.
"Terus kami makan baso di Bandung," sigkat dia lagi.
Namun anehnya, ungkap Desi, usai menyantap baso itu, kepalanya terasa pening dan badannya lemas. Setelah itu, ia pun mengaku tidak bisa mengingat apapun dan tidak sadarkan diri. Yang kemidian ia sadari bersama Sinta adalah ketika keduanya sudah berada di atas kapal yang tengah melaju di tengah laut.
"Baru bangun pas di atas kapal. Saya tidak tahu itu di mana," lanjut dia.
Karena sudah merasa curiga, ia pun mencoba menanyakan kepada Yuli kemana arah kapal tersebut dan dijawabnya dengan singkat tanpa menjelaskan apapun.
"Ke Lampung," ucap Yuli ditirukan Desi.
Karena merasa tidak memiliki rencana apapun ke Pulau Sumatera itu, Desi dan Sinta pun mendesak Yuli untuk menceritakan apa alasan pergi ke Lampung. Pertanyaan bertubi-tubi dari kedua korban itupun akhir dijawab Yuli dengan singkat dan ketus.
"Ke Palembang. Nanti kerja di sana," jawab Yuli yang dituturkan Desi kepada Radar.
Ketika keduanya mendesak Yuli terus dengan berbagai pertanyaan, sang pelaku pun disebut Desi lebih banyak diam. Bahkan, ketika ditanya bakal kerja apa di Palembang nantinya, Yuli juga tidak memberikan jawaban jelas.
"Pokoknya ada. Kerja apa ya liat saja nanti," jawan Yuli ketus kepada keduanya.
Mendapati jawaban yang sangat tidak disangka-sangka dan sama sekali tidak direncanakan sama sekali itu, Desi dan Sinta pun terus berontak. Namun, keduanya tidak berdaya karena pelaku mempersilahkan keduanya untuk pulang sendiri ke Cianjur.
"Tapi kami gak punya uang. Jadi terpaksa ikut terus," kata dia.
Sesampainya di Bakauheni, Lampung, bus yang mereka tumpangi pun langsung melanjutkan perjalanan ke Palembang, Sumatera Selatan.
"Sampai Palembang Minggu (14/8) pagi. Terus hape kami disita dan disimpan sama dia (Yuli, red)," tutur Desi lagi.
Di kota yang sama sekali belum pernah didatangi oleh korban itu, pelaku kemudian membawa keduanya ke sebuah rumah dan sama sekali tidak menginjinkan keduanya untuk keluar rumah.
"Tidak tahu nama daerahnya. Yang jelas kami tidak boleh keluar sama sekali," ujar dia lagi.
Kedua korban sendiri baru diperbolehkam keluar rumah keesokam harinya. Sedangkan hape milik para korban baru diserahkan pelaku pada Senin sore.
"Dari situ terus saya baru bisa menghubungi keluarga di Cianjur dan menceritakan semuanya. Keluarga di sini langsung minta bantuan," ucap gadis berkulit coklat muda itu sembari terunduk.
Kemudian, Desi mengaku, Yuli lantas membawa keduanya ke sebuah cafe karaoke pada Senin (15/8) sore. Di sana, keduanya memang diperlakukan cukup baik. Tapi mereka diminta memakai pakain supermini dan sexy serta melayani om-om pria hidung belang nantinya.
Mendapati jenis pekerjaan yang sama sekali tidak pernah mereka inginkan itu, keduanya lalu membuat siasat dan memberanikan diri untuk melarikan diri dan mengambil risiko meski keduanya buta akan Palembang.
"Iya, terus kami alasan beli pulsa. Malah dipinjami motor untuk beli pulsanya," terang dia.
Selanjutnya, kedua korban pun langsung mencari bantuan pihak kepolisian terdekat yang bisa mereka temui. Kebetulan, sebuah pos polisi lalu-lintas akhirnya bisa mereka temukan.
Kepada petugas polisi yang sedang bertugas itu, mereka pun menceritakan secara detil dan gamblang berkenaan ikhwal dan awal keduanya bisa sampai di kota yang terkenal dengan makanan Mpek-mpek itu.
"Terus kami langsung dibawa ke kantor polisi," jelas dia.
Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur, Yana Rosdiana, ditemui di Pendopo Pemkab Cianjur mengatakan, pihaknya, melalui Polres Cianjur, kemudian mendapatkan informasi berkenaan dua orang yang menjadi korban trafficking.
"Semula informasi yang kami terima masih simpang siur. Tapi setelah ditelusuri kebenarannya, memang benar korban adalah warga Cianjur," ucap Yana.
Usai memastikan, pihaknya bersama Polres Cianjur pun langsung menuju ke Palembang untuk menjemput korban yang sudah diamankan di Polres Palembang untuk kemudian dibawa kembali pulang ke Cianjur.
"Ini hasil kerjasama kami dengan Polres Cianjur. Alhamdulilah, kedua korban belum sampai terjerumus ke dalam lembah hitam karea berhasil kabur," ucap dia.
Adapun pelaku, Yuli dan suaminya, yang ketika itu juga sudah berhasil diamankan di Polres Palembang, pun ikut dibawa pulang ke Cianjur untuk kemudian diproses hukum langsung oleh Polres Cianjur.
"Untuk pelaku ngomonya suami-istri dan langsung ditangani Polres Cianjur," ucapnya.
Selanjutnya, untuk kedua korban, pihaknya bakal melakukan pendampingan terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan penanganan lebih lanjut. Pasalnya, selain masih dinilainya cukup trauma secara psikologis, pihaknya nanti bakal mengevaluasi perkembangan psikologis korban.
"Nanti akan kami lihat dulu perkembangannya. Kalau memang ingin sekolah lagi ya nanti akan ikut kejar paket," terang dia.
Sementara, kedua korban, jika menilik pada latarbelakang kehidupannya, satu adalah anak yatim dan satunya lagi adalah anak dari keluarga broken home.(ruh)
Populer
-
Abdulatif BEBERAPA wilayah di Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi Pilkada serentak, tepatnya hari Rabu pada tanggal 27 Ju...
-
CIANJUR-Tak henti-hentinya satuan narkoba Polres Cianjur memberantas peredaran narkoba diwilayah hukumya. Senin(14/03) dua orang pengedar...
-
SAMBUTAN: Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar berikan sambutan dalam workshop mamaos DKC di Taman Pancaniti Cianjur. FOTO : DENI ABDUL ...
-
SETELAH meraih peringkat ketiga di Piala Presiden 2017, Persib Bandung mulai merancang agenda lanjutan untuk mengisi kekosongan jelang tam...
-
Warga Cibiuk Tolak Pabrik CIRANJANG – Warga Kampung Andir RT01/09, Desa Cibiuk, Kecamatan Ciranjang , mengeluhkan proses pelaksana...
-
CIANJUR-Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Cianjur membatasi dana kampanye masing-masing pasangan calon peserta pemilihan bupati dan wakil b...
-
GEKBRONG – Dibalik jabatannya sebagai ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Songgom, Kecamatan Gekbrong, Muhammad Ahmad Jalal...
-
CIANJUR - Kepala Bidang Penyiapan Perumusan dan Kebijakan Reformasi Birokrasi Kementrian Aparatur Negara dan Reforasi Birokrasi (Menpan-R...


Tidak ada komentar: