Radar Cianjur »
Cipanas
»
Hama Ulat Serang Perkebunan Teh
Hama Ulat Serang Perkebunan Teh
Posted by Radar Cianjur on Sabtu, 29 Agustus 2015 |
Cipanas
Kaur
Pembangunan Desa Ciputri Hasanudin menjelaskan, sejak kekeringan melanda
kawasan Pacet hama ulat terus merusak tanaman teh. Akibatnya, para buruh pertanian
beralih pekerjaan menjadi pemburu hama ulat. "Saat ini hama ulat
semakin meluas,” jelasnya.
Menurutnya,
penanganan hama sudah dilakukan dengan beberapa
cara, seperti disemprot menggunakanobat anti hama. Agar hama ulat tidak menjamur. "Perusahaan
merugi karena daun teh tidak bisa dipanen. Satu kilogram hama ulat dibayar Rp
25 ribu per kg," tuturnya.
Dikatakannya, meskipun lahan perkebunan gagal panen pengamanan tetap dilakukan bahkan lebih diperketat. karena dikhawatirkan masyarakat merambah lahan perkebunan teh, untuk mencari ranting untuk kayu bakar.
Dikatakannya, meskipun lahan perkebunan gagal panen pengamanan tetap dilakukan bahkan lebih diperketat. karena dikhawatirkan masyarakat merambah lahan perkebunan teh, untuk mencari ranting untuk kayu bakar.
"Malam
hari dijaga enam orang dan siang hari dijaga enam orang,” katanya.
Dijelaskannya, kondisi seperti ini sudah berjalan selama empat bulan lalu namun kondisinya kini semakin parah. Bahkan, jika dilihat lebih parah tahun ini ketimbang tahun kemarin.
"Kami hanya bisa berharap kondisinya bisa normal kembali, karena sekitar 70 orang warga kami mengandalkan pekerjaan menjadi buruh perkebunan teh," pungkasnya.
Siti (41) warga Desa Ciputri mengaku, sejak kekeringan panjang melanda kawasan Ciputri, dirinya terpaksa berburu ulat. "Uang yang didapatkan jelas lebih kecil daripada kondisi normal. Lantaran berburu ulat itucukup sulit," ungkapnya.(fhn)
Dijelaskannya, kondisi seperti ini sudah berjalan selama empat bulan lalu namun kondisinya kini semakin parah. Bahkan, jika dilihat lebih parah tahun ini ketimbang tahun kemarin.
"Kami hanya bisa berharap kondisinya bisa normal kembali, karena sekitar 70 orang warga kami mengandalkan pekerjaan menjadi buruh perkebunan teh," pungkasnya.
Siti (41) warga Desa Ciputri mengaku, sejak kekeringan panjang melanda kawasan Ciputri, dirinya terpaksa berburu ulat. "Uang yang didapatkan jelas lebih kecil daripada kondisi normal. Lantaran berburu ulat itucukup sulit," ungkapnya.(fhn)
Populer
-
Abdulatif BEBERAPA wilayah di Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi Pilkada serentak, tepatnya hari Rabu pada tanggal 27 Ju...
-
CIANJUR-Tak henti-hentinya satuan narkoba Polres Cianjur memberantas peredaran narkoba diwilayah hukumya. Senin(14/03) dua orang pengedar...
-
SAMBUTAN: Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar berikan sambutan dalam workshop mamaos DKC di Taman Pancaniti Cianjur. FOTO : DENI ABDUL ...
-
SETELAH meraih peringkat ketiga di Piala Presiden 2017, Persib Bandung mulai merancang agenda lanjutan untuk mengisi kekosongan jelang tam...
-
Warga Cibiuk Tolak Pabrik CIRANJANG – Warga Kampung Andir RT01/09, Desa Cibiuk, Kecamatan Ciranjang , mengeluhkan proses pelaksana...
-
CIANJUR-Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Cianjur membatasi dana kampanye masing-masing pasangan calon peserta pemilihan bupati dan wakil b...
-
GEKBRONG – Dibalik jabatannya sebagai ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Songgom, Kecamatan Gekbrong, Muhammad Ahmad Jalal...
-
CIANJUR - Kepala Bidang Penyiapan Perumusan dan Kebijakan Reformasi Birokrasi Kementrian Aparatur Negara dan Reforasi Birokrasi (Menpan-R...

Tidak ada komentar: