Radar Cianjur »
Cianjur Raya
»
Petani Sukaluyu Gagal Panen
Petani Sukaluyu Gagal Panen
Posted by Radar Cianjur on Kamis, 31 Maret 2016 |
Cianjur Raya
SUKALUYU – Masa panen pada tahun 2016 ini, bagi sebagian besar petani yang ada di Desa Tanjungsari, Kecamatan Sukaluyu, bukan merupakan masa panen yang baik. Kebanyakan dari mereka mengalami gagal panen akibat padi terserang penyakit blas atau bebeluk dalam Bahasa Sunda. Padi yang siap panen kondisinya tidak maksimal, sehingga pecah
menjadi 2 sampai 3 butir setelah digiling menjadi beras. Kini para petani hanya bisa pasrah dengan
kerugian padi yang kualitasnya jelek.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Tanjungsari, Yayan Sutarni, membenarkan kondisi ini, dan mengeluhkan kualitas beras yang menjadi butiran kecil atau bubuk. Akibatnya, pada masa panen ini, harga jual
padi tertinggi di petani hanya sekitar Rp3.400 per kilogram. Sebelumnya, upah yang diberikan kepada pemanen sebesar Rp500 sampai Rp700 atau 10 persen dari harga."Para petani saat ini merugi, hasil panen merosot tajam akibat terkena serangan blas. Kondisi padi tidak berisi dan menjadi pecah," ungkapnya kepada Radar Cianjur.
Berdasarkan keterangan yang didapat dari sejumlah petani warga setempat, serangan blas telah
berlangsung sejak beberapa minggu sebelum masa panen saat ini, dan kemungkinan hal tersebut
terjadi akibat musim hujan di malam hari yang terus mengguyur daerah Sukaluyu. Hektaran lahan sawah siap panen, bila terus diguyur hujan, akan jelek kualitas padinya. Dan terbukti, setelah dilakukan penggilingan menjadi beras, hasilnya tidak putih, menjadi buram, warnanya putih keabu-abuan, dan menjadi butiran-butiran kecil."Serangan hama dan penyakit sangat mengganas tahun ini, kondisi padi langsung rusak. Sejumlah petani
sudah berupaya membasmi hama, tapi ternyata tak
membuahkan hasil. Tetap saja penyakit blas muncul, dan kerusakan padi terjadi pada bagian ujung tangkai. Kondisi padi memang ada yang bagus, tapi sebagaian besar tidak berisi," terang Ujang (45), petani setampat.
Kepala Desa Tanjungsari,
Waldi Akbar Yacob, mengatakan bahwa sulit mengendalikan hama dan penyakit seperti ini. Menurut infrormasi yang disampaikan kepada pihaknya, curah hujan tidak merata, sehingga berdampak pada munculnya hama dan penyakit, apalagi hujan di malam hari yang menyirami hektaran padi siap panen."Secara umum, hama dan penyakit masih bisa dikendalikan dan tidak berdampak pada proses pelaksanaan masa panen," ujarnya. (mat)
Populer
-
Abdulatif BEBERAPA wilayah di Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi Pilkada serentak, tepatnya hari Rabu pada tanggal 27 Ju...
-
CIANJUR-Tak henti-hentinya satuan narkoba Polres Cianjur memberantas peredaran narkoba diwilayah hukumya. Senin(14/03) dua orang pengedar...
-
SAMBUTAN: Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar berikan sambutan dalam workshop mamaos DKC di Taman Pancaniti Cianjur. FOTO : DENI ABDUL ...
-
SETELAH meraih peringkat ketiga di Piala Presiden 2017, Persib Bandung mulai merancang agenda lanjutan untuk mengisi kekosongan jelang tam...
-
PELAYANAN persampahan kebersihan dipungut retribusi atas pelayanan pengelolaan di daerah. Retribusi dikenakan kepada kepala keluarga ata...
-
Warga Cibiuk Tolak Pabrik CIRANJANG – Warga Kampung Andir RT01/09, Desa Cibiuk, Kecamatan Ciranjang , mengeluhkan proses pelaksana...
-
CIANJUR-Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Cianjur membatasi dana kampanye masing-masing pasangan calon peserta pemilihan bupati dan wakil b...
-
GEKBRONG – Dibalik jabatannya sebagai ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Songgom, Kecamatan Gekbrong, Muhammad Ahmad Jalal...


Tidak ada komentar: