Ditegur 'Jangan Berisik' Pemuda Jadi Bulan-bulanan


CIANJUR- Sungguh naas yang dialami oleh keluarga Ade Jannah (40) warga Jalan Raya Cikalongkulon-Jonggol, Kecamatan Cikalongkulon, Cianjur. Bagaimana tidak, pada Senin (28/3) dini hari lalu, ia beserta keluarganya harus mengalami kejadian tidak menyenangkan hanya karena mengingatkan sekelompok pemuda yang saat itu tengah asyik nongkrong di warung sebelah rumahnya untuk tidak berisik.
Bukan tanpa alasan, saat itu memang jarum jam sudah menunjuk di pukul 03:00 dimana seharusnya orang terlelap untuk beristirahat dan bukan melakukan aktivitas.
"Saya tidak gentar, saya bilang saja 'apakah tidak malu mau menghadapi seorang wanita yang sudah tua seperti saya?'," cetus Ade mengingat-ingat kejadian pahit itu.
Bukannya sadar, sekelompok pemuda tak kenal etika dan sopan santun itu malah menantang balik Ade yang kala itu merasa cukup kelelahan dan ingin segera beristirahat dengan tenang di rumahnya. Entah apa yang ada dipikiran mereka, rumah Ade kemudian digedor hingga menggangu dan meresahkan seluruh penghuninya. Putra bungsu Ade, Yanto (22) yang tengah tertidur terpaksa harus terbangun akibat tingkah pola para pemuda tersebut.
Lama-lama, habislah kesabaran Yanto. Ia pun mengambil sebilah golok untuk menggertak para pemuda tersebut.
"Siapa yang tidak marah ibunya diperlakukan seperti itu. Saya cuma mau membela keluarga. Tapi golok itu saya bawa bukan untuk tujuan menghilangkan nyawa orang lain, cuma menggertak saja biar tidak bertindak seenaknya," ujar Yanto dengan mata berkaca-kaca.
Sebilah golok yang masih dalam keadaan terbungkus itu kemudian diamankan oleh Ade. Saat Ade tengah menyimpan benda tajam tersebut ke dalam rumahnya, tiba-tiba ia mendengar teriakan. Ternyata, putranya Yanto sudah tertelungkup tak berdaya akibat dipukuli oleh beberapa pemuda yang sebelumnya asyik nongkrong. Sudah banyak dan semakin banyak, justru kelompok pemuda yang menggulung Yanto malah memanggil pemuda lainnya yang masih nongkrong di warung.
Terus berdatangan dan boleh dikatakan sudah melakukan penganiayaan massal. Namun, tindakan anarkis itu mereda setelah salah seorang tokoh pemuda yang cukup disegani, Usup datang menghampiri.
 "Sambil menganiaya anak saya, ada yang kedengaran mengucapkan sesuatu seperti berniat membunuh anak saya. Mungkin merasa belum puas, mereka merusak genteng rumah saya,"timpal Ade.
Ade memang diketahui tinggal bersama sumaninya, Aep (55) dan empat orang anaknya, yakni Samsiah (33), Santi (26), Hasan (26) dan Ujang Yanto (22). Aep yang sudah lanjut usia, kini sudah sering sakit-sakitan. Bukan hanya Aep, Santi juga mengalami hal yang sama.
Perlakuan tak menyenangkan yang ia alami seolah kian menambah beban penderitaannya.
"Jangankan untuk berobat, buat makan sehari-hari saja sudah susah. Karena itu kami harus pintar-pintar jaga kesehatan biar bisa cari uang," keluh Ade.
Putra Ade yang juga kakak kandung Yanto, Hasan yang mendengar kabar tersebut saat berada di Bandung jelas merasa tak terima. Ia pun mengantar Yanto ke RSUD Syamsudin pada Senin (28/3) kemarin untuk melakukan visum. Yang membuat Hasan tak habis pikir, masih ada orang yang tak memakai etika dan norma saat diingatkan oleh orang tua, malah balik menghina.
"Katanya pihak desa akan melakukan mediasi agar ini bisa dimusyawarahkan secara kekeluargaan. Saya hanya berharap agar para pelaku itu meminta maaf dengan tulus ke keluarga saya sebelum mereka mempertanggungjawabkan perbuatannya," tegas Hasan.
Namun demikian, raut wajah ketakutan begitu lekat di wajah keluarga Ade. Pasalnya, mereka yang amat awam dengan urusan hukum tersebut khawatir akan mengalami intimidasi hingga tindak kekerasan selanjutnya dari pihak-pihak yang merasa tidak senang. Mereka ketakutan bukan lantaran merasa bersalah, melainkan tak ingin ketenangan keluarga terusik akibat menuntut keadilan.
Bahkan saat diwawancarai, dengan jujur Ade mengaku, sangat ketakutan keluarganya diintimidasi dan diancam oleh sekelompok pemuda yang telah menganiaya anaknya itu.
"Ketakutan ibu sangat beralasan, tidak ada yang bisa menjamin keselamatan kami kalau bukan diri kami sendiri dan keluarga yang mengingatkan. Tapi, kalau tidak begini selamanya kami akan dipandang rendah," sambung Hasan.(lan)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top